Mengesankan, Begini Tradisi Bakar Bukit di Jepang

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 12 Agustus 2020 14:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 12 406 2261032 mengesankan-begini-tradisi-bakar-bukit-di-jepang-yGVjQaNhvQ.jpg Tradisi bakar bukit (Foto: Oddity Central)

Setiap Sabtu keempat setiap Januari, rumput mati Gunung Wakakusa dibakar sebagai bagian dari festival unik dan mengesankan yang disebut Wakakusa Yamayaki (Gunung pembakaran Wakakusa).

Hingga saat ini tidak ada yang tahu persis bagaimana tradisi membakar bukit setinggi 342 meter di Prefektur Nara Jepang dimulai. Yang jelas, tradisi ini sudah ada selama ratusan tahun.

Beberapa orang mengatakan, tradisi ini dimulai karena perselisihan batas antara dua kuil terbesar Nara, yakni Tōdai-ji dan Kōfuku-ji, sekira abad ke-18. Ketika mediasi gagal dilakukan, seluruh bukit terbakar habis.

 Tradisi bakar bukit

Teori lain menyatakan bahwa kebakaran tahunan berasal dari cara untuk membasmi hama dan mengusir babi hutan. Saat ini, pemandangan yang mengesankan dari tradisi membakar bukit selalu menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh dunia.

Tradisi Wakakusa Yamayaki dimulai pada pagi hari, dengan kompetisi melempar kerupuk raksasa. Menjelang sore prosesi berangkat dari daerah Tobino di Kasuga Taisha menuju Gunung Wakakusa. Iring-iringan akan berhenti di Kuil Mizuya di sepanjang jalan untuk menyalakan obor.

Sekitar pukul setengah lima, prosesi ini tiba di dasar bukit dan api unggun besar dinyalakan. Setelah pertunjukan kembang api selama 15 menit, obor dinyalakan dari api unggun dan rumput mati mulai dibakar.

Tradisi ini bergantung pada kondisi rumput di Gunung Wakakusa. Dibutuhkan waktu antara 30 menit hingga satu jam untuk membakar seluruh area. Dalam kondisi basah, rumput terbakar perlahan dan hanya di area tertentu. Sedangkan saat kering, kobaran api menutupi semuanya dengan sangat cepat.

Karena api membakar area seluas itu, alhasil cahayanya tampak menerangi langit dan dapat dilihat bermil-mil jauhnya. Ratusan penonton berkumpul di kaki Gunung Wakakusa, sementara ribuan orang lainnya menyaksikan kobaran api dari dalam kota Nara.

Sebuah penghalang khusus dibuat guna mencegah orang mendekati api. Sementaran ratusan petugas pemadam kebakaran, hadir dengan sukarela untuk berjaga-jaga jika terjadi masalah selama festival.

 Baca juga: Body Goals Nia Ramadhani di Atas Yacht Mewah, Iri Bilang Bos!

Meski tradisi ini bukan festival paling ramah lingkungan di dunia, tetapi Wakakusa Yamayaki memiliki tempat khusus di hati masyarakat Nara. Mereka mungkin tidak akan melepaskan tradisi yang sudah berusia berabad-abad itu dalam waktu dekat.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini