Terlihat Mudah, Sejatinya Seni Tari Tradisional Simpan Makna Filosofis yang Dalam

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 06 Februari 2020 13:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 06 406 2164273 terlihat-mudah-sejatinya-seni-tari-tradisional-simpan-makna-filosofis-yang-dalam-lHX1iNmYFS.jpg Ilustrasi menari jawa (Foto: Inst Priyohandoyo99

Dari sekian banyak kesenian tradisional Indonesia, tari menjadi salah satu karya seni yang memiliki daya tarik tersendiri di mata orang banyak, terutama para wisatawan asing. Keunikan seni tari ini terletak pada gerak tubuh yang dilakukan secara berirama dengan alunan musik yang mengiringinya.

Diperlukan konsentrasi tinggi dan keahlian khusus dalam mengolah gerak tubuh untuk menghasilkan pertunjukkan tari yang berkualitas dan memukau. Terlebih, seni tari Indonesia dikenal memang dikenal sarat akan makna-makna filosofis, sehingga memiliki tingkat kesulitan tersendiri.

 penari

Hal tersebut dijelaskan secara gamblang oleh Anna Kunti Pratiwi, selaku Ketua Komunitas Arkamaya Sukma. Menurutnya, tantangan terbesar dalam menekuni seni tari terletak pada tingkat kesulitannya karena harus ada keselarasan rasa, fisik, jiwa, dan memahami makna filosofis setiap gerakan.

"Menari sebetulnya bukan hal yang mudah, kalau dibilang lemah gemulai kelihatannya saja, tapi dibutuhkan kekuatan fisik yang luar biasa. Apalagi jenis tari yang kami tekuni adalah tari klasik Jawa (Surakarta). Gerakannya terlihat lambat, tapi justru di situlah kesulitannya. Karena kami harus fokus menyelaraskan semua rasa, fisik, jiwa, dan memahami makna filosofisnya," ungkapnya saat ditemui Okezone, belum lama ini.

Lebih lanjut Kunti menjelaskan, baginya menari merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan konsentrasi dan mengenal diri sendiri. Dia ingat betul pesan dari sang guru bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menari, itu berarti mereka harus berani melepas semua beban pikiran sehingga dapat fokus mengolah gerakan tari.

"Kalau saya sendiri menari adalah cara saya untuk belajar fokus, belajar untuk menyelaraskan diri dengan diri sendiri. Kalau guru saya bilangnya 'semeleh' artinya berpasrah. Jadi kalau mikirin yang lain, jatuhnya tidak bakal fokus dan biasanya akan mengganggu yang lain dan bubar," jelas Kunti.

Berbeda dengan Kunti, Menuk Sudaryanti selaku bendahara Arkamaya Sukma memiliki alasan khusus yang melatarbelakangi dirinya terjun di dunia tari tradisional.

Mengingat usianya yang sudah menginjak 50 tahun, Menuk menggunakan tari sebagai 'alat' khusus untuk menangkal kepikunan.

"Karena sampai saat ini saya masih aktif bekerja, motivasi saya terjun ke dunia tari salah satunya ya biar tidak gampang pikun. Banyak penelitian yang telah membuktikan, tari itu ternyata mengurangi pikun," ungkap Menuk.

"Jadi, buat saya menari itu seperti yoga. Saya bisa bermeditasi untuk mengistirahatkan dan menguatkan kemampuan berpikir saya," timpalnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini