Asyiknya Menjelajah Gunung Padang, Cocok untuk Wisata New Normal

Rus Akbar, Jurnalis · Minggu 23 Agustus 2020 09:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 23 406 2266017 asyiknya-menjelajah-gunung-padang-cocok-untuk-wisata-new-normal-6SwcypGPu3.jpg Gunung Padang (Foto: Rus Akbar/Okezone)

Enam bocah berusia kisaran belasan tahun sambil bercanda turun dari Gunung Padang atau dikenal dengan Taman Siti Nurbaya ketinggian sekira 80 meter. Enam bocah itu tiga diantara membawa sepatu sepatu roda mereka bercanda.

Tak lama kemudian sepasang muda-mudi tampak tersengal-sengal saat menapaki jenjang beton untuk menuju ke puncak Gunung Padang tersebut. Tak lama kemudian dari arah bawa juga ada satu keluarga naik lagi mengarah ke Gunung Padang.

Gunung Padang ini sudah terkenal sejak dulu, apalagi di lereng Gunung Padang ini ada makam yang diklaim sebagai kuburan Siti Nurbaya seperti yang ditulis dalam novel Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai oleh Marah Rusli. Meski diragukan keberadaan makam tersebut namun sebagai warga mempercayai kuburan tersebut.

Gunung Padang ini terletak di Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, posisinya tepat di pintu Muara Padang. Untuk menuju kesana harus masuk dengan membayar tiket Rp10 ribu untuk orang dewasa dan Rp5 ribu untuk anak-anak.

Saat masuk kesana awalnya akan melewati pemukiman masyarakat yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan, hal yang menarik rumah warga yang berdiri di lereng-lereng bukit tersebut dicat dengan warna-warni. Hanya sekira satu menit di lereng dekat pemukiman tersebut akan ditemukan bunker yang dijadikan sebagai benteng peninggalan Jepang.

 Benteng peninggalan Jepang

Di dinding bunker tersebut tertulis bunker tersebut berupa benteng pilboks persegi empat, poligon, dan ada yang berukuran setengah lingkaran. Dibangun sekira tahun 1942-1945 oleh tentara Jepang, kemudian terdapat meriam besar sepanjang sekira 10 meter dalam bungker tersebut, arah meriam ke laut dengan warna hitam yang sudah berkarat dimakan usia.

Tak cukup informasi di dinding benteng saja Okezone.com mencari narasumber di lokasi wisata tersebut Slamet Sudarso, 72 tahun. Dia merupakan pensiunan pegawai Dinas Pariwisata Kota Padang.

Kepada Okezone.com, Slamet menuturkan dulu meriam itu masih lengkap dan bisa diputar-putar dan dinaikan, namun masih ada warga yang tidak bertanggung jawab mengambil peralatan bagian pangkal meriam sebagai alat menembaknya akhirnya tinggal meriamnya saja yang tidak bisa dicopot.

“Meriam itu fungsinya menghadang tentara Belanda yang masuk ke Muara Padang. Dipuncak Gunung tersebut ada empat bunker kecil sebagai pengintai musuh dari lautan,” tutur Slamet.

 Baca juga: Pariwisata Raja Ampat Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Registrasi Online

Dibawah meriam tersebut atau dekat dengan air laut banyak batu-batu besar biasanya sering dijadikan tempat untuk memancing untuk mengobati kesuntukan atau menyalurkan hobby memancing.

Perjalanan dilanjutkan saat masuk tanjakan ada dua pondok persinggahan yang dibangun oleh Dinas Pariwisata. “Itu untuk tempat santai tempat istirahat sambil memandang laut dan pantai Padang,” ungkap Slamet.

Kemudian saat memulai tanjakan akan ada batu-batu yang dibuat sebagai tempat duduk-duduk. Untuk sampai di puncak ada sebanyak 300 jenjang akan dilewati. Tapi tenang kondisi jalan menuju ke puncak itu kondisinya bersih.

Di posisi 15 meter menjelang puncak atau Taman Siti Nurbaya akan ditemukan batu besar. “Biasanya batu besar dengan ketinggian 15 meter ini dipakai para pencinta alam untuk memanjat tebing, mereka itu rata-rata mahasiswa ada dari Universitas Negeri Padang, ada pula dari Universitas Andalas dan perguruan tinggi lainnya yang sering memanjat batu ini,” tutur Slamet.

Kemudian 10 meter menjelang puncak akan ada tulisan Dinas Pariwisata Makam Siti Nurbaya. Kalau menuju kesana akan masuk cela-cela batu besar tersebut dan menurun kemudian ada makam sudah memakai nisan dan semen dicat putih, diatas makam tersebut ada kayak kelambu warna putih yang sudah kusam. “Makam itu sebenarnya tidak tahu cerita awalnya, tapi masyarakat percaya itu makam Siti Nurbaya, tapi tidak mungkin ada makam di atas batu,” tutur Slamet.

 makam

Warga yang berkunjung Bukit Siti Nurbaya ada yang berziarah di makam tersebut, mereka minta wangsit dan rejeki. “Dulu saat masih zaman musim judi togel banyak warga yang datang ke makam itu untuk minta nomor sama penghuni disini, tapi entah dapat entah tidak,” terangnya.

Menurut cerita dari warga setempat Syahbudin Abas (42), warga sekitar tersebut mengakui dulu sering mendampingi para peziarah untuk ke makam. Dia menceritakan, dulu peziarah yang datang ke makam tersebut bukan hanya satu atau dua orang, sesekali ada rombongan yang datang. Salah satu waktu yang diminati yakni menjelang hari raya Idul Adha.

“Dalam seminggu itu pasti ada orang yang datang bersemedi ke makam, tidak hanya dari Padang di luar Padang juga ada yang datang, seperti Medan bahkan dari Jawa juga ada yang sampai ke sini,” ujarnya.

Mereka umumnya melakukan ritual pertapaan selama 1 hari hingga 2 minggu. Mereka percaya jika ritual tersebut dilakukan, maka keinginannya untuk menjadi orang sukses akan terwujud. “Ada yang minta kaya, minta anak, minta kelulusan banyaklah. Kita kan tidak tahu apa tujuan mereka, yang jelas kita hanya mengantarkan mereka ke makam,” tuturnya.

Biasanya kalau ada yang terpenuhi cita-citanya akan kembali ke makam untuk menunaikan nazarnya. “Kelambu itu bukan warga sini yang memberikan tapi orang yang terpenuhi nazarnya dan mereka memberikan kelambu di atas makam tersebut,” ujarnya.

Yang lebih mengherankan ada warga Sungai Limau, Pariaman, bernama Munir atau lebih dikenal Buyuang Katuang pernah datang ke kuburan Siti Nurbaya. Pria yang kerap disapa Bang Udin ini menjelaskan, Munir mengaku sebagai keturunan Siti Nurbaya. Namun dia tidak pernah lagi datang berziarah ke kuburan itu.

“Saat datang dia sudah sangat tua. Semenjak datang berziarah ke makam tersebut beberapa tahun lalu sampai saat ini tidak pernah datang lagi,” paparnya.

Namun yang paling mencengangkan cerita warga Padang Kapeh yang melakukan ritual sekira tahun 2000-an. “Dia bersemedi di makam itu selama dua minggu, mereka bertujuan bersemedi itu untuk mendapat mukjizat atau mendalami ilmunya. Namun setelah bersemedi ia mengatakan kepada saya bahwa yang bersemayam dalam kuburan itu bukan perempuan tetapi laki-laki,” ucap Bang udin panggilan akrab Syahbudin.

Bang Udin memang pernah mendapat kabar makam itu bukan kuburan Siti Nurbaya. Sebagian meyakini makam tersebut milik seorang Syekh dari Banten.

“Dulu kan tidak seperti ini, warga yang menemukan kuburan itu hanya berupa gundukan tanah dan memiliki dua batu mirip batu nisan. Setelah diperhatikan batu itu bertuliskan Syekh bukan Siti Nurbaya, namun setelah pemugaran makam tersebut nama yang sebelumnya ditulis itu sudah dihapus. Saya dapat info bahwa makam itu milik seorang Syekh dari Banten, dan keberadaan kuburan ini sudah ada pada tahun 1918 lalu,” ujarnya.

Setelah mengunjungi makam tersebut perjalan dilanjutkan, hanya beberapa menit saja maka akan sampai di puncak Gunung Padang atau Taman Siti Nurbaya. Beberapa orang baik pasangan ataupun keluarga ramai di lokasi tersebut. Dipuncak itu juga ada tulisan Padang Kota Tercinta dan baru dibangun dalam wujud neon box ukuran besar, namun beberapa bulan lalu huruf tersebut terbakar akibat konsleting.

Selain itu ada dua pondok yang dibangun pemerintah di situlah Slamet bersama istrinya berjualan minuman dan makanan ringan. Masih di puncak yang sama ada juga yang jualan yang sama dan itu anak dari Slamet sendiri. “Sejak saya pensiun, di sini buka warung kecil ini pada pukul 07.00 WIB tutup pukul 18.00 WIB, mau ramai atau tidak kita tetap tutup pada jam itu,” terangnya.

Di puncak Gunung Padang itu juga dipenuhi pohon waru yang ditanami sebagai tempat berlindung, dibawah pohon waru banyak tempat duduk bersantai yang telah dibangun pemerintah. Sambil mencicipi kopi hitam buatan Slamet sambil bercerita dan menikmati pemandangan Kota Padang. Bagian Utara bukit itu akan tampak pantai dan Kota Padang mulai dari sungai Batang Arau sampai dititik yang tidak bisa dipandangi mata.

 Gunung Padang

Kemudian bagian selatan akan terlihat Pantai Air Manis, dan kapal-kapal yang akan merapat ke Pelabuhan Teluk Bayur, serta bukit-bukit dan dua pulau, Pulau Pisang Kecil dan Pisang Besar serta perbukitan. Kemudian bagian timur akan terlihat Bukit Gado-gado serta rumah-rumah warga dan jalan menuju ke Pantai Air Manis.

Gunung Padang sering dijadikan sebagai tempat rekreasi dan olahraga pada saat datang musim libur.

“Dulu bukit ini penuh dengan pohon cengkeh, sejak anjlok harga cengkeh di tahun 1980-an ini seluruh batang cengkeh di sini ditebang diganti dengan pohon kelapa tapi itu tidak dirawat,” tutup Slamet.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini