Manusia Telan Ribuan Plastik Setiap Tahunnya, Ini Buktinya!

Ayu Dita Rahmadhani, Jurnalis · Senin 24 Juni 2019 20:40 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 24 406 2070304 manusia-telan-ribuan-plastik-setiap-tahunnya-ini-buktinya-SyQGG0tJ7F.jpg Upaya Mengurangi Sampah Plastik dan Cara Mendaur Ulang Plastik (Foto: Heru Haryono/Okezone)

DALAM kehidupan di era modern seperti ini, plastik bukanlah sebuah hal yang sulit untuk dijumpai. Terdapat banyak partikel plastik kecil yang ada di sekitar Anda. Beberapa dari plastik terdapat pada udara yang dihirup, air yang Anda minum dan makanan yang dikonsumsi oleh manusia.

Sebuah makalah yang mengumpulkan dari studi sebelumnya, memperkirakan bahwa setiap tahun, rata-rata orang Amerika mengonsumsi lebih dari 70 ribu potongan plastik yang berukuran sangat kecil yang masuk ke dalam makanan melalui proses pengemasan.

Diterbitkan di jurnal Environmental Science & Technology, penelitian tersebut meneliti 26 studi lama tentang mikroplastik dalam makanan laut, madu, garam, gula, bird an air. Para peneliti kemudian memperkirakan jumlah makanan yang seharusnya dikonsumsi oleh manusia sesuai dengan pedoman nutrisi dari departemen pertanian Amerika Serikat.

Sampah Plastik Bisa Didaur Ulang

Hasilnya sangat mengejutkan, sekira 39 ribu hingga 52 ribu partikel mikroplastik per tahun berasal dari makanan tersebut. Angka-angka ini naik menjadi lebih dari 70 ribu ketika para peneliti memperhitungkan data tentang berapa banyak plastik yang dihirup manusia saat bernapas.

Mengonsumsi air botolan juga menyumbang tambahan 90 ribu lebih partikel plastik tiap tahunnya. Tetapi penelitian tersebut mencatat bahwa angka-angka ini mungkin tanpa sadar dikonsumsi oleh manusia. Mereka kerap meremehkan kadar plastik yang terkandung dalam makanan yang mereka konsumsi sehari-hari.

Sebagaimana dilansir Huffpost, Senin (24/6/2019), makanan dalam penelitian ini termasuk dalam 15 persen dari diet orang Amerika. Data tersebut belum termasuk dalam makanan ringan yang dikemas dalam plastik siap untuk dimakan. Jika hal tersebut dilakukan, tandanya akan lebih banyak plastik yang dikonsumsi oleh manusia.

Seiring bertambahnya usia plastik, mereka akan mengeluarkan partikel kecil yang disebut dengan mikroplastik yang dapat bertahan di lingkungan selama beberapa dekade atau lebih. Partikel-partikel ini lebih kecil dari seperlima inchi dan dapat berukuran mikroskopis.

Para ilmuwan telah menemukan mikroplastik di beberapa tempat paling terpencil di planet ini termasuk pulau-pulau tak berpenghuni, es laut Kutub Utara dan bagian terdalam samudera. Bahkan ikan serta hewan laut lainnya telah mengonsumsi mikroplastik ke atas rantai makanan dan hewan tersebut berakhir sebagai makanan manusia.

“Partikel terkecil mampu memasuki aliran darah, sistem limfatik dan bahkan mencapai hati. Kita perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami apa artinya ini bagi kesehatan manusia,” tulis Philipp Schwabl seorang peneliti Universitas Medis Wina yang ikut dalam penulisan penelitian ini.

Dalam mewujudkan World Without Waste, brand Coca-Cola Indonesia menyerukan gerakan Plastic Reborn #BeraniMengubah. Sebuah inisiatif peduli lingkungan untuk berkontribusi dalam mengatasi sampah plastik di dalam kehidupan sehari-hari. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk turut aktif dalam mengatasi permasalahan sampah plastik di Indonesia.

Gerakan Plastic Reborn #BeraniMengubah menghadirkan rangkaian kegiatan edukasi dan diskusi bersama para pakar, yang bertujuan untuk menambah wawasan peserta mengenai kemasan plastik, diskusi penanganan dan manajemen sampah plastik dengan konsep circular economy. Kegiatan edukasi ini juga diisi dengan kegiatan lokakarya kreatif dan edukatif yaitu daur ulang sampah botol plastik menjadi barang yang memiliki nilai baru bersama peserta.

Sampah Plastik Bisa Didaur Ulang

Gerakan Plastic Reborn #Berani Mengubah, hari ini menghadirkan; Professor Enri Damanhuri, Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah, Institut Teknologi Bandung, Triyono Prijosoesilo, Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia, Gunawan Mangunsukarjo, Regional Technical Director Coca-Cola Indonesia dan Iqbal Alexander, Pendiri Komunitas Kertabumi Klinik Sampah.

Jika dilihat dari sudut pandang industri, plastik merupakan bahan baku sehingga ada nilai ekonomi di dalamnya, sehingga memiliki nilai manfaat ekonomi tidak hanya untuk industri tetapi juga untuk masyarakat. Gunawan Mangunsukarjo, Regional Technical Director Coca-Cola Indonesia, menyampaikan “Plastik merupakan inovasi luar biasa yang bersifat fleksibel, affordable dan tahan lama, karenanya penggunaan plastik dalam berbagai bentuk telah menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan masyarakat modern,” bebernya.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, saat ini kapasitas terpasang industri kemasan plastik mencapai 2,35 juta ton per tahun. Namun, utilisasinya sebesar 70 persen, sehingga rata-rata produksi mencapai 1,65 juta ton, sedangkan penyerapan tenaga kerjanya sekitar 350.000 orang.

Namun disisi lain, keuntungan dari penggunaan kemasan plastik juga memiliki dampak terhadap lingkungan. Sampah telah menjadi sebuah persoalan yang mendapat perhatian masyarakat global dalam beberapa waktu terakhir. Jumlah komposisi sampah plastik khususnya, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2016 – 2017 menempati posisi kedua setelah sampah sisa makanan dengan jumlah sebesar 12.40%.

Professor Enri Damanhuri, Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah, Institut Teknologi Bandung, menuturkan “Permasalahan sampah memang merupakan tugas dari seluruh pihak. Namun, penanganannya dapat dimulai dari individu masing-masing. Artinya semua orang Indonesia harus dapat mengelola sampahnya di sumber mereka sendiri, di rumah, sekolah atau kantor.”

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini