Kisah Perjuangan 46 Turis Terjebak 4 Bulan di Negeri Orang Akibat Pandemi Covid-19

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 22 Juli 2020 14:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 22 406 2250315 kisah-perjuangan-46-turis-terjebak-4-bulan-di-negeri-orang-akibat-pandemi-covid-19-MJJ5uJlQna.jpg Turis Nikaragua terjebak di Guatemala (Foto : Republic World)

Setelah empat bulan terdampar di Guatemala, Amerika Tengah, akibat pandemi Covid-19, 46 turis asal Nikaragua akhirnya dipulangkan melalui persetujuan dari pemerintah Honduras. Dengan demikian, mereka diperkenankan melintasi wilayah Honduras untuk kembali ke Nikaragua.

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, hampir seluruh negara di Amerika Tengah menutup perbatasan demi mencegah penyebaran virus tersebut. Sialnya, kebijakan lockdown ini dilakukan saat ke-46 turis itu tengah berada di Guatemala.

Alhasil, selama berminggu-minggu mereka harus bertahan hidup dengan sisa budget yang ada. Bahkan, 33 turis dilaporkan harus tidur di pinggir jalan sembari menunggu izin untuk memasuki Honduras diberikan. Atlit judo profesional Nikaragua Sayra Laguna juga dikabarkan ikut tertahan di Guatemala.

Turis

Setelah menunggu kepastian selama kurang lebih empat bulan, mereka akhirnya mendapatkan izin dari pemerintah Honduras untuk melintasi wilayahnya, sehingga bisa kembali ke negara asal mereka.

Ironisnya, saat pemerintah Guatemala melakukan pemeriksaan kesehatan kepada 46 warga negara Nikaragua itu, sembilan di antara mereka dinyatakan positif Covid-19 dan harus menjalankan perawatan intensif.

Baca Juga : Gaya Sosialita Rahmah Bakar Pakai APD Fashionable, Mertua Tasya Kamila Kece Badai!

Masalah seolah datang bertubi-tubi, meski 9 warga telah dinyatakan positif, mereka mengaku belum menerima bantuan dari otoritas Nikaragua dalam upaya panjang mereka untuk pulang. Laguna mengatakan bahwa hal ini bisa saja terjadi akibat aksi protesnya yang dilakukan pada 2018 lalu.

“Ini mungkin karena saya membentangkan spanduk pada upacara di tahun 2018. Spanduk itu berisikan protes kami terhadap pemerintah Nikaragua,” ujarnya.

Sekadar informasi, pada April 2018 lalu, kondisi ekonomi Nikaragua memang sempat hancur akibat kerusuhan yang berlangsung hingga lima bulan lamanya. Gejolak politik ini dipicu oleh pemotongan tunjangan jaminan sosial yang dilakukan oleh Presiden Daniel Ortega.

Masyarakat Nikaragua pun akhirnya melakukan aksi protes besar-besaran dan menuntut agar Ortega diturunkan dari jabatan presiden. Setidaknya 325 orang dilaporkan tewas dalam protes tersebut.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini