Seniman Asal Padang Sampaikan Pesan Pluralisme Lewat Seni Lukisan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 22 Oktober 2019 21:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 22 406 2120420 seniman-asal-padang-sampaikan-pesan-pluralisme-lewat-seni-lukisan-eCPCQ3rvcs.jpg Seniman asal Padang sampaikan pesan pluralisme lewat lukisan (Foto : Dimas/Okezone)

Perupa graffiti ternama yang berusia 35 tahun dari Padang, Sumatera Barat, mengungkapkan gagasan karya yang terkait semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Ia mengajak masyarakat untuk bertoleransi dan menerima perbedaan suku, kebudayaan dan kepercayaan, serta mencerminkan komitmen kuat bangsa Indonesia agar saling menghargai, saling menghormati dan menjaga perdamaian dalam bermasyarakat.

Anagard mengatakan bahwa dirinya terinspirasi oleh sebuah rumah ibadah yang dikenal sebagai Bukit Rhema di Magelang, Jawa Tengah, pengunjung dari berbagai negara dan latar belakang datang untuk mengeksplorasi spiritualitas diri.

Seni Lukis

Lukisan tersebut menggambarkan arsitektur unik dari rumah ibadah Bukit Rhema, yang memiliki atap berbentuk kepala merpati sebagai simbol perdamaian, untuk merepresentasikan multikulturalisme dan toleransi di Indonesia.

“Sebagai perupa profesional, saya ingin secara bebas mengekspresikan perlunya memiliki kesadaran dan apresiasi terhadap pluralisme yang sesuai dengan semboyan bangsa kita," terang Anagard.

Karya Anagard rupanya memberikan kesan tersendiri bagi para juri yang terdiri dari kurator dan praktisi seni Indonesia, antara lain Agung Hujatnikajennong, kurator lepas dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Arahmaiani, perupa kontemporer, dan Nirwan Dewanto, kritikus budaya.

Agung menjelaskan, dengan menggunakan teknik stensil pada aluminium yang unik, perupa ini telah menarik perhatian kami pada isu sosial yang membentuk masyarakat hari ini. Busana tradisional yang digunakan oleh sosok manusia dalam karya tersebut seringkali kita lihat pada acara pernikahan tradisional Indonesia yang menggambarkan aspek antar-budaya pada dua keluarga.

"Hal ini sangat diperlukan agar kita dapat merayakan keberagaman antar individu, semuanya merupakan bagian dari kelompok budaya yang lebih besar. Karena itu, untuk memelihara prinsip berbeda-beda tetapi tetap satu, kita patut hidup bertoleransi,” kata Agung.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini