Ketika Langit Dieng Berhias 5.000 Lampion pada Suhu 5 Derajat Celcius

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Rabu 08 Agustus 2018 21:28 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 08 406 1933759 ketika-langit-dieng-berhias-5-000-lampion-pada-suhu-5-derajat-celcius-RsVIpVQBTV.jpeg Pesta lampion di Dieng Culture Festival 2018

SATU tahun sekali, langit di kawasan wisata Candi Arjuna, Dieng diwarnai dengan ribuan lampion yang mengudara. Pemandangan ini bisa disaksikan setiap bulan Agustus dalam acara Dieng Culture Festival (DCF).

Tahun ini menjadi salah satu perayaan DCF dengan suhu yang cukup ekstrem. Dalam balutan jaket tebal dan beragam penutup kepala, puluhan ribu pengunjung harus menahan hawa dingin dalam suhu 5 derajat Celcius pada Sabtu malam, 4 Agustus 2018.

Namun tentunya hal ini bukan sebuah hambatan untuk menyaksikan konser musik “Jazz Atas Awan” dan juga pesta lampion yang telah dinantikan selama ini. Pengunjung tak hanya memadati area lapangan berpagar di depan panggung utama, tetapi juga di luar pagar sambil mencoba menghangatkan diri menggunakan caranya masing-masing.

 (Baca Juga:Italia Jadi Tujuan Bulan Madu Tasya Kamila dan Randi Bachtiar, Intip Keseruannya!)

Pengunjung yang membayar tiket memiliki keuntungan duduk di dalam lapangan dan menghangatkan diri dengan puluhan tungku perapian yang disiapkan oleh panitia. Sesekali mereka memasukkan kayu bakar untuk menjaga api tetap menyala di tengah hawa dingin yang menusuk hingga tulang.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh Hiroaki Kato, penyanyi asal Jepang sedikit mampu menghangatkan suasana, di mana ia aktif membuat pengunjung bernyanyi bersama. Usai Kato menyanyikan beberapa lagu, tiga Master of Ceremony (MC) membuat pengunjung penasaran karena enggan menyebutkan band mistery guest yang akan tampil malam itu.

 

"Tersabut kabut malam, terbiasnya harapan yang tersimpan sejuta bertuan. Terasa kerinduan hati yang bimbang, yang terhempas kepastian cinta..." suara Noe, vokalis band Letto membuat penonton seketika menjerit dan ikut melantunkan sisa lagu.

 (Baca Juga:8 Fakta Kehidupan Putri Diana yang Belum Banyak Diketahui Orang)

Kehadiran Noe yang malam itu membawakan lagu-lagu hits Letto seolah melampiaskan kerinduan hampir semua penonton pada band asal Jogja tersebut. Suara merdu Noe dan lirik-lirik tentang cinta yang dihapal hampir semua penonton menciptakan romantika di ketinggian sekira 2.000 mdpl tersebut.

Sesekali ia berinteraksi dengan penonton menggunakan bahasa Jawa. Pertanyaan-pertanyaan dan celotehnya tentang cinta mampu membuat penonton terbawa perasaan dan bersorak di tengah terpaan kabut di tempat berjuluk Negeri di Atas Awan.

"Lampionnya jangan dinyalakan dulu. Nanti kita akan nyalakan bersama-sama. Kalau dinyalakan sekarang bisa berbahaya buat penonton lain," pesan Noe dari atas panggung.

 

Beberapa lagu andalan seperti Permintaan Hati, Ruang Rindu, Sandaran Hati, Cinta...Bersabarlah, Sampai Nanti Sampai Mati, sukses dinyanyikan bersama penonton. Putra sulung Budayawan Emha Ainun Nadjib ini menutup penampilannya dengan lagu hitsnya, Sebelum Cahaya.

"Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum cahaya..."

Bersamaan dengan lagu terakhir Letto, penonton bersiap menyalakan lampion beraneka warna. "Sebelum menerbangkan lampion, pikirkan harapan Anda," ujar seorang MC.

Ada yang kesulitan menyalakan lampion di tengah hembusan angin, ada pula yang gagal menerbangkan lampion. Namun menikmati lampion yang berhasil terbang memberikan kepuasan bagi yang melihatnya. Ribuan lampion pun mengudara dan menghiasi langit di kompleks Candi Arjuna.

 

Belum usai pesta lampion, mistery guest kedua, The Rain melanjutkan tugas Noe dan kawan-kawan untuk menghibur pengunjung. Lagu Terlatih Patah Hati dan Sepanjang Jalan Kenangan dibawakannya dengan koor samar-samar penonton.

Festival yang masuk dalam Top 100 Calendar of Events Kementerian Pariwisata ini tak pelak memberi rasa bahagia dan romansa serta pengalaman yang tak biasa bagi para pengunjung. Dieng Culture Festival 2018 digelar pada 3-5 Agustus 2018.

Menjadi salah satu festival paling menyedot banyak pengunjung di Tanah Air, tak serta merta membuat DCF di tahun ke-9 ini bisa diselenggarakan dengan sempurna. Salah satu kekurangan yang dirasakan penonton adalah keterbatasan toilet portabel yang disediakan. Dengan dua toilet portabel tahun ini, antrean ratusan pengunjung yang mengular memaksa mereka berdiri hingga 1,5 jam.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini