Kebun Bambu Tempat Pembuangan Sampah Ini Disulap Jadi Wisata yang Sajikan 144 Jenis Jajanan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 17 Juni 2018 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 13 406 1909991 kebun-bambu-tempat-pembuangan-sampah-ini-disulap-jadi-wisata-yang-sajikan-144-jenis-jajanan-gL3mcS7iQ9.jpg Pasar Pampringan (Ig)

LEBARAN telah usai, saatnya kita meliburkan diri sejenak sekaligus menghabiskan cuti hari raya. Tentunya Anda tengah merencanakan jadwal untuk bersiap mudik ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu sanak keluarga.

Momen bertemu dengan keluarga besar tentunya tidak akan afdol jika Anda tidak merayakannya dengan berwisata ke suatu tempat. Bagi Anda yang ingin merasakan berwisata dengan keindahan alam yang masih asri, Anda bisa mencoba untuk datang ke Pasar Papringan yang terletak di Temanggung.

 Baca juga: Hadapi Lebaran, Ini Cara Mudik Band Pelantun Lagu Terlatih Patah Hati

Pasar Pampringan (Instagram)

Seperti namanya, Pasar Papringan ini merupakan sebuah kebun bambu yang dulunya tidak terurus. Awalnya lokasi ini merupakan tempat pembuangan sampah di desa. Masyarakat sekitar terlihat kebingungan dalam mengenali potensi desa mereka yang sebagian besar adalah kebun bambu. Namun, dengan inisiatif dan kreatifitas yang besar, kebun bambu yang awalnya terlantar tersebut disulap menjadi sebuah pasar tradisional.

Berbeda dengan pasar pada umumnya yang menjual beraneka macam bahan pangan mentah, pasar ini hanya menjual jajanan-jajanan tradisional khas setempat. Menu makanan di Pasar Papringan juga beragam, sekiranya terdapat 144 macam jenis makanan yang siap untuk di cicipi pengunjung.

 Baca juga: Pramugari Bocorkan Kelakuan Penumpang yang Berhubungan Intim di Pesawat

Lebih uniknya lagi, Pasar Papringan ini hanya beroperasi pada Minggu wage dan Minggu pon. Waktu berjualannya pun sangat singkat yakni pada pukul enam pagi hingga 12 siang. So, untuk para pengunjung harus bersiap untuk mendatangi pasar ini pada pagi hari, agar tidak kehabisan makanannya.

 Pasar Pampringan (Instagram)

Mungkin memang sedikit janggal dan menjadi sebuah tanda tanya besar, mengapa pasar ini tidak beroperasi setiap minggunya? Adalah Fransisca Callista, Sosok yang melatar belakangi adanya Pasar Papringan. Ia menjelaskan alasan utama yang membuat pasar ini tidak beroperasi setiap minggu karena tujuannya bukanlah untuk mencari keuntungan.

 Baca juga: Kompaknya Para Ayah Ini, Style Kembaran dengan Jagoannya

“Pasar ini tidak buka setiap minggu karena bukan ekonomi yang dicari, tapi peningkatan kualitas. Jadi di sela-sela waktu luang, kami mengadakan pelatihan dan briefing kepada masyarakat sekitar supaya bisa lebih baik lagi dalam mengembangkan kebun bambu ini,” tegas Fransisca, saat ditemui Okezone di Resto Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat.

Fransisca juga menjelaskan bahwa wisata ini bertujuang untuk meningkatkan kualitas masyarakat yang hidup di dalamnya. Selain itu kegiatan ini diharapkan bisa menyadarkan masyarakat untuk memanfaatkan kebun bambu yang sebelumnya dipandang sebelah mata, menjadi sebuah destinasi wisata yang sangat menguntungkan.

Meski belum begitu populer, namun para pengunjung yang berasal dari berbagai daerah rela datang untuk merasakan sensasi kuliner bernuansa kebun bambu. Penjual makanan di pasar ini 100% masyarakat lokal yang tinggal di desa.

Tak hanya membekali masyarakat dengan kekreatifan, Fransisca juga mengajarkan tentang kebersihan dan cara merawat lingkungan agar tetap asri.

“Kami melakukan berbagai pelatihan tentang kebersihan lingkungan dan semacamnya. Pasar ini mengadopsi sistem zero plastik waste. Untuk mengurangi tingkat produksi sampah. Sebagai gantinya bisa pakai daun pisang batok kelapa dll,” ucap Fransisca, sebagaimana dihimpun Okezone.

Fransisca sendiri mengaku cukup berhasil dalam upayanya membangun Pasar Papringan yang kini menjadi salah satu objek wisata Instagramable di Temanggung. Ia menilai peran serta masyarakat lokal dan kerjasama yang terjalin dengan baik, menjadi kunci keberhasilan Pasar Papringan.

“Di pasar ini ada penggerak lokal yang membuat perasaan tumbuh dan ikut membangun sejak awal. Pasar Papringan berawal dari permasalahan, namun dengan adanya kolaborasi dan kerjasama, kini bisa memiliki akar yang kuat,” tutupnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini