11 Destinasi Lokasi Surfing di Indonesia Akan Jadi Tuan Rumah Kejuaraan WSL 2019

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Rabu 21 November 2018 23:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 21 406 1980941 11-destinasi-lokasi-surfing-di-indonesia-akan-jadi-tuan-rumah-kejuaraan-wsl-2019-2LnLYc2bIl.jpg Wisatawan berselancar di Pantai Tanah Lot, Bali (Foto: Utami Evi Riyani/Okezone)

INDONESIA patut berbangga karena 11 lokasi surfing terbaiknya akan menjadi tuan rumah untuk kejuaraan World Surf League 2019. Tahun 2019 merupakan tahun kedua Indonesia berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut.

Ke-11 destinasi tersebut adalah Pantai Yoyo di Sumbawa Barat (2-7 April 2019); Ujung Bocur di Krui, Lampung (15-20 April 2019); Lance's Right di Mentawai (23-28 April 2019); Pantai Keramas di Bali (13-24 Mei 2019); Dylan's Right di Simeulue (18-23 Juni 2019), Cimaja Point di Cimaja (16-21 Juli 2019); Watukarung di Pacitan (23-28 Juli 2019); Halfways Pantai Kuta (13-17 Agustus 2019); Pantai Segar di Mandalika Lombok (21-25 Agustus 2019); Lagundri Bay di Nias (9-15 September 2019); Pantai Boa di Rote (15-20 Oktober 2019).

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kemenpar, Indroyono Soesilo mengatakan ini adalah kesempatan yang bagus untuk Indonesia maju sebagai destinasi surfing dunia. Apalagi ajang WSL selalu disiarkan melalui berbagai platform termasuk secara live streaming.

 (Baca Juga:5 Fakta Masakan Padang yang Jarang Diketahui)

(Foto: Utami Riyani/Okezone)

"Karena ini kan banyak milenial, pengikutnya juga banyak. Jadi para peselancar yang nonton live streaming banyak. 35 juta peselancar dunia jika melihat lokasinya di mana, mereka langsung mencari," tutur Indroyono saat ditemui dalam workshop World Surf League di Jakarta baru-baru ini.

Menurut Indroyono, para peselancar termasuk jenis turis yang tidak mudah menyerah dalam mencapai destinasi tujuannya. Mereka tak masalah dengan jarak dan perjalanan yang lama demi mendapatkan ombak yang bagus. Mereka juga tak begitu terpengaruh pada isu ekonomi, politik, bahkan bencana alam di Indonesia. Inilah yang akan dimanfaatkan untuk menjaring kunjungan wisawatan mancanegara (wisman) tahun depan.

"Mereka itu mau cari ombaknya. Ke Krui itu enam jam perjalanan motong Bukit Barisan, itu orang datang. Apalagi kalau bandara Taufik Kemas jadi," lanjut Indroyono.

 (Baca Juga:Terlalu Lama Mengetik Pakai Keyboard Komputer? Waspada Serangan Carpal Tunnel Syndrome)

Ia menambahkan, Indonesia masih menjadi destinasi surfing dengan ombak terindah nomor satu di dunia. Meski nama Hawaii dan Pantai Copacabana di Brasil lebih populer, namun untuk urusan ombak untuk berselancar, Indonesia yang paling bagus.

"Enggak ada saingan, kita nomor satu. Orang tahunya Hawaii, tapi ombaknya kalah," ujarnya.

Sementara itu, Regional Manager World Surf League (WSL) Asia/Australia, Steve Robertson mengatakan bahwa WSL 2019 adalah kesempatan yang bagus untuk para atlet surfing Indonesia berkiprah di event olimpiade. Sebab, olahraga surfing telah resmi masuk ke dalam daftar olahraga yang akan dipertandingkan dalam Olimpiade Tokyo 2020. Beberapa peselencar berprestasi dari Indonesia adalah Rio Waida, Kailani Johnson, Mega Artana, dan Ketut Agudi.

"Kami ingin melalui event ini keindahan Indonesia bisa diceritakan kepada dunia. Juga banyak atlet berbakat dari Indonesia, ini jadi kesempatan yang bagus untuk masuk olimpiade," ujar Steve.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini