Ini Bukti Kawasan Prambanan adalah Sebuah Kota Kuno

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 12 Juni 2020 13:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 12 406 2228829 ini-bukti-kawasan-prambanan-adalah-sebuah-kota-kuno-SNChb3gmSz.jpg Candi Prambanan (Foto: Kemenparekraf)

Teknik story telling atau menceritakan sebuah kisah merupakan teknik yang bisa jadi nilai tambah bagi wisatawan saat berkunjung ke suatu destinasi wisata. Story telling ini cocoknya untuk menghidupkan suasana dalam meningkatkan pengalaman berwisata, terutama pada situs-situs warisan dunia seperti di Candi Prambanan maupun Candi Borobudur.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, Manggar Sari Ayuati mengatakan, peta penyebaran situs di kawasan Prambanan terdapat kurang lebih 30 situs yang bisa dieksplorasi. Sembilan situs berlatar agama Hindu seperti Candi Prambanan, Kedulan, Barong, Ijo, Miri, Pondok, Ganesha Dawangsari, Sumur Bandung, dan Randu Gunting.

 Prambanan

Kemudian 14 situs berlatar agama Buddha seperti Sewu, Bubrah, Lumbung, Ghana, Plaosan, Sojiwan, Kalasan, Sari, Pakem, Bugisan, Bogem, Sumber Watu, Dawangsari, dan Banyunibo. Satu situs pemukiman Ratu Boko, satu situs Perbengkelan Gupolo. Lima situs tidak teridentifikasi latar belakang keagamaannya seperti Tinjon, Watu Gudig, Karang, Sanan, dan Patihan.

“Kawasan Prambanan merupakan sebuah kota kuno (ancient city) terbukti dari banyaknya peninggalan budaya yang ada. Ini juga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram kuno yang merupakan sebuah peradaban yang maju dengan segala organisasi kenegaraan yang telah terstruktur dengan baik sehingga menjadi salah satu peletak dasar kehidupan bernegara di Indonesia,” kata Manggar, Jumat, (12/6/2020).

Manggar juga menjelaskan, nama-nama desa yang berada di sekitar Prambanan menunjukkan adanya kesinambungan dengan masa lalu. Sebagai contoh adalah nama Desa Taji dan Pulowatu.

"Nama-nama tersebut merupakan nama watak dalam kerajaan Mataram Kuno sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti pendek di Candi Plaosan,” katanya.

Menurut Content Writer yang membahas Story Telling Produk Wisata melalui Media Sosial, Astrid Savitri, penyampaian cerita akan meningkatkan nilai suatu produk wisata. Pencerita yang baik harus memiliki sudut pandang, struktur, alur cerita, serta empati kemanusiaan.

 Baca juga: Story Telling Bikin Pengalaman Berwisata Jadi Luar Biasa

“Pencerita yang baik adalah pengamat dan penyimak yang baik. Ia dapat menceritakan sebuah objek atau situasi dengan kata-kata yang baik. Tipsnya adalah menggunakan kalimat sederhana dan sependek mungkin serta menghindari kalimat yang bersayap. Perbanyak deskripsi dan gunakan kalimat aktif, selektif mengutip dan perkaya diksi dengan cara banyak membaca, menonton dan menyimak,” ujarnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini