Birdwatching di Hutan Tambrauw, Wisata Alam yang Asyik dan Menantang

Salman Mardira, Jurnalis · Sabtu 22 Agustus 2020 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 22 406 2265706 birdwatching-di-hutan-tambrauw-wisata-alam-yang-asyik-dan-menantang-2H16mL5h9f.jpg Wisata Birdwatching. (Foto: Okezone/Salman)

HUTAN Kabupaten Tambrauw, Papua Barat merupakan kawasan konservasi yang di dalamnya hidup berbagai jenis burung. Salah satu spot wisata pengamatan burung atau birdwatching menarik adalah di Nanggou Dua, Distrik Sausapor. Pengunjung harus berpetualangan dengan medan yang menantang untuk ke sini.

Nah, untuk mencapai lokasi ini, harus menempuh perjalanan menantang. Dari Kota Sorong butuh sekira 4-5 jam. Jalan tak beraspal di tengah hutan penuh tanjakan dan turunan. Tapi, wilayah ini sangat sering hujan, sehingga jalanan sangat licin dan berkubang di sana-sini. Jalan ini hanya bisa dilewati mobil bermesin 2 gardan dan sepeda motor jenis trail.

Perjalanan melewati beberapa kali kecil. Kiri kanan jalan adalah bukit dan jurang yang sangat dalam tertutup lebatnya pepohonan. Namun, lelahnya perjalanan terbayar dengan keindahan alam yang memukau.

Birdwatching

Dari atas bukit, kita bisa melihat hutan tropis lebat yang di beberapa titik berkabut. Suara hewan-hewan liar dan kicauan burung terdengar bersahutan dari hutan, cukup menenangkan.

Okezone bersama tim Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang dipimpin Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Rizki Handayani Mustafa berkunjung ke Nanggou Dua. Setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih dari Sausapor, rombongan sampai di Nanggou Dua. Terpampang sebuah pamflet berisi pesan larangan berburu di hutan Nanggou Dua.

Sebagian di antara tim lalu turun ke bawah melewati kali kecil bebatuan. Airnya sangat jernih. Lalu menanjak menuju jalur pendakian. Di pintu masuk ada pamflet larangan berisik, tanda kita sudah mulai memasuki kawasan birwatching.

Tim lalu mendaki dengan dipandu warga lokal. Lumayan melelahkan. Tapi, sepanjang pendakian bisa menikmati alunan nyanyian alam dan kicauan aneka burung. Kami berhenti di satu titik, mengamati Cendrawasih ekor kuning yang bermain di ranting pohon. Ada juga raja udang, tapi hanya singgah sebentar di ranting lalu terbang lagi.

"Di sini kalau mau lihat Cendrawasih ada Cendrawasih kecil yang ekornya kuning. Tadi ada suaranya kakaktua. Raja (udang) bisa lihat, kakaktua bisa lihat, mino juga bisa," kata Ria Saryanthi, Konservasionis Burung Indonesia yang ikut bersama tim.

Menurut Ria, belum ada data pasti berapa jenis burung di Tambrauw karena masih minim dilakukan studi atau penelitian. Tapi, dia memperkirakan ada sekitar seratusan burung hidup di hutan Tambrauw.

Bupati Tambrauw Gabriel Asem mengatakan, hutan di daerahnya sangat kaya flora dan fauna. Mereka ingin mengembangkannya jadi destinasi birdwatching. "Birdwatching atau wisata burung ini peminatnya sangat banyak," kata dia.

Menurutnya Tambrauw merupakan wilayah konservasi, sehingga cocok dimanfaatkan jasa lingkungan menjadi ekowisata. Gabriel meminta pemerintah pusat segera menuntaskan pembangunan jalan Trans Papua Barat di Tambrauw agar wisatawan mudah berkunjung ke kabupaten ini.

Birdwatching

Sementara Rizki Handayani mengatakan, Kemenparekraf mendukung penuh pengembangan wisata birdwaching di Tambrauw. Hal yang harus dilakukan adalah mengembangkan SDM lokal, mengemas paket wisata dan mempromosikannya dengan baik.

"Orang ke sini harus adventure, jangan ke sini kamu ekspektasi yang gimana. Saya lihat di sini bisa camping, nah siapa di sini anak-anak muda yang suka camping," ujarnya.

Menurutnya selain berpetualang, wisata alam dan birdwatching di Tambrauw bisa juga dijadikan sebagai lokasi edukasi atau belajar tentang flora, fauna dan lingkungan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini