Ini Strategi Jawa Barat Bangkitkan Pariwisata di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Hantoro, Jurnalis · Minggu 30 Agustus 2020 13:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 30 406 2269766 ini-strategi-jawa-barat-bangkitkan-pariwisata-di-masa-adaptasi-kebiasaan-baru-yJuMCf3z2Q.JPG Kadisparbud Jawa Barat, Dedi Taufik (Foto: Okezone.com/Hantoro)

INDONESIA kini menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB) pada berbagai sektor di tengah masa pandemi virus corona (Covid-19). Salah satunya adalah sektor pariwisata yang mulai dibangkitkan lagi, termasuk di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Penerapan protokol kesehatan secara ketat pun diterapkan di semua destinasi wisata di Jawa Barat. Langkah ini juga dilakukan untuk menghadapi gelombang wisatawan domestik yang hadir saat masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa kota mulai dilonggarkan.

"Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah mulai melakukan berbagai evaluasi terhadap destinasi wisata yang telah dibuka untuk wisatawan. Harus dipastikan setiap destinasi wisata tak hanya menerapkan protokol kesehatan, akan tetapi wajib memiliki manajemen Gugus Covid-19 yang dapat menjadi pengawas pelaksanaan protokol kesehatan yang tepat di destinasi wisata Jawa Barat," ucap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Dedi Taufik dalam diskusi bersama Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Gedung Sate, Bandung, Sabtu 29 Agustus 2020.

Ia melanjutkan, jumlah wisatawan di Jawa Barat juga mengalami penurunan akibat pandemi ini. Kalau pada 2019 untuk wisatawan Nusantara mencapai 62 juta orang, tahun ini diperkirakan tidak mencapai angka itu.

Baca juga: Berusia Seabad, Gedung Sate Ungkap Jejak Sejarah Jawa Barat

"Kita bandingkan bahwa sekarang saja kita turun. Di akhir Desember mungin wisnus di angka 20 jutaan. Jadi penurunan lumayan hampir 40 juta," ungkap Dedi Taufik.

Ia mengatakan keadaan yang sama juga terjadi terhadap wisatawan mancanegara. Dari angka 1,8 juta hingga 2,2 juta orang pada tahun lalu, kini diyakini mengalami penurunan.

Dedi Taufik juga mengungkapkan pihaknya sedang menjalin kerja sama dengan sejumlah instansi atau lembaga untuk mengembangkan destinasi wisata. Di antaranya dengan Perhutani dan PT Perkebunan Nusantara.

"Sekarang kita kerja sama dengan Perhutani ya. Akan diangkat oleh Pak Gubernur 100 destinasi wisata alam yang dimiliki Perhutani. Ada yang berbasis curug, air, danau, hutan, dan sebaginya. Nah itu yang akan diangkat. Kita akan tawarkan ke investor lokal dulu untuk mengembangkan wisata di Jawa Barat," paparnya.

"Kemudian juga dengan PTP ada kurang lebih 100 yang bisa diangkat tempat wisatanya, dikerjasamakan," tambahnya.

Selain itu ada kerja sama dengan desa-desa untuk membangun kampung wisata. Jumlahnya mencapai ratusan untuk dijadikan sebagai destinasi wisata.

"Desa-desa wisata ada hampir 250 lebih desa wisata kita angkat lagi. Itu juga perlu pemodalan. Makanya kita ingin tinggal di desa, rezeki kota, bisnis mendunia. Itu Jawa Barat mau mengarahkan ke tempat-tempat wisata berbasis desa," jelasnya.

Kemudian, lanjut dia, ada juga program Gubernur Jawa Barat yakni one village one company. Jadi satu desa satu perusahaan investor melalui BUMDes. BUMDes itu bisa bekerja sama dengan investor dan sebagainya. Itulah yang akan menguatkan Jawa barat.

Sementara Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Provinsi Jawa Barat Hermansyah mengatakan bahwa prioritas pihaknya saat ini adalah membangun kepercayaan publik terkait apa saja upaya yang telah dilakukan pemerintah.

"Masyarakat perlu diperlihatkan berbagai pencapaian yang dilakukan pemerintah, misalnya kini Jawa Barat telah mampu membangun banyak fasilitas kesehatan, memperbanyak tes covid-19, produksi APD, dan produksi mesin ventilator," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini