Terapkan Protokol Kesehatan Kunci Utama Adaptasi New Normal Pariwisata

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 23 Juli 2020 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 406 2250721 terapkan-protokol-kesehatan-kunci-utama-adaptasi-new-normal-pariwisata-MtnljQBVhm.jpg Protokol kesehatan kunci new normal pariwisata (Foto : Travelandleisure)

Pandemi Covid-19 tidak akan usai bila masyarakat belum disiplin menerapkan protokol kesehatan di kehidupan sehari-hari mereka. Padahal, dengan menjaga jarak, mengenakan masker, dan rutin mencuci tangan sudah terbukti ampuh mencegah penularan virus corona.

Hal tersebut juga diakui oleh Analisis Kebijakan Kemenparekraf, Noviendi Makalam. Dia mengatakan, meski secara umum grafik kasus mengalami penurunan dan tingkat kesembuhan makin tinggi, tetapi kasus baru masih terus terjadi.

“Sampai saat ini, belum ditemukan vaksin untuk menyembuhkan penyakit COVID-19 ini. Akan tetapi, aktivitas masyarakat harus terus berjalan untuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, seluruh lapisan masyarakat perlu membiasakan diri pada aturan atau protokol kesehatan yang telah dibentuk oleh pemerintah,” kata Noviendi seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Kamis (23/7/2020).

Protokol Kesehatan

Protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) harus diterapkan dengan benar dan disiplin sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku, khususnya bagi para pelaku usaha maupun konsumen di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Baca Juga : Hari Anak Nasional, Tips Atasi Anak Suka Lupa Waktu Bermain dan Cepat Bosan

Tenaga Ahli Menteri Bidang Regulasi Kemenparekraf, Santi Paramita, memaparkan bahwa COVID-19 memunculkan tatanan dan perilaku baru masyarakat, sehingga dibutuhkan kreativitas dan adaptasi yang cepat, baik pelaku usaha parekraf maupun konsumen.

"Adaptasi yang cepat ini adalah bentuk upaya untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan pelaku usaha parekraf dan masyarakat,” ujar Santi.

Santi Paramita juga menambahkan agar adaptasi kebiasaan baru ini dijalankan dengan benar dan sesuai SOP, maka dari itu Kemenparekraf telah meluncurkan handbook sebagai panduan protokol kesehatan untuk para pelaku parekraf dalam mempersiapkan diri serta memberikan jaminan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan yang tinggi akan produk serta pelayanan yang diberikan kepada konsumen.

Sementara itu, Senior Medical Editor Alodokter, dr. Ciho Olfriani, mengatakan sektor pariwsata sulit untuk menerapkan phsycal distancing. Mengingat kegiatannya selalu berdampingan dengan wisatawan dan masyarakat luas. Hal ini yang membuat sektor pariwisata masuk ke dalam kategori medium esposure risk atau risiko cukup tinggi terhadap penyebaran COVID-19.

“Untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 dalam era adaptasi kebiasaan baru, para pelaku parekraf harus memperhatikan cara cuci tangan dan penggunaan masker dengan benar dan tepat,” kata dr. Ciho.

Protokol Kesehatan

Cuci tangan harus menggunakan air mengalir dan memakai sabun. Dimulai dari bagian telapak tangan hingga pergelangan tangan. Kemudian, pastikan masker yang digunakan dalam keadaan kering dan bersih, pasang masker menutupi area hidung dan mulut, hindari menyentuh bagian tengah masker, jika menggunakan masker sekali pakai buang ke tempat sampah, kalau masker kain dapat dicuci dengan menggunakan deterjen.

Dr. Ciho juga menambahkan protokol kesehatan perlu dilakukan secara benar dan tepat agar adaptasi kebiasaan baru berjalan dengan efektif. “Saya berharap seluruh lapisan masyarakat khususnya pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif bisa memahami dan menjalankan tatanan hidup baru ini dengan sebaik-baiknya agar kita bisa tetap beraktivitas dengan aman dan terhindar dari penyebaran COVID-19,” papar dr. Ciho

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini