Mengagumi Kemegahan Reog, Kepala Macan dengan 1.100 Bulu Merak

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 25 Januari 2019 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 25 406 2009300 mengagumi-kemegahan-reog-kepala-macan-dengan-1-100-bulu-merak-px1gSzYrhR.JPG Reog. (Foto: Okezone)

RIBUAN bulu merak warna biru berserakan di lantai ketika memasuki rumah pembuatan reog Ponorogo. Bersamaan dengan itu, bau kulit sapi yang khas jadi penanda khusus sebelum Anda tahu proses membuat reog berukuran besar itu.

Di rumah Pengrajin Reog Sarju yang tersohor di Ponorogo, Okezone menilik langsung cara membuat reog yang ukurannya kurang lebih 3 meter. Rupanya, butuh waktu hampir satu minggu untuk membuat reog besar itu.

Penerus Pengrajin Reog Ponorogo Sarju, Agung mengatakan untuk membuat sebuah reog besar, lengkap dengan kepalanya, diperlukan waktu sekira 3-5 hari. Pembuatan reog yang dibantu oleh warga lokal ini memang bukan hanya untuk konsumsi domestik. Bahkan reog yang dibuat oleh Agung mampu menembus pasar Amerika.

Baca Juga: Transformasi Gaya Rambut Ahok, Gantengnya Gak Ilang-Ilang!

"Pesanan reog kepada kita selalu ramai. Selain untuk lokal, reog ini sudah dibawa ke Spanyol, Amerika Serikat, juga Asia Tenggara," ucap Agung dalam Fam Trip bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur di Ponorogo, baru-baru ini.

Adapun bahan utama untuk membuat reog ialah 1.100 bulu merak biru, asli dari India yang jadi andalannya. Kemudian ada gagang merak, bambu, dan rotan untuk membuat kerangka.

Sementara untuk bagian kepalanya, biasanya mengandalkan bahan kulit sapi dan masih dikombinasikan dengan bulu merak. Paling sering, kepala reog dibuat menyerupai harimau, yang ekspresinya garang. Dengan semua ornamen tersebut, tidak heran jika berat reog ini bisa mencapai 45 kg. Luar biasa kan para pemain reog ini!

Baca Juga: Pulang Kampung ke Magelang, Nafa Urbach Langsung Basah-basahan!

Satu reog, biasanya dibanderol mulai dari Rp14 jutaan sampai Rp38 jutaan, tergantung dari ukuran dan kualitas bahan yang diinginkan pembeli.

Di kesempatan sama, Duta Wisata Ponorogo Najih Muhammadiy menjelaskan, selain sebagai karya seni reog kental dengan legenda yang melekat, yakni percintaan Dewi Songgo Langit dan Prabu Sewandono. "Di aksara Jawa reog asalnya dari bunyi ro yo go, yang kemudian dibaca reog dalam Bahasa Indonesia," ucap Najih.

Sementara, di beberapa daerah masyarakat Jawa mengartikan reog sebagai ramai, karena asal katanya riyek atau diartikan ramai, kalau dilihat dari sisi penontonnya. Najih menambahkan, grup reog biasanya disewa untuk acara tradisional sampai ritual masyarakat sehari-hari, seperti hajatan pernikahan, bersih desa, festival budaya sampai acara penting lainnya.

Saat pertunjukan reog dihelat, melibatkan 25-100 orang atau seniman reog. Biasanya di Ponorogo tak cuma melibatkan kalangan orang tua, tetapi juga anak-anak diajari menari.

Satu kali pertunjukan butuh durasi sekira 30 menit sampai sang pemain reog puas menghibur penonton. Nah, kalau mampir ke Ponorogo jangan lupa menonton reog ya!

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini