Fakta Menarik 7 Patung Ikonik di Jakarta yang Harus Traveller Tahu

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Selasa 08 September 2020 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 08 549 2274370 fakta-menarik-7-patung-ikonik-di-jakarta-yang-harus-traveller-tahu-CLWJHEm4yB.jpg Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta (Foto Pixbay)

JALAN-jalan di Jakarta, Okezoners bukan hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi dengan gemerlap cahaya di malam hari dan kepadatan lalu lintas. Tapi, ada juga patung-patung ikonik yang bisa jadi daya tarik bagi wisatawan.

Patung-patung ini berdiri megah dan kokoh. Bentuknya beragam, dari pahlawan hingga tokoh legenda. Patung ini bukan sekadar seni, tapi ada sejarah penting di balik pembuatannya.

Baca juga: 5 Tempat Wisata Romantis di Bandung, Asyik buat Honeymoon

Berikut 7 patung ikonik di Jakarta beserta dengan cerita di baliknya:

1. Patung Diponegoro

Patung Diponegoro sebelumnya terkenal dengan patung Kartini, karena di atas taman tersebut berdiri patung seorang ibu yang diidentikan dengan Ibu Kartini, yang kini ditempatkan di Taman Medan Merdeka. Patung Diponegoro dibangun atas prakarsa dan sumbangan PT. Ciputra Group yang dibuat oleh pematung Munir Pamuntjak.

Taman tempat berdirinya Patung Diponegoro, sebenarnya merupakan pulau jalan yang berfungsi sebagai pembagi sirkulasi. Taman ini tepatnya berada di depan Gedung Bappenas, sehingga dikenal pula dengan taman Bappenas.ilustrasi

Patung Diponegoro (Okezone.com/Dede)

Patung yang berdiri di hamparan bunga-bunga rambat yang didominasi warna hijau dan jingga dibagian pinggir. Dari kejauhan tampak jelas patung yang menggambarkan Pangeran Diponegoro sedang menunggangi seekor kuda.

Terletak dipertemuan Jalan Diponegoro dengan Jalan Imam Bonjol. Diapit dua objek yaitu Gedung Bappenas dan Taman Suropati. Patung yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada 6 Desember 2005 ini ditaksir memakan biaya hingga Rp 10 miliar.

2. Patung Arjuna Wijaya

Patung Arjuna Wijaya atau juga disebut Patung Arjuna Wiwaha atau Patung Asta Brata adalah monumen berbentuk patung kereta kuda dengan air mancur yang terbuat dari tembaga.

Baca juga: 4 Tempat Wisata Asyik Disinggahi saat Kamu Jalan-Jalan ke Bandung

Perancang Patung Arjuna Wijaya adalah maestro pematung Indonesia asal Tabanan, Bali, Nyoman Nuarta. Patung ini dibangun sekitar tahun 1987, seusai lawatan kenegaraan Presiden Indonesia Soeharto dari Turki. Proses pembuatan Patung Arjuna Wijaya dikerjakan oleh sekitar 40 orang seniman dan pengerjaannya dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

Patung Arjuna Wijaya menggambarkan sebuah adegan dalam kisah klasik Mahabharata, di mana dua tokoh dari kubu Pandawa, yaitu Arjuna yang menggenggam busur panah dan Batara Kresna yang menjadi sais sedang menaiki kereta perang berkepala garuda yang ditarik delapan ekor kuda yang melambangkan delapan filsafat kepemimpinan 'Asta Brata'.ilustrasi

Warga melintas di sekitar Patung Arjuna Wiwaha (Okezone.com/Arif)

Keduanya digambarkan sedang berada dalam situasi pertempuran melawan Adipati Karna yang berasal dari kubu Kurawa.

Menurut Nyoman Nuarta, patung Arjuna Wijaya membutuhkan biaya hingga Rp300 juta dalam penyesuaian harga tahun 1987. Patung ini direnovasi pada awal Oktober 2014 dan diresmikan kembali oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 11 Januari 2015. Patung mengalami penambahan bayangan gerak kuda, perbaikan instalasi air mancur, dan tempat untuk berpose di bagian depan patung.

3. Patung Jenderal Sudirman

Patung Jenderal Sudirman ada di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Patung perunggu karya Edi Sunaryo, seniman Bandung ini berdiri di Jalan Sudirman. Tingginya mencapai sekitar 12 meter. Jenderal Sudirman merupakan Panglima Besar Indonesia.

ilustrasi

Kalau traveler ingin memotret patung ini, bisa dari tepi jalan ataupun jembatan penyeberangan yang ada di dekatnya. Ditaksir, pembuatan ini patung ini mencapai Rp 6,6 miliar.

4. Patung Pemuda Membangun

Patung Pemuda Membangun terletak di Bunderan Senayan, Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Sisingamangaraja. Patung ini dibuat sebagai penghargaan untuk para pemuda dan pemudi dalam keikut sertaannya pada pembangunan Indonesia.

Dilambangkan dengan seorang pemuda gagah dan kuat yang sedang menjunjung obor berupa piring berapi yang tak pernah padam, mengandung filosofi semangat pembangunan yang tak pernah mati. Ketika itu mulai dicanangkan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) I.

ilustrasi

Patung Pemuda Membangun (Okezone.com/Arif)

Patung ini terbuat dari beton bertulang yang dilapisi oleh teraso, mulai dibangun pada bulan Juli 1971 oleh tim Insinyur, Seniman dan Arsitek (ISA) dipimpin Imam Supardi dan Munir Pamuncak.

5. Patung Selamat Datang Bundaran HI

Patung Selamat Datang atau dikenal juga Monumen Selamat Datang ini didirikan pada 17 Agustus 1961 dan selesai setahun kemudian. Patung berbentuk sepasang manusia menggenggam bunga dan melambaikan tangan ke arah jalan dari Monumen Nasional (Monas).

Patung Selamat Datang ini dibangun untuk menyambut tamu-tamu kenegaraan dalam rangka Asian Games IV yang diselenggarakan di Jakarta kala itu.

Tugu yang mempunyai tinggi penyangga 10 meter dan tinggi patung sekitar 7 meter ini dirancang oleh Henk Ngantung yang pada saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

ilustrasi

Bundaran HI (Okezone.com/Fadel)

Dengan bentuk sepasang manusia yang sedang menggegam bunga dan melambaikan tangan ini mempunyai makna untuk menyambut semua orang yang datang ke Kota Jakarta. Pada saat itu, tempat ini menjadi pintu masuk atau pintu gerbang Kota Jakarta.

Mengapa arah Patung Selamat Datang tersebut ke arah utara? Karena pada saat itu untuk menyambut tamu kenegaraan Asian Games IV dan siapapun yang datang dari arah Monumen Nasional (Monas). Juga, arah utara bermakna ke arah Kota (utara) karena pada saat itu menunjukkan daerah kota sebagai pusat bisnis, perdagangan, dan pendatang dari pelabuhan pada saat itu.

Monumen Selamat Datang Jakarta ini menjadi patung kebanggaan dan telah menjadi ikon atau trademark dari Kota Jakarta hingga saat ini.

6. Patung Tani

Patung Tani atau Tugu Tani terletak di pertemuan Jalan Prapatan-Jalan Arif Rahman Hakim-Jalan Wahid Hasyim-Jalan Ikhw Ridwan Rais dan Jalan Kebon Sirih Raya. Patung yang dibuat sebagai bentuk penghargaan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia ini dilambangkan oleh seorang laki-laki yang memakai caping (topi pak tani) menyandang senapan dan sedang meminta restu pada wanita yang ada disisinya untuk maju ke medan perang.

Patung ini resminya bernama Patung Pahlawan, namun karena topi capingnya itulah, maka orang-orang biasa menyebut patung ini dengan sebutan Patung Pak Tani.

Ide patung ini dimulai saat presiden Soekarno melakukan perjalanan ke kota Moskow dan beliau terkesan dengan patung-patung yang ada disana. Saat itu presiden Russia mengenalkan presiden Soekarno ke salah satu seniman yang bernama Matvei Manizer dan anaknya Otto Manizer.

ilustrasi

Tugu Tani (Okezone)

Mereka pun kemudian diundang ke Indonesia untuk membuat patung yang melambangkan semangat kemerdekaan. Disinilah kedua pematung itu berkelana dan menemukan legenda Jawa Barat yang berkisah tentang seorang Ibu yang mengiringi anaknya untuk pergi berperang. Sang Ibu memberikan semangat supaya sang anak memenangkan setiap peperangan dan selalu ingat dengan orang tua dan negaranya.

Patung perunggu ini dibuat di Rusia dan dibawa ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut, dan kemudian diresmikan pada tahun 1963 oleh Presiden Soekarno. Pada papan di monumennya tertulis 'Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar'.

7. Patung Dirgantara Pancoran

Monumen bersejarah yang terletak di Pancoran Jakarta Selatan ini dibuat pada akhir kepemimpinan Presiden Soekarno, dan kabarnya untuk menyelesaikan proyek pembuatan patung ini, Presiden Soekarno sampai rela menjual mobil pribadinya.

Letaknya diperempatan Jalan Letjen MT Haryono-Jalan Jenderal Gatot Subroto-Jalan Prof. DR. Supomo dan Jalan Pasar Minggu Raya.

Patung Dirgantara ini berbentuk patung manusia yang kuat dan berani terbang menjelajah angkasa, menghadap ke Utara dengan tangannya seakan menunjuk ke arah bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran.

ilustrasi

Patung Dirgantara di Pancoran (Okezone)

Presiden Soekarno ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dilindungi oleh angkatan udara yang kuat dan dilayani oleh transportasi udara yang solid sebagai sarana perpindahan manusia.

Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964-1965. Sedangkan proses pengecorannya dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono, dalam pengerjaannya diawasi langsung oleh Presiden Soekarno sendiri.

Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung berbentuk lengkungan dari beton setinggi 27 Meter. Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana. Pengerjaannya sempat mengalami keterlambatan karena peristiwa G30S/PKI.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini