Antusiasme Turis Asing saat Berpose dengan Mayat di Festival Ma'nene Toraja

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 26 Agustus 2018 17:34 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 26 406 1941599 antusiasme-turis-asing-saat-berpose-dengan-mayat-di-festival-ma-nene-toraja-OKAUTI8ECf.jpg Festival Ma'nene di Toraja (Foto: Sijori Images/Barcroft Media)

DAYA tarik Indonesia tidak hanya terpaku pada keindahan alamnya yang begitu memesona, keragaman budaya Nusantara juga menjadi salah satu alasan para wisatawan macanegara berkunjung ke Tanah Air. Apalagi mendekati akhir tahun, ada banyak sekali festival budaya yang dapat disaksikan wisatawan.

Salah satunya adalah Festival atau Ritual Ma'nene di Toraja, Sulawesi Selatan. Festival tersebut memungkinkan para wisatawan untuk melihat secara langsung ritual pembersihan mayat berusia ratusan tahun oleh penduduk lokal.

Festival ini biasanya diselenggarakan mulai tanggal 20-30 Agustus sesuai dengan wilayah yang menyelenggarakannya. Seperti Desa Lembang Lempo Poton yang baru saja melaksanakan ritual Ma'nene, beberapa waktu lalu.

 (Baca Juga:Mengenal Aldila Sutjiadi Lebih Dekat, Petenis Muda yang Sumbang Emas untuk Indonesia)

Menyadur laman The Sun, Minggu (26/8/2018), para turis asing terlihat antusias mengikuti serangkaian ritual yang dipimpin oleh kepala adat. Beberapa di antara mereka bahkan mengambil foto bersama mayat yang baru saja dibersihkan dan didandani.

Tidak hanya itu, mereka juga melihat secara langsung mayat atau mumi-mumi tersebut berjalan dengan sendirinya, mengikuti sebuah garis lurus yang telah disiapkan oleh kepala adat.

 

Menurut mitos, garis-garis itu terhubung dengan Hyang, sebuah entitas spiritual yang memiliki kekuatan supranatural. Konon katanya, jiwa orang yang telah meninggal harus mengikuti jalan Hyang untuk mencapai akhirat.

 (Baca Juga:Inikah 5 Tempat yang Diyakini Jadi Pintu Gerbang Kerajaan Nyi Roro Kidul?)

Orang-orang Toraja percaya bahwa hubungan keluarga tidak berakhir pada kematian. Oleh karena itu, pada saat ritual Ma'nene berlangsung, mayat keluarga, kerabat, dan teman-teman mereka akan dikeluarkan dari tempat penyimpanan lalu dimandikan serta didandani dengan pakaian baru dan mewah.

 

Semua prosesi ini harus dilakukan dengan suka cita, karena menangis atau menunjukkan perasaan berkabung sangat dilarang.

Setelah menuntun mayat ke tempat perisitirahatan terakhir, penduduk akan mengorbankan tedong (kerbau) dan babi sebagai bentuk persembahan agar para arwah bisa berjalan bebas menuju surga. Peti yang rusak juga akan diperbaiki atau diganti.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini