Feeding Orangutan, Wisata di Tanjung Puting Idola Turis Asing

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 29 September 2019 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 29 406 2110687 feeding-orangutan-wisata-di-tanjung-puting-idola-turis-asing-lMr86ZF094.jpg Wisata feeding orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (Foto: M. Sukardi/Okezone)

Jangan membayangkan feeding orangutan ini seperti Anda memberi makan rusa di Bandung. Ekspektasi semacam itu akan berubah drastis ketika Anda benar-benar melihat langsung ke Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Atraksi feeding orangutan ini akan membuat Anda terhipnotis, larut dalam rindangnya hutan Taman Nasional Tanjung Puting. Kaki letih menapaki jalan setapak hutan selama 15 menit, apa yang Anda saksikan setelah sampai di lokasi feeding bakal membuat Anda tenang. Begitu nyata orangutan ada di depan Anda.

 Wisata di taman nasional

Menyaksikan seorang ranger memberi makan orangutan bisa memberi sensasi yang berbeda. Ketika makanan yang disajikan diambil orangutan, mata akan terbuka lebar, mulut akan diam. Semua fokus ke sosok hewan yang mesti dilestarikan tersebut. Tak ada yang mau meninggalkan momen langka ini.

Beberapa kali turis asing tertawa karena aksi si orangutan. Ya, orangutan juga punya tingkah lucu, misalnya saja saat dia kesulitan mengambil pisang satu buah dan dia malah ambil satu sisir sekaligus.

 Wisata di taman nasional

Momen lucu lainnya ialah saat orangutan yang berada di atas dahan pohon tinggi melemparkan kulit jagung atau ampas buah yang tak biasa ia makan, suara 'bruk' jadi lonceng tawa yang menggema 'sembunyi-sembunyi'.

Kenapa dikatakan demikian, saat berada di lokasi feeding orangutan, wisatawan tidak diperkenankan untuk berbicara secara kencang, apalagi tertawa terbahak-bahak. Semua bicara dalam sunyi, ya, kalau bisa langkah kaki juga diperlambat. Ini dilakukan agar orangutan tak merasa terganggu.

 Wisata di taman nasional

Bicara mengenai hal yang dilarang di lokasi feeding orangutan, Tour Guide Tanjung Puting Ria Fitria menjelaskan, ada empat hal yang dilarang dilakukan. Empat hal tersebut ialah dilarang menyalakan 'flash' kamera saat memotret orangutan, jaga jarak 5 meter dari lokasi feeding, jangan memberi makan langsung, dan jangan menyentuh orangutan.

"Larangan ini punya maknanya sendiri dan itu semua demi menjaga kealamian orangutan di habitat aslinya. Satu saran, kalau datang ke sini, usahakan kenakan pakaian yang berwarna tidak menyolok, supaya lebih aman," papar Ria pada Okezone di atas kapal klotok, Sabtu, 28 September 2019.

Penjelasan mengenai larangan ini mesti diperhatikan, karena pihak pengelola tidak ingin ada hal yang mengganggu baik pada orangutan maupun manusianya.

 Wisata di taman nasional

Untuk masalah 'flash', Anda mesti tahu, orangutan bisa katarak dan dengan flash yang ditujukan padanya, tindakan tersebut dianggap meningkatkan risiko. Selain itu, mata orangutan sangat sensitif, makanya sangat dianjurkan untuk tidak menggunakan 'flash' saat memotret orangutan.

Kemudian, larangan untuk menyentuh dan memberi makan langsung orangutan, pada beberapa kasus, tindakan ini merugikan orangutan. Banyak ditemukan orangutan dengan kondisi tubuh sakit tak biasa. Setelah ditelaah, itu karena makanan yang diberikan atau juga karena sentuhan tangan manusia. Penularan penyakit dari manusia ke orangutan itu sesuatu yang nyata!

 Wisata di taman nasional

Dan peraturan jaga jarak 5 meter dari keberadaan 'feeding' orangutan dimaksudkan untuk menjaga kealamian ekosistem dan habitat hewan ini. Semakin minim mereka terpapar hal baru, semakin natural perilaku mereka. Bahkan, ini pun berlaku pada peraturan Anda tidak bisa sembarang menggunakan drone di Tanjung Puting.

Seperti diterangkan Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting Helmi, keberadaan drone di lokasi feeding orangutan sangat dikhawatirkan. Ini karena dapat merusak dan mengganggu orangutan. Suara bising dan tiupan angin yang ditimbulkan drone dikhawatirkan merusak kealamian orangutan.

"Makanya kami tidak bisa memberi izin sembarang pada pihak-pihak yang ingin menerbangkan drone di lokasi 'feeding' orangutan. Kami tidak ingin orangutan terganggu secara psikis, pun habitat alami mereka. Namun, kalau mau mau menerbangkan drone, Anda diizinkan di sekitaran dermaga pulau, itu pun bersyarat," papar Helmi.

 Wisata di taman nasional

Kembali mengenai feeding orangutan, untuk durasi wisatawan melihat atraksi alami ini, waktu yang diberikan sekitar 1 jam 30 menit. Durasi tersebut dianggap sangat cukup mengingat keberadaan manusia di tengah hutan sampai malam pun dirasa kurang aman dan sekali lagi, ini dilakukan untuk menjaga kenaturalan habitat orangutan.

Wisatawan asing paling banyak datang


Jangan heran kalau banyak anggapan 'bule lebih Indonesia' berseliweran. Itu ternyata terjadi pada wisata 'feeding' orangutan di Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Berdasar penjelasan Helmi, turis yang paling banyak datang untuk lihat orangutan adalah warga asing. Secara spesifik, turis asing yang paling banyak itu berasal dari Spanyol, Jerman, Belanda, atau beberapa negara Eropa lainnya. Mereka mendominasi wisatawan ke Tanjung Puting.

 Wisata di taman nasional

"Ada yang ingin melihat langsung orangutan, penelitian, atau bulan madu. Nah, kalau kelompok turis asing bulan madu, mereka bahkan menyewa kapal klotok beberapa hari dan menikmati Tanjung Puting secara keselurhan," ungkap Helmi.

Lantas bagaimana dengan turis lokal? Ada, tapi jumlahnya tidak sebanyak turis asing. Mereka kebanyakan memang datang untuk melihat 'feeding' orangutan, jarang yang sampai bermalam di atas kapal klotok.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini