Pulau Siput Siap Jadi Destinasi Wisata Konservasi Dunia

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Rabu 27 Maret 2019 21:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 27 406 2035744 pulau-siput-siap-jadi-destinasi-wisata-konservasi-dunia-7n9kzuhrUp.jpg Pulau Siput di NTT (Foto:Koransindo)

PULAU Siput-Awu lolong di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur dikenal dengan keindahan hamparan pasir putihnya yang dihuni jutaan siput. Kawasan itu diyakini akan menjadi magnet wisata dunia.

Pemerintah Kabupaten Lembata yang dinakhodai Bupati Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Thomas Ola kini menempatkan sektor pari - wisata sebagai “Leading Sectors” pembangunan di sana. Bahkan, pemerintah kabupaten akan menjadikan Pulau Awulolong yang lazim disebut Pulau Siput, sebagai objek Wisata Konservasi yang akan dikelola secara baik. Mereka akan mengelola kawasan itu sebagai destinasi wisata dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal yang tidak merusak lingkungan, termasuk nantinya akan mencegah pencurian pasir yang marak dilakukan oknum. Namun demikian, tak berarti gagasan cemerlang dan brilian Pemkab Lembata mem - bangun “Kolam Apung” di Pulau Awulolong dengan ber - ba gai sarana dan prasarana tak ada rintangan.

Gagasan itu ternyata harus berhadapan dengan pro dan kontra sege - lintir kelompok masyarakat setempat. Persoalannya tak lepas dari masih kurangnya sosialisasi ke publik. Meski begitu, sejumlah suku memberikan dukungan ter ha - dap langkah-langkah pe me - rintah membangun Kolam Apung di Pulau Siput. Mereka meyakini itu dilakukan demi kemajuan pembangunan pari - wisata di Kabupaten Lembata tanpa menghilangkan budaya masyarakat mencari siput. “Membangun daerah, khu - sus nya Kabupaten Lembata, tidak bisa lepas dari rencana pembangunan nasional. Pariwisata adalah sektor yang ditargetkan secara nasional untuk peningkatan devisa negara. Ibarat gayung bersam - but, membangun pariwisata di Lembata harus bersinergi de - ngan pemerintah pusat,” tutur Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lembata Karolus Kia Burin.

Karena itu, sebagai bagian integral dalam pembangunan nasional yang memiliki potensi alam, budaya yang beragam, unik, dan menarik di sektor pari wisata, Pemerintah Kabu - pa ten Lembata melalui Dinas Ke budayaan dan Pari wi sata memang harus kreatif dan ino - vatif dalam pengembangan dan penataan Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang visitable dan marketable . Mereka harus mampu mengeksplor potensipotensi tersebut untuk ditam - pilkan sebagai Image Branding yang lain selain Komodo di La - buan Bajo, Manggarai Barat, un tuk kepariwisataan NTT, nasio nal, dan dunia. Itu semua agar Kabupaten Lembata mampu menjadi The New Destination Tourism .

Dalam rangka menciptakan Lembata sebagai The New Destination Tourism itulah diperlukan penataan dan pengembangan sektor pariwisata yang tepat dalam desain arah kebijakan, arah pembangunan, serta strategi dan penguatan perencanaan pembangunan pariwisata Kabupaten Lembata yang sinergi dengan kebijakan kepariwisataan nasional. Sejauh ini produk wisata yang dikembangkan di Ka bu - paten Lembata di antaranya alam, wisata bahari, adventure, extreme, budaya, warisan buda ya dan sejarah, kuliner tra vel village, acara budaya, serta wisata sport integrated tou rism. Pulau Siput yang ter - ke nal dengan nama Awulolong juga merupakan sebuah pulau alami yang mesti dikelola, ditata sebagai “Wisata Kon servasi” yang unggul dan menarik lewat pembangunan “Kolam Apung” dengan berbagai fasi litas dan sarana pendukung.

Baca Juga:

Liburan di Gunung Bersalju, Ini Beda Gaya Keseruan Princes Syahrini dan Luna Maya, Nomor 3 Paling Menohok

Kylie Jenner Keluar Tanpa Make Up, Tampilannya Beda Banget!

Ko - lam Apung yang bakal ram - pung dibangun itu punya daya tarik sendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Mereka dapat menikmati indahnya Pulau Siput berpasir putih dan masyarakat setem - pat dapat mencari siput atau kerang sebagaimana biasa, se - suai budaya yang turun-te mu - run. Karena itu, budaya ma - sya ra kat mencari siput pun di - pas tikan tidak akan hilang dengan kehadiran Kolam Apung. Dinamika dan proses pembangunan destinasi wisata konservasi di Pulau Siput-Awulolong, diakui be la - ka ngan ramai diperbin cang - kan oleh berbagai pihak. Diskusi ini amat penting ka - rena berbagai pikiran ce mer - lang dari berbagai pihak men - jadi referensi bagi Pemerintah Kabupaten Lembata untuk menyukseskan pembangunan Kolam Apung.

Bahkan Justin Wejak, putra Lembata yang kini dosen di Australia, mem - be rikan pendapat menarik melalui surat kepada Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur. Prinsipnya, pembangunan Kolam Apung dapat dilakukan jika diawali dengan survei his - to ris tentang Pulau Awulolong. Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) dengan Koor - dinator Ali Kedang, dan Aliansi Rakyat Lembata Menggugat (ASTAGA) serta Aliansi Pemu - da Peduli Rakyat Lembata (APPERAL), dipimpin Abdul Ga fur R Sarabiti bersama pu - luh an masyarakat nelayan Pantai Lewoleba, melakukan aksi demonstrasi damai memin ta penjelasan Pemkab dan DPRD Lembata terkait rencana pembangunan Kolam Renang Apung.

Sekelompok nelayan mengatakan men da pat infor - masi bahwa Pemda Lembata akan membangun Hotel Ter - apung atau Restoran Terapung. “Kalau pemerintah membangun hotel atau res tor - an/kolam di sana, terus kami harus cari makan di mana lagi. Kami belum dapat penjelasan resmi dari pemerintah,” ungkap nelayan. Dalam audiensi dengan sejumlah kelompok aksi damai di ruang rapat Bupati Lembata, Wakil Bupati Lembata Thomas Ola mengatakan bahwa ter hadap simpang siurnya informasi yang diterima masyarakat terkait pembangunan yang akan dilakukan di Awulolong, Pemkab Lembata selalu siap bertemu kelompok masya ra - kat yang hendak mengetahui latar belakang sampai manfaat dari pembangunan Kolam Apung di Awulolong.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini