Musim Kemarau, Embun Beku di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Kembali Viral

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 26 Juli 2018 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 26 406 1927775 musim-kemarau-embun-beku-di-taman-nasional-bromo-tengger-semeru-kembali-viral-T1p1BWaB2q.jpg Bromo Tengger (Foto: Instagram/Langit_mahameru3676)

JULI hingga Agustus 2018 ini dikabarkan jadi puncak musim kemarau di Indonesia. Beberapa daerah bahkan terasa lebih dingin saat malam hari bahkan embun membeku dan suhu rendah pun terjadi.

Namun, dari sekian daerah yang mengalami suhu rendah dan terjadi embun membeku ada satu daerah yang menjadi sorotan, karena viral di media sosial. Ya, daerah tersebut adalah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, yang hari ini, tepatnya pagi tadi kembali mencengangkan warganet.

BACA JUGA:

 Kenalin Nih Tukang Sunat Tercantik Sedunia, Mau Disunat Lagi?

Bagaimana tidak, taman nasional yang luasnya mencapai lebih dari 50 hektar tersebut kembali mengalami embun yang membeku hingga menutupi permukaan dedaunan. Tidak hanya cukup sampai di situ saja, sebab rerumputan pun tidak luput dari embun yang menjadi es.

Oleh karena embun yang turun ke bumi langsung menjadi es dan membeku, maka pemandangan yang semula hijau berubah menjadi putih, layaknya salju yang turun di negeri-negeri Eropa. Tepat di kawasan Danau Ranupani, Taman Nasiona Bromo Tengger Semeru, suhu udara pagi tadi mencapai minus empat.

 

Diunggah ulang dan disebarkan oleh akun Instagram @gunungindonesia, Kamis (26/7/2018), video dan foto kondisi Ranupani yang mendingin mendadak jadi viral. Tertulis dalam keterangan video, saking dinginnya kuku-kuku terasa seperti mau copot. Embun yang berubah jadi es menyelimuti permukaan dedaunan dan semak nampak seperti duri berwarna putih yang cantik.

Baca Juga :

Sejak diunggah pagi tadi, video dan foto kondisi membekunya kawasan Ranupani langsung mendapat perhatian netizen, hingga disukai oleh 8.700 lebih netizen dan dikomentari lebih dari 300 warganet. Pendaki gunung yang hendak melakukan ekspedisi pun diimbau untuk melakukan persiapan yang lebih matang daripada biasanya, karena tentu cuaca ekstrem ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan keselamatan pendaki.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini