Sensasi Menginap di Kamar Es saat Musim Dingin, Hampir Jadi Zombie

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 18 Desember 2019 07:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 18 406 2143194 sensasi-menginap-di-kamar-es-saat-musim-dingin-hampir-jadi-zombie-a9vnt5mbG8.jpg Ice Hotel di Swedia (Foto: Yayuk Hoed/Facebook)

Akhir tahun identik dengan musim dingin di beberapa negara. Artinya salju juga akan turun. Tak sedikit wisatawan yang merencanakan liburan untuk menikmati musim dingin sambil bermain salju. Swedia adalah salah satu negara yang cukup difavoritkan.

Salah seorang wisatawan bernama Yayuk Hoed juga memilih Swedia sebagai destinasi liburan akhir tahun atau musim dingin. Melalui status di akun Facebook pribadinya, ia menceritakan pengalaman berlibur di negara tersebut. Mulai dari perjalanan, tempat menginap, hingga beragam aktivitas yang bisa dilakukan.

Pada status Yayuk mengungkapkan setibanya di Bandara Stockholm Arlanda, ia dan keluarganya menginap di hotel singgah. Setelah itu di pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan dengan pesawat terbang menuju Kiruna. Perjalanan memakan waktu kira-kira 90 menit.

 Pesawat

“Sesampainya di Kiruna, kami dijemput dengan bis besar dan kira-kira ada 2 keluarga lainnya yang akan ke Ice Hotel. Kiruna terletak di Provinsi Lapland yang merupakan provinsi paling utara Swedia, 145 km dari lingkaran Kutub Utara,” tulis Yayuk seperti yang Okezone kutip, Selasa (17/12/2019).

Bersama keluarganya, mereka memang berencana menginap di hotel yang terbuat dari es salju. Sepanjang perjalanan menuju hotel, Yayuk dan keluarganya disuguhkan pemandangan daratan luas yang diselimuti salju. Usut punya usut, daratan itu ternyata adalah sungai dan danau. Di pinggirnya terdapat hutan pinus dan birch.

 Salju

“Kami menuju ke Kota Jukkasjärvic sekitar 20 km dari Kiruna, di mana ada Ice Hotel yang pertama di dunia. Ice Hotel menyediakan pengalaman tidur di kamar yang seluruhnya terbuat dari es. Kamar-kamar itu dirancang dengan pahatan dari es yang sangat artistik yang dikerjakan oleh atau bekerjasama dengan puluhan pemahat terkemuka di dunia bahkan ada yang dari Masai Mara Kenya,” kata Yayuk.

Berdasarkan keterangannya, ada dua tipe Ice hotel . Pertama yang dibuat khusus untuk musim dingin bernama 360 hotel. Begitu cuaca menghangat, hotel tersebut akan meleleh. Tipe hotel kedua bernama Ice Hotel 365 yang memang dibangun untuk sepanjang tahun.

 Salju

Suhu di dalam kamar hotel mencapai minus 7°C. Tamu yang menginap baru bisa masuk kamar setelah pukul 18.00. Hal ini dikarenakan sebelum berfungsi sebagai tempat beristirahat, kamar lebih dulu menjadi museum. Hal itu membuat kamar hotel menjadi atraksi wisata yang menarik perhatian wisatawan.

“Namun kami boleh melakukan aktivitas lainnya sambil menunggu masuk kamar, antara lain duduk- duduk main medsos (terutama update status) di ruang aktivitas, mandi sauna, main luncur di salju, atau kegiatan berbayar seperti naik kereta salju yang ditarik anjing husky,” ucap Yayuk.

Di siang hari, ia dan keluarga makan siang dengan gaya buffet harganya SEK 165 atau setara dengan Rp240 ribu. Salah satu menu yang disajikan adalah ikan salmon asap dan panggang. Ada pula buah lingonberry, buah kecil berwarna merah yang disajikan kapan saja. Buah tersebut juga bisa untuk saus makan daging, saus kue, jus, dan minuman penghangat.

“Di ruang aktivitas selalu tersedia kue jahe dengan minuman juice lingonberry panas yang diberi kayu manis. Rasanya manis kecut, wangi, sebetulnya mirip hot wine tanpa alkohol,” kata Yayuk.

 Salju

Selain itu, di ruang aktivitas tamu juga bisa meminjam perlengkapan standar untuk melakukan kegiatan di luar. Perlengkapannya antara lain baju panjang dan celana terusan seperti baju montir yang tebal.

Pakaian tersebut dibuat dari bahan tahan air yang dilapisi insulasi agar hawa dingin tidak tembus. Dipinjamkan pula sarung tangan tebal dan sepatu salju. Sedangkan untuk penutup kepala, leher, dan wajah, tamu harus menyiapkannya sendiri.

Selama di hotel tersebut, Yayuk dan keluarganya menginap di dua kamar yang berbeda. Malam pertama mereka menginap di Cold Room yang terbuat dari es. Sedangkan malam kedua dan seterusnya menginap di kamar biasa. Pihak hotel memang memberi ketentuan hanya semalam saja menginap di kamar yang terbuat dari es.

 Hotel unik

Sebelum masuk Cold Room, Yayuk dan keluarga diberikan fasilitas loker untuk menyimpan barang bawaan. Luas loker tergantung dari jumlah anggota keluarga yang menginap di hotel.

Sambil menungu waktu untuk masuk ke kamar, mereka memutuskan untuk melakukan aktivitas luar ruangan. Barulah pada pukul 24.00 mereka masuk ke kamar es. Saat masuk, mereka hanya membawa peralatan tidur saja, sedangkan barang bawaan masih tersimpan di loker.

“Kami harus membawa peralatan tidur sendiri, yaitu kantung tidur seberat satu ton dari Ruang Aktivitas. Di sini tidak ada pelayanan kamar apapun, semuanya harus kami kerjakan sendiri. Setelah memakai pakaian dalam dari bahan hitex yang hangat, piyama, dan dengan tetap mengenakan sepatu salju kami tetap duduk termangu-mangu di ruang toilet,” ujar Yayuk.

Ia dan keluarganya sempat ragu untuk memasuki peti es yang akan menjadi tempat menginap. Tak bisa dipungkiri muncul pikiran ketakutan mati kedinginan dan tidak bisa tidur. Namun niat untuk merasakan sensasi tidur di kamar es tidak bisa terbendung.

 Hotel unik

Sesampainya di kamar, di dinding terdapat tulisan “Danger Thin Ice”. Yayuk sempat bingung tulisan tersebut merupakan peringatan atau nama kamar. Berbicara soal kamar, desainnya tak beda jauh dari kamar pada umumnya. Dari pintu kamar tamu harus menaiki tangga yang terbuat dari es dan kemudian berjalan sejauh 2 meter di atas balok es. Balok es tersebut memiliki lebar kira-kira 1 meter dan ditaburi bubuk salju agar tidak licin.

“Meski demikian kami tetap harus berhati hati karena masih tetap licin dan kalau kami jatuh maka bisa gegar otak terbentur balok-balok es. Kami tiba dengan selamat di tempat tidur dengan ngos-ngosan,” ujar Yayuk.

Tempat tidur untuk istirahat terbuat dari balok es rendah dengan tinggi 25 cm dan dialasi kasur busa setinggi 10 cm. Ada pula penutup dari kulit Rusa Kutub. Sebelum beristirahat, Yayuk dan keluarganya harus masuk ke kantung tidur yang memerlukan sedikit usaha. Hal ini dikarenakan alas dari kulit rusa cukup licin. Mereka juga harus memakainya sambil tiduran karena bila berdiri di balok es dengan kaki telanjang akan terasa lengket.

Kantung tidur berukuran 2,5 x 1,5 meter sehingga cukup nyaman. Berbagai barang bawaan seperti botol air dan handphone harus ikut masuk kantung tidur agar tidak beku. Setelah itu, risleting kantung tidur dapat ditutup.

Kendati demikian, Yayuk tetap didera kekhawatiran, dirinya takut bila es roboh. Pikiran itu membuatnya tak bisa tidur padahal keluarganya sudah jatuh terlelap. Belum lagi alas kulit rusa yang licin membuat bantalnya selalu berpindah posisi. Saat bergerak sedikit saja, tubuhnya juga merosot. Hal itu sedikit membuatnya kesal dan memikirkan kenyamanan kamar tidurnya.

 Hotel unik

“Tiba-tiba Shanti (keluarganya) bangun kebelet ke WC dan kandung kemih sayapun tiba tiba ikutan protes minta untuk dikosongkan. Sayapun mengikuti Shanti ke WC meski itu berarti harus melepas kantong tidur karena seluruh jalan ke WC juga terbuat dari bubuk salju yang basah. Di WC Shanti bilang dia merasa agak sakit dan saya pun juga,” ucap Yayuk.

Menurutnya tubuhnya terasa aneh seperti orang sakit panas. Yayuk berpikiran itu mungkin adalah reaksi tubuhnya dalam menghadapi lingkungan yang dingin membekukan. Bersama keluarganya, ia hampir memutuskan untuk tidur di toilet.

Namun mereka segera teringat dengan anggota keluarga lain yang masih terlelap di kamar es. Mereka akhirnya kembali ke kamar dan berjuang kembali untuk masuk ke kantung es.

Yayuk kembali tidak bisa tidur. Ia merindukan tempat tidurnya, anjing peliharannya, dan bahkan orang-orang yang menyebalkan dalam hidupnya. Hal itu membuat dirinya berpikir telah mengigau.

“Makin lama memang saya merasa makin meriang. Soalnya udara dalam lemari es yang disebut artic suite bertarif ratusan Euro ini basah. Jadi paru paru saya harus menghirup udara basah dan saya takut udara itu membeku di paru paru,” kata Yayuk.

Lelah bergulat dengan rasa tidak nyaman, dirinya tiba-tiba bangun dengan napas tersengal dan rasa cemas yang mencekam.Yayuk merasa dia mengalami panic attack lantaran ingin lari keluar dari kantung tidur sambil berteriak teriak. Menyadari kondisi tersebut, ia mencoba mengatur nafas, berdoa, dan menyalakan handphone. Setelah melihat jam, ternyata sudah pukul 06.00.

 Hotel unik

“Oh, saya merasa lega bukan main dan kembali mencoba tidur. Tiba-tiba saya dibangunkan oleh anak-anak yang sudah berpakaian lengkap karena sudah jam 07.30. Ternyata saya sempat juga tertidur,” ujar Yayuk.

Setelah itu, bersama keluarganya ia kembali ke peradaban dengan menyeret kantung tidur ke Ruang Aktivitas. Di sana mereka berjumpa dengan zombie-zombie berwajah kuyu dan pucat alias tamu lain yang menginap.

“Ternyata orang-orang bule yang sudah biasa bermain salju pun tidak bisa tidur di balok es. Semuanya dengan serempak berkata tidak akan mengulang petualangan melewatkan malam jahanam di negeri Jadis, si Penyihir Putih dalam film Narnia...,” pungkas Yayuk.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini