Akibat Pandemi Covid-19, 9 Kapal Wisata di Labuan Bajo Tenggelam

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 23 Juni 2020 19:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 23 406 2235155 akibat-pandemi-covid-19-9-kapal-wisata-di-labuan-bajo-tenggelam-TLWZOra4S2.jpg Kapal wisata di Labuan Bajo tenggelam karena tak terurus (Foto : SALA UDINK/Facebook)

Industri pariwisata menjadi salah satu sektor paling terdampak oleh pandemi Covid-19. Bahkan sejak isu kesehatan ini merebak di Indonesia pada Maret lalu, banyak agen perjalanan wisata terpaksa gulung tikar akibat pergerakan wisatawan dibatasi.

Hal tersebut turut dirasakan para agen wisata yang berada di kawasan destinasi super prioritas, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Beberapa waktu lalu, publik juga sempat dihebohkan oleh kabar tenggelamnya sejumlah kapal yang dulunya digunakan untuk mengangkut wisatawan menyisiri pulau-pulau di kawasan tersebut.

Kabar ini pertama kali dibagikan oleh seorang pengguna facebook dengan akun Sala Udink. Dalam unggahannya, Sala membagikan beberapa foto yang menampilkan detik-detik tenggelamnya kapal-kapal kayu di Labuan Bajo.

Kapal Wisata Tenggelam

Berdasar keterangan yang ditulisnya, dalam kurun waktu dua bulan sudah ada 9 kapal yang tenggelam di tempat mereka berlabuh

"Satu persatu sudah mulai tumbang, tenggelam, di tempat berabuh. Dalam waktu kurang 2 bulan sudah ada 9 kapal yang tenggelam," tulis Sala Udink.

Hal tersebut dibenarkan oleh Bang Jo, salah satu pengusaha agen wisata di Labuan Bajo. Menurut penuturannya, kondisi ini memang disebabkan oleh tidak adanya lagi aktivitas wisata akibat pandemi Covid-19.

"Kenapa tenggelam? Karena beberapa dari pemilik kapal itu adalah investor yang domisilinya di luar Labuan Bajo. Mungkin saja karena perusahaannya collapse, sehingga permintaan untuk mengurus kapal-kapal di Labuan Bajo tidak direspons dengan cepat," kata Bang Jo saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Selasa (23/6/2020).

Baca Juga : Gara-Gara Pandemi Covid-19, Pengusaha Agen Wisata di Labuan Bajo Banting Setir Jualan Bus Buah

Bang Jo menambahkan, sebagian besar kapal wisata di Labuan Bajo itu berbahan dasar kayu, sehingga diperlukan perawatan yang rutin. Bahkan, kapal kayu ini harus dioperasikan paling tidak satu hari satu malam untuk mencegah kerusakan mesin dan bagian kapal lainnya.

"Tentunya ini membutuhkan biaya karena kapal baru bisa beroperasi kalau ada bahan bakar minyak (bbm). Di satu sisi, kapal juga rentan kemasukan air, sehingga harus dikuras secara berkala. Dan lagi-lagi itu membutuhkan biaya operasional," tandas Bang Jo.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini