Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling Siap Meriahkan Malang

Annisa Aprilia Nilam Sari, Jurnalis · Minggu 21 Juli 2019 11:44 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 21 406 2081571 festival-kecil-literasi-dan-pasar-buku-keliling-siap-meriahkan-malang-N2yviSQObg.jpg Festival Kecil Literasi & Pasar Buku Keliling (Foto: Ist)

Setelah sukses melangsungkan acara di Yogyakarta pada Maret lalu, Patjarmerah - Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling akan hadir di Kota Malang pada 27 Juli-4 Agustus 2019. Kali ini, akan lebih seru dan meriah karena bangunan lama Bioskop Kelud, akan 'disulap' menjadi arena bermain bagi kegiatan Patjarmerah kali ini.

Berliterasi tidak melulu harus di tempat yang populer, literasi juga bisa hidup dan menghidupkan tempat-tempat yang selama ini tidak terpakai secara maksimal. Itulah alasan kenapa Bioskop Kelud yang sudah lama tertidur, dibangunkan kembali oleh Patjarmerah untuk melaksanakan kegiatannya. Selain itu, sejak awal, Patjarmerah tidak ingin terlihat eksklusif dan ingin merangkul banyak kalangan. Alasan inilah yang menjadikan ‘tempat tidak biasa’ selalu menjadi pilihan patjarmerah ketika berkeliling ke setiap daerah di Indonesia.

Windy Ariestanty, salah satu inisiator patjarmerah mengatakan Bioskop Kelud memiliki sejarah panjang dan sangat melekat sebagai identitas Malang.

"Banyak cerita lahir dan terjadi di Kelud, Kelud jadi saksi banyak hal, kami ingin merasakan lagi dan menghidupkan cerita serta kenangan banyak orang yang pernah hidup di lokasi ini," kata Windy menurut keterangan persnya kepada Okezone, Minggu (21/7/2019).

Toleransi 'Membangun Indonesia’ adalah tema patjarmerah di Malang. Tema ini dirasa menarik dan perlu untuk dikampanyekan bersama. “Kita adalah negara yang besar, baik secara geografis maupun dalam keanekaragaman manusia dan budayanya, keragaman ini membuat kita perlu belajar bersama mengenai toleransi untuk merawat keindonesiaan kita. Literasi adalah salah satu kegiatan yang kami rasa bisa dijadikan medium untuk belajar dan merawat hal tersebut,” tutur Irwan Bajang, partner Windy ketika merancang patjarmerah sejak tahun 2018 lalu.

Selain menghadirkan lebih dari 8.000 judul buku berdiskon hingga 80%, para patjarboekoe, sebutan bagi para pecinta buku dan pengunjung yang datang juga bisa mengikuti beragam program literasi yang menghadirkan para pembicara andal di bidangnya.

Tak hanya belajar bersama, para pengunjung juga bisa berinteraksi dengan mereka sambil bertukar rekomendasi dan belanja buku. Puluhan penerbit nasional ikut meramaikan patjarmerah, termasuk buku dari para penerbit indie dan buku langka atau lawasan. Total keseluruhan stok buku yang akan digelar di pasar buku keliling patjarmerah mencapai lebih dari satu juta buku dengan ragam kategori. Beberapa kategori tersebut seperti buku fiksi, nonfiksi, penunjang pelajaran, bacaan anak dan orang tua, kuliner, pengetahuan populer dsb.

Patjarmerah ibarat sirkus keliling, bertualang ke tempat-tempat tak terduga di Indonesia untuk mengajak para patjarboekoe bergembira ria lewat literasi. “Ke depan, kami ingin berkolaborasi dengan banyak teman pencinta literasi di daerah-daerah hingga pelosok Indonesia untuk bersama-sama memeratakan akses literasi dengan memperluas sebaran dan kesempatan berliterasi bagi banyak orang. Kerja literasi seharusnyalah kerja gotong royong, dilakukan bersama-sama,” tutur dia.

Patjarmerah mengajak banyak pelaku literasi di Malang sebagai tuan rumah untuk hadir, menjadi pencerita dalam beragam obrolan serta lokakarya selama acara berlangsung. Beberapa nama di antaranya seperti Prof. Djoko Saryono, Welda Sanavero, Wawan Eko Yulianto, Iksan Skuter, Ach Dhofir Zuhry, Lucia Priandarini, dan para pembicara lainnya. Selain itu, karena lokasinya adalah bekas gedung bioskop, beberapa komunitas dan sineas Malang akan mengadakan nobar layar tancep selama acara berlangsung. Mahesa Desaga akan menayangkan filmnya di Bioskop Kelud.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini