Pesona Air Terjun Kulukubuk di Siberut & Cerita Seorang Ibu Jadi Batu

Rus Akbar, Jurnalis · Jum'at 05 Oktober 2018 13:25 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 05 406 1960092 pesona-air-terjun-kulukubuk-di-siberut-cerita-seorang-ibu-jadi-batu-MwhT6LWEUH.jpg Air terjun Kulukubuk di Mentawai (Foto:Rus/Okezone)

DARI balik rimbunan pohon terdengar suara cipratan air turun ke bawah yang menyeruak dari atas batu, desiran itu terdengar sejauh 50 meter tergolong kecil karena saat mengungjungi daerah itu dalam cuaca cerah.

Air terjun Kulukubuk memiliki pesona tersendiri di pedalaman Pulau Siberut, air terjun ini berlokasi di Dusun Kulukubuk, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Salah satu destinasi wisata baik manca negara maupun lokal.

Air terjun yang memiliki ketinggian sekira 30 meter masih alami, bahkan untuk mengakses ke daerah tersebut harus menempuh jalan setapak penuh dengan lumpur dan melewati dua sungai kecil yang merupakan aliran dari air terjun tersebut.

 

Batu-batu liat akan menghiasi perjalanan menuju ke lokasi air terjun. Harus hati-hati pasalnya batu yang menjadi pijakan sangat licin dan mudah tergelincir jika pijakan tidak bagus.

(Baca Juga: Masih Berbohong di Usia Senja, Apakah Ratna Sarumpaet Mengalami Post Power Syndrome?)

(Baca Juga: Astaga Kelakuan Netizen, Ramai-Ramai Pamer Bokong di Objek Wisata Bali)

Saat memasuki tempat air terjun itu akan menemukan dinding leter U dibalut lumut hijau dan pohon-pohon besar kecil serta lubuk yang dalam dan batu-batuan yang lunak. Bagian depan air terjun akan jelas begitu airnya jernih dari perbukitan di daerah Kulukubuk. Saat mandi airnya pun sangat sejuk dan sedikit dingin.

Lubuknya berdiameter sekira 100 meter setiap sisi dikelilingi bebatuan yang lunak, tidak diketahui berapa kedalaman lubuk, beberapa warga yang ditanyakan tidak bisa mengukur dalamnya namun tidak dapat ukuran pasti.

 

Menurut Walter (60) salah satu tokoh masyarakat di daerah tersebut, dulu sebelum  dijadikan tempat wisata, warga setempat tidak berani mengakses ke lokasi tersebut, karena menurut masyarakat setempat daerah angker. “Dulu pertama yang mengungjungi areal itu hanya turis asing yang datang, bahkan turis ada yang meninggal di lokasi itu karena melompat dari atas air terjun,” ujarnya.

Kenapa masyarakat tidak berani mengunjungi lokasi tersebut, karena ada cerita rakyat yang menjadikan lokasi itu diyakini angker. “Dulu namanya Bat Oinan (sungai), saat itu ada dua oran perempuan pergi pangisou (mencari ikan tengah malam menggunakan obor atau sejenisnya) saat sampai di lokasi air terjun mereka melihat ada yang sangat putih, dalam pemikiran mereka saat itu adalah pasir,” tutur Walter.

Seorang dari mereka mencoba turun dari atas puncak air terjun yang dikira pasir, namun setelah terjun ke bawah sesampai di dasar air terjun itu malah tidak bisa keluar. Setelah terbenam, perempuan lainnya  langsung pulang  ke rumah.

“Namun sebelum seorang ibu itu pergi, temannya yang tenggelam itu berpesan, jika air terjun itu menderuh pada malam hari itu tertanda penyakit, tapi jika menderuh sungai tengah malam pertanda ada musuh yang akan datang menyerang mereka. Tapi jika air terjun itu menderuh pada fajar itu tandanya musim buah akan datang,” ujarnya.

Sesampai di kampungnya perempuang itu mengabarkan kepada suami yang malang tersebut, namun setelah mereka kembali ke lokasi air terjun itu. Perempuan malang tersebut sudah berubah menjadi batu yang bersujud di lubuk air terjun tersebut. “Suaminya pasrah karena beberapa kali menyelam mereka tidak bisa sampai ke dasar sungai tersebut,” ulas Walter.

Kalau dari atas nampak jelas batu berupa wujud perempuan tersebut, meski jelas tapi tidak seorangpun yang sampai di dasarnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini