Menyusuri Taman Nasional Betung Kerihun, Surga Tersembunyi di Batas Negeri

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 06 Agustus 2018 20:17 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 06 406 1932543 menyusuri-taman-nasional-betung-kerihun-surga-tersembunyi-di-batas-negeri-oJqlCxzxV0.jpg Taman Nasional Betung Kerihun (Foto: Ist)

Berbasis Kearifan Lokal

Sejauh ini terdapat 200 ha kawasan hutan konservasi di zona tradisional yang dikelola melalui kemitraan dengan masyarakat dan penguatan kelembagaan adat di koridor TNBK. Meski awalnya tidak tertulis, kearifan lokal selalu terdapat dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, dari aturan seharihari, pergaulan sosial, adat istiadat sampai pengelolaan sumber daya alam. Sampai saat ini pemenuhan kebutuhan kayu untuk rumah tangga dan keperluan lain kerap menjadi salah satu alasan masyarakat Kapuas Hulu menebang pohon dari kawasan. Itu sulit terhindar karena keberadaan warga jauh lebih dulu dari penetapan status taman na sio nal.

TNBKDS, bersama Pemkab Kapuas Hulu, membina sejumlah desa di daerah penyangga kawasan konservasi untuk menghindari konflik serta memenuhi hak kelola warga setempat. Namun, tetap mengedepankan konservasi.

Sejumlah program partisipasi masyarakat yang sudah dilakukan, di antaranya, pendirian kampung wisata, organisasi pemuda dan masyarakat sadar wisata, komunitas petani lebah madu hutan, hingga pembuatan instalasi biogas dari limbah ternak untuk bahan bakar memasak kue ataupun kuliner khas Kapuas Hulu, seperti dodol, kerupuk basah, kerupuk rebung dan lain-lain. Program lainnya ada lah mengorganisir masyarakat adat yang berada di seki tar kawasan dalam mengelola dan melestarikan 20 danau adat, termasuk Danau Sentarum.

“Saya paling se nang ikut masyarakat adat panen ikan di danau. Seru sekali. Sekali panen bisa ratusan ton. Hasil dari panen ikan itulah yang kemudian digunakan untuk keperluan masyarakat adat. Apabila me reka butuh ba han bakar penggerak mesin diesel untuk listrik di kampung nya, bisa pa kai uang dari hasil panen ikan ta di,” ujar Bupati Kapuas Hulu AM Nasir saat dibincangi tim Teras Indonesia KORAN SINDO di kediaman nya di Pontianak.

 

Membumikan NKRI

Isu pengelolaan kawasan perbatasan membuat TNBKDS menjadi target kebijakan Pemerintah Indonesia untuk pem ba - ngunan sarana dan prasarana. Ada 12 desa dalam kawasan TNDSdan2desadidalamTNBK, yang keseluruhan pen du duknya selama ini hidup harmonis dan secara arif menjaga kawasan. Di 12 desa itu be bera pa subetnis Dayak mendiami Danau Sen tarum: Dayak Iban dan Dayak Tamambaloh di ba gian barat kawasan; Dayak Taman, Da yak Kantuí, Da yak Kayan, Da yak Bukat di ba gian tengah; dan Da - yak Punan Hovongan di ba gi an timur ka wasan.

Kelompok masyarakat adat (Dayak) ini rata-rata masih menghuni rumah Betang (panjang), yang panjangnya lebih dari seratus meter. Terbuat dari kayu padat ber kualitas tinggi, rumah-ru mah panjang itu dihuni pu luh an keluarga dan menjadi pusat kehidupan serta aktivitas ma sya rakat Dayak. Di waktu-waktu tertentu pengunjung bisa men jumpai upacara Gawai Da yak, sebuah ungkapan syukur kepada Jubata (Tuhan) karena masyarakat mendapatkan panen berlimpah, sekaligus meminta agar panen berikutnya akan makmur. Bagi masyarakat Kapuas Hu lu, terutama Suku Dayak yang tinggal di rumah panjang, keberadaan sungai merupakan denyut nadi kehidupan sekaligus akses transportasi yang meng hubungkan mereka dengan dunia luar.

Putussibau sebagai ibu kota Kabupaten Ka - puas Hulu, yang terpisah jarak sekitar 800 km dari Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, menjadi gerbang utama tujuan ekowisata ke TNBKDS. Pintu lainnya bisa diakses lewat Serawak, Malaysia, yang berbatas an langsung dengan Kecamatan Badau, Kapuas Hulu,“ Tugas utama TNI di daerah perbatasan menjaga kedaulatan negara sekaligus meyakinkan masyarakat perbatasan bah wa negara hadir dan memerhatikan mereka,” kata Danyon 320/Badak Putih Letkol Inf Imam Wicaksana. Imam ber sama anggotanya mendapat giliran tugas menjaga pintu per - batasan RI-Serawak, Malaysia, selama 9 bulan ke depan.

 BACA JUGA:

Festival Budaya Dieng 2018, Sebelum Dicukur Anak Gimbal Dijamas

Ditetapkan sebagai Cagar Biosfer

Pada Sidang Ke30 International Coordinating Council (ICC) Man and Biosphere (MAB) Unesco, kawasan TNBKDS secara resmi dikukuhkan menjadi cagar biosfer baru dengan nama Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentrum Kapuas Hulu. Pengukuhan itu ber langsung di Palembang, Sumatera Selatan, pada 25 Juli lalu. Penghargaan ini menjadi bukti komitmen Kabupaten Kapuas Hulu dan TNBKDS dalam menjaga ke les tarian alam, sehingga men da patkan du - kung an dan peng akuan internasional.

“Disepakatinya status cagar biosfer ini antara Pemerintah Daerah Kapuas Hulu, Peme rin - tah Provinsi Kalimantan Barat, serta BBTNBKDS telah melalui proses panjang dan saling me - ya kinkan. Status cagar biosfer merupakan sebuah kebutuhan mengingat komitmen kita ada - lah sama, yakni memadukan anta ra pembangunan dengan ke lestarian kawasan hutan,” kata Kepala Balai Besar TNBKDS Arief Mahmud. Sekadar untuk diketahui, ratusan ribu penduduk di Ka puas Hulu masih sangat ber gantung pada kelestarian hu tan, baik pemanfaatan hasil hu tan bukan kayu (HHBK) seperti gaharu, madu, maupun potensi satwanya seperti ikan, potensi airnya, hingga potensi wisatanya.

Masya rakat adat yang hi dup di dalam kawasan telah diakomodasikan dalam zona tradisional dan zona khusus serta zona peman faatan. Artinya, masyarakat tetap dapat me manfaatkan dan mengelola hutan sesuai kaidah konservasi sehingga tercipta kelestarian. Aktivitas mereka pun terjamin aturan yang berlaku.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini