Sektor Kuliner Primadonanya Ekraf Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 08 September 2020 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 08 406 2274208 sektor-kuliner-primadonanya-ekraf-indonesia-m9qiFhHvBi.jpg Kuliner Nusantara. (Foto: Kemenparekraf)

SEKTOR ekonomi dan kreatif Indonesia digadang-gadang mempunya potensi besar menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia ke depan. Termasuk sektor kuliner yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang dikelola kementerian, subsektor kuliner menjadi salah satu primadona bagi pelaku usaha maupun konsumen.

Data 2017 mencatat, subsektor kuliner mampu memberikan kontribusi sebesar 41 persen dari total pendapatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar hingga 8,8 juta orang dan 5,5 juta pelaku industri kuliner sampai 2019.

Melihat potensi tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus melakukan berbagai upaya guna mengembangkan industri ekonomi kreatif, khususnya sektor kuliner. Salah satu upaya yang tengah dilakukan saat ini adalah mendukung gelaran FoodStartup Indonesia (FSI) MMXX yang akan digelar di Bali pada Oktober 2020 mendatang.

FSI MMXX merupakan program yang bertujuan memberikan pendampingan dan akses pembiayaan kepada pelaku kuliner tanah air berbasis teknologi informasi. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo mengatakan, ada 100 finalis yang berhak tampil dalam sesi Demoday pada puncak FSI Oktober nanti.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Komodo yang Harus Traveller Ketahui, Nomor Terakhir Khusus Wanita

kuliner

“Peserta Demoday berkesempatan mengikuti direct mentoring, business coaching, mendapat akses permodalan, sekaligus akses pemasaran. Bagi peserta FSI, pelaksanaan Demoday saat pandemi ini merupakan tahapan yang sangat dinantikan sebagai ajang unjuk diri untuk memperoleh peluang suntikan pendanaan,” ujar Fadjar Hutomo seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (8/9/2020).

Secara demografi, 100 finalis FSI MMXX berasal dari 17 provinsi dengan dominasi masih berasal dari provinsi di Pulau Jawa. Lima provinsi terbanyak yaitu Jawa Barat (22 finalis), Jawa Timur (19), DKI Jakarta (18), Banten (12) dan Jawa Tengah (9). Sementara bila dilihat berdasarkan gender, perbandingan antara pria dan wanita yaitu 57:43.

"Angka ini membuktikan bahwa tidak ada dominasi yang terlalu besar antara pelaku sektor kuliner ditinjau dari jenis kelamin," ungkap Fadjar.

Sementara itu, Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf, Hanifah Makarim, menjelaskan, situasi pandemi tidak saja berdampak pada jumlah peserta namun juga mengubah komposisi jenis perusahaan yang lolos pada tahap Demoday.

Bila pada empat tahun penyelenggaraan sebelumnya FSI lebih diminati jenis perusahaan food manufacture, tahun ini komposisinya hampir berimbang antara food manufacture dan food service yaitu 57%:43%.

Pada pelaksanaan FSI tahun ini pengajuan pendanaan dari food service lebih besar dibanding mfood manufacture. Total pengajuan pendanaan dari food service sebesar Rp66 miliar, sementara food manufacture sejumlah Rp47 miliar.

“Sedangkan pada aspek jenis pendanaan yang dibutuhkan, panitia FoodStartup Indonesia (FSI) MMXX mengidentifikasi ke dalam lima sumber yaitu bank, equity, fintech, profit sharing, dan lembaga pinjaman lainnya. Sumber pendanaan dari bank dan equity paling diminati oleh masing-masing perusahaan baik food manufacture dan food service," jelas Hanifah.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio optimis bahwa penyelenggaraan kegiatan ini dapat membangkitkan sektor kuliner Indonesia, meski kini dunia tengah dilanda pandemi Covid-19.

“Kami harap ini dapat membantu pelaku ekraf kuliner untuk bangkit dan produktif kembali. Sehingga usaha kuliner mereka bisa berkembang dan potensi yang ada tergarap optimal,” ujar Wishnutama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini