Menilik Filosofi Patung Gajah Duduk di Kompleks Gua Sunyaragi Cirebon

Fathnur Rohman, Jurnalis · Selasa 19 Maret 2019 18:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 19 406 2032229 menilik-filosofi-patung-gajah-duduk-di-kompleks-gua-sunyargi-cirebon-tD6Z7Fmg2d.jpg Patung gajah duduk di Gua Sunyargi di Cirebon (Foto:Rohman)

JIKA berkunjung ke Kota Cirebon, mungkin tidak akan lengkap kalau tidak berkunjung ke Taman Sari Gua Sunyaragi. Tempat ini bisa juga disebut Gua Sunyaragi, dan menjadi destinasi wisata favorit di Cirebon.

Gua Sunyaragi sendiri terdiri dari berbagai gua buatan dan ruangan. Biasanya, gua-gua tersebut diberi nama, yang didalamnya mengandung makna tentang filosofi kehidupan.

Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah, sebuah patung gajah duduk yang terletak di dekat mulut Gua Peteng di Kompleks Gua Sunyaragi. Patung ini terbuat dari batu karang, dengan ketinggian sekitar 1,5 meter.

 

Menurut Pemerhati Budaya dan Sejarah Cirebon, sekaligus pengelola Gua Sunyaragi, Jajat Sudrajat menjelaskan, kalau patung gajah duduk tersebut, dulunya digunakan untuk menyemburkan air, saat para putra putri keraton yang sedang mandi di sekitarnya.

Baca Juga:

6 Pedagang Makanan Punya Badan Seksi, Nomor 6 Bikin Melek

Resmi Bertunangan, Intip Gaya Busana Mantan Bintang Porno Mia Khalifa Bersama Kekasih

Jajat mengungkapkan, pada zaman dahulu Gua Sunyaragi merupakan taman air yang dikelilingi oleh danau. Biasanya tempat ini akan digunakan oleh keluarga Keraton untuk menyucikan diri maupun bersemedi.

"Dulu Gua Sunyaragi ini adalah taman air di tengah danau, " kata Jajat, saat ditemui Okezone, Selasa (19/3/2019).

 

Lebih lanjut, Jajat menerangkan, patung gajah duduk memiliki hubungan erat, dengan dua buah lukisan burung yang terletak di sebelah utara, dan satu di sebelah selatan di atas ruang panembahan.

Dalam Bahasa Cirebon, patung gajah duduk dan lukisan burung tersebut memiliki pribahasa ‘kuntul umalayang anedaksi, gajah depa tanedaksi’, yang berarti, ‘burung kuntul pergi meninggalkan bekas, gajah tidur tidak meninggalkan bekas’.

Menurut Jajat makna filosofi yang terkandung didalamnya adalah, dua lukisan burung itu adalah simbol putra-putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, yaitu Pangeran Walang Sungsang serta Nyi Mas Rara Santang, yang memilih pergi dari Pajajaran, dan meninggalkan bekas berupa keturunan serta keraton-keraton Islam. Sedangkan patung gajah duduk, menandakan, jika bekas Kerajaan Pajajaran hingga saat ini tidak diketahui.

 

Terakhir, Jajat menambahkan, sebenarnya alasan mengapa lukisan burung di Gua Sunyaragi berjumlah dua, sedangkan anak Prabu Siliwangi ada 3, karena si bungsu atau yang biasa kita kenal dengan nama Kian Santang itu pergi, untuk membangun sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kota Sumedang. Padahal, dalam babad, ia merupakan pewaris sah tahta Kerajaan Pajajaran.

“Hanya dua yang meninggalkan bekasnya,” pungkasnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini