Melintasi Tokyo dengan Budget Ramah di Kantong

Dada Sathilla, Jurnalis · Senin 13 April 2020 01:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 12 406 2198082 melintasi-tokyo-dengan-budget-ramah-di-kantong-hNboAncMoq.jpg

NEGERI Sakura memiliki banyak daya tarik yang membuat orang penasaran dan ingin kembali mengunjunginya.

Kontributor Okezone, Dada Sathilla berbagi pengalaman perjalanannya selama 16 hari mengeksplorasi beberapa kota di Jepang dengan gaya bertutur.

Musim dingin lalu saya liburan ke Jepang untuk kedua kalinya. Setelah sebelumnya hanya sempat mengunjungi Tokyo, kali ini saya mengunjungi banyak kota di Jepang bagian timur dan barat, di antaranya Tokyo, Yokohama, Kawaguchiko, Osaka, Kobe, Nara, dan Kyoto. Tokyo menjadi kota pertama yang saya kunjungi selama delapan hari.

Tempat wisata gratis di Tokyo

Saya terbang dari bandara internasional Taoyuan di Taipei, Taiwan. Sebelum liburan ke Jepang, saya memang sempat jalan-jalan dulu ke Taipei selama tiga hari, sehingga penerbangan ke bandara internasional Narita, Jepang hanya butuh waktu tiga jam.

Sekitar jam 10.00 pagi pesawat mendarat di Tokyo. Saya kemudian naik bus dengan harga 3.200 yen atau senilai Rp 466 ribu menuju hostel di kawasan Shinjuku.

Sebelum keluar bandara, saya membeli SIM card khusus turis di convenient store. Harga SIM card relatif lebih murah dan praktis dibandingkan sewa pocket Wi-Fi.

Bepergian ke Jepang dalam waktu lebih sepekan, apalagi pindah ke beberapa kota sebaiknya membeli JRpass. JRpass adalah tiket terusan kereta supercepat Shinkansen dengan paket masa berlakunya antara 7 hari, 14 hari, atau 21 hari. Saya memilih paket 7 hari seharga Rp 3,5 juta.

Keajaiban tokyo

JRpass hanya bisa dibeli oleh mereka yang mengunjungi Jepang dengan visa turis. Sebaliknya, orang Jepang dan orang asing yang tinggal di Jepang tidak diperbolehkan membelinya.

Saya membeli JRpass secara online sebelum berangkat ke Taipei. Kartu fisik JRpass pesanan saya ambil terlebih dahulu di konter khusus Terminal 2 bandara internasional Soekarno-Hatta. Sesampainya di Jepang, kartunya diaktifkan di kantor JR yang ada di dalam stasiun-stasiun besar, misalnya stasiun Ueno, Tokyo.

Selama jalan-jalan di Tokyo, saya menginap di hostel Pumpkey, Shinjuku. Harga hostel saat saya menginap pada akhir bulan Desember 2019 sekira 3.443 yen atau senilai Rp 502 ribu per kasur/malam.

Harga hostel di Shinjuku memang lebih mahal dibandingkan area lain, misalnya di Asakusa. Posisi Shinjuku di tengah kota Tokyo memang memudahkan akses bepergian.

Untuk mengeksplorasi area lainnya, saya sempat berpindah ke hostel Playsis East Tokyo di Asakusa. Kali ini saya merogoh kocek 1.947 yen atau setara Rp. 284 ribu per kasur/malam.

Dari perjalanan melintasi Tokyo, saya banyak mendapat kesan negara maju ini kaya akan budaya dan sejarah. Namun, teknologi, pop culture seperti anime dan manga tidak terbendung perkembangannya. Setiap sudut ibu kota Jepang ini memiliki karakteristik yang khusus, mulai dari Asakusa yang klasik hingga Akihabara yang menjadi pusatnya budaya otaku. Otaku bermakna seseorang yang sungguh-sungguh menekuni dan mencintai hobinya, seperti menggmbar manga atau anime.

Kuliner Jepang juga terkenal sangat nikmat dan sehat. Setiap kota di Jepang pun memiliki keunikan kulinernya sendiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini