Klarifikasi Rius Vernandes Menu di Kelas Bisnis Garuda Indonesia Pakai Tulisan Tangan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 08:34 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 15 406 2078891 klarifikasi-rius-vernandes-perihal-menu-di-kelas-bisnis-garuda-indonesia-pakai-tulisan-tangan-kzqrAiseku.jpg Rius Vernandes klarifikasi soal menu di kelas bisnis Garuda pakai tulisan tangan (Foto : Rius Vernandes/Youtube)

Rius Vernandes akhirnya merilis video klarifikasi pada kanal YouTube pribadinya. Video ini menjawab semua pertanyaan para netizen tentang kasus 'menu bertulis tangan' di kelas bisnis Garuda Indonesia yang sempat viral di media sosial.

Dalam video tersebut, Rius dan tunangannya Elwiana Monica diketahui hendak melakukan penerbangan dengan rute Sydnes-Denpasar-Jakarta. Untuk perjalanan kali ini, mereka sengaja memilih business class dari maskapai Garuda Indonesia (GIA).

Menu Garuda Tulisan Tangan

Setelah menduduki kursi pesawat, Rius tak sengaja melihat sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan. Para pramugari rupanya sedang membagikan menu card yang dituliskan di atas secarik kertas.

"Dari jauh gue liat penumpang lain dibagiin kertas menu yang ditulis dengan tangan. Gue bingung kenapa dibagiin seperti itu," tutur Rius sembari menunjukkan cuplikan video tersebut.

Cuplikan itu sontak menjawab tudingan netizen. Mereka mengklaim bahwa, foto menu yang viral akhir pekan lalu adalah kertas catatan pribadi milik pramugari Garuda Indonesia yang diambil secara paksa.

"Buat kalian yang bilang gue maksa ambil catatan pramugarinya. Bisa dilihat dari cuplikan video tadi kalau gue enggak maksa, emang dikasih ke penumpang," timpalnya.

Pada video itu juga terdengar jelas pernyataan salah seorang pramugari yang mengonfirmasi bahwa menu card mereka memang masih dalam proses percetakan.

"Maaf untuk menu cardnya kita lagi dalam proses percetakan, jadi saya ada menuliskan. Maaf kalau jelek tulisannya pak," ucap pramugari itu.

Mengingat ia cukup sering melakukan perjalanan menggunakan business class maupun first class, Rius mengaku sedikit kecewa melihat hal tersebut. Ia bahkan sempat membandingkan dengan pengalamannya saat menumpangi sejumlah maskapai penerbangan internasional.

Namun, Rius menegaskan bahwa ia tidak pernah sekalipun menyalahkan hal itu kepada sang pramugari. Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh tunangannya.

"Awalnya gue mikir gini, 'anjir business class kok gak ada menu card'. Tapi waktu cabin crewnya approach untuk menjelaskan, disitu gue merasa kehangatannya. Human touch tuh tetap lebih penting. Daripada lo punya menu tapi judes banget," kata Elwi.

"Tadi juga gue ngerasain, mbanya enggak enak gitu waktu menyampaikan, sampai dia bilang 'Maap pak tulisannya jelek'. Denger dia ngomong gitu guenya jadi yang engak enak," timpal Rius.

Menu Garuda

Lebih lanjut, Rius mengatakan, justru yang menjadi pahlawan dalam kasus ini adalah sang pramugari. Mereka justru bernisiatif membuat menu baru agar penumpang tidak kebingungan.

"Jadi pemikiran di awal itu wajar banget buat kalian yang pernah naik business class dengan harga puluhan juta. Pahlawan di sini adalah pramugarinya, mereka bikin kita enggak bisa marah, kesopanan dan kehangatan mereka bikin masalah itu bisa dimaklumi," tegas Rius.

Menu Garuda pakai tulisan tangan

Menariknya, kasus 'menu bertulis tangan' ini bukanlah permasalahn utama. Dalam penerbangan itu ternyata pihak maskapai kehabisan stok wine.

Rius dan Elwi bahkan hanya bisa menikmati 1 gelas champagne, white dan red wine sebelum dinyatakan habis total oleh awak kabin. Ini menjadi hal yang sangat krusial, mengingat wisatawan atau penumpang asal Aussie sangat suka dengan minuman beralkohol tersebut.

Benar saja, saat mewawancarai dua orang penumpang bernama Paul dan Christian, keduanya sepakat bahwa masalah terbesar pada penerbangan itu adalah stok winenya yang sangat terbatas.

"Bangkunya cantik, makanannya enak, masalah besar itu winenya habis. Champagne, white wine, red wine, semua jenis wine habis," ungkap Paul.

wine garuda

Paul menambahkan, ketika penumpang memilih business class, sudah seharusnya pihak maskapai memberikan pelayanan terbaik mereka.

"Di Australia penerbangan domestik saja tidak pernah kehabisan wine. Ini sangat memalukan, bukannya kami harus minum banyak wine, tapi kehabisan wine saat penerbangan?," kata Christian.

"Di sini ada 40 kursi business class, dan mereka cuma punya 3 botol champagne, itu benar-benar sangat mengecewakan," tambah Paul.

wine garuda habis

Alhasil, Paul dan Christian mengaku akan berpikir 2 kali bila ingin kembali menggunakan Garuda Indonesia. Padahal, reputasi Indonesia di mata mereka sudah mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Namun dengan adanya insiden ini, mereka kembali meragukan kredibilitas maskapai tersebut. "Soal menu kertas tidak masalah. Servisnya juga bagus. Tapi kehabisan wine itu tidak bisa ditolerir," tukas Paul.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini