Hari Raya Galungan, Tanda Kemenangan Semesta

Wiji Adinda Putri, Jurnalis · Rabu 16 September 2020 10:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 406 2278502 hari-raya-galungan-tanda-kemenangan-semesta-7OqU9tbq2g.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

PADA tahun ini perayaan Hari Raya Galungan jatuh pada 16 September-26 September 2020. Lalu, apa sih latar belakang serta makna dari perayaan hari besar umat Hindu tersebut?

Sudah diketahui bersama bahwa masyarakat Bali terkenal akan adat istiadatnya yang masih sangat kental. Banyaknya upacara adat yang dilakukan setiap tahunnya dengan berbagai makna kebaikan di setiap perayaannya, termasuk Hari Raya Galungan.

Perayaan Hari Raya Galungan dilaksanakan setiap 210 hari terhitung dari kalender Bali, tepatnya pada hari Budha Kliwon Dungulan. Berlangsung selama 10 hari berturut-turut, Hari Raya Galungan memiliki makna rasa syukur atas peringatan kemenangan Dharma (kebenaran) yang melawan Adharma (kejahatan) melalui restu Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Latar Belakang Hari Raya Galungan

Dilansir dari berbagi sumber, pada hari Galungan adanya kepercayaan akan di mana para dewa turun ke bumi dan akan kembali ke khayangan setelah perayaan berakhir atau tepat di Hari Kuningan. Dalam sejarahnya bermula akan kisah zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki kekuatan dan kesaktian mandragunanya, yang bernama Raja Mayadenawa.

Memiliki kelebihan akan kesaktiannya tersebut, ia hidup dengan rasa sombong dan angkuh sehingga selalu merasa akan dirinya yang patut untuk disembah oleh rakyat. Bahkan rasa angkuhnya mengakibatkan penguasan atas seluruh wilayah di Bali hingga ke wilayah Lombok, Sumbawa, Bugis, dan Blambangan.

Baca Juga: Berlibur di Era New Normal, Simak 5 Persiapannya

bali

Dampak kesengsaraan yang dirasakan rakyat akhirnya sampai pada keibaan hati seorang pendeta bernama Sangkul Putih atau Mpu Sangkul Putih. Melakukan usaha dari meditasi hingga meminta bantuan atas ilham yang ia terima sudah dilaksanakannya. Hingga tiba bantuan dari India dan Kahyangan yaitu seorang pemimpin Dewa Indra. Kedatangannya yang terlacak oleh Mayadenawa, membuat terjadinya peperangan diantara kedua belah pihak.

Hingga akhirnya kemenangan Dewa Indra yang berhasil membunuh Raja Mayadenawa tersebut disimbolkan sebagai tanda kemenangan kebaikan yang melawan kejahatan. Itulah mengapa adanya peringatan Hari Raya Galungan tersebut. Selain itu juga sebagai perayaan yang memperingati terciptanya alam semesta beserta isinya.

 

Makna Galungan sendiri terlontar dalam Sunarigama yang berbunyi,

“Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.”

Mengartikan makna Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Yang berarti bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Tak lupa dalam peringatannya disertai atau ditandai dengan pembuatan penjor sebagai tradisi. Penjor dibuat menggunakan bambu sepanjang 8 meter lalu dengan posisi melengkung layaknya janur. Pada bagian atas pejor ditaruh penghias dengan hasil bumi, guna melambangkan gunung tertinggi dan nikmat dan kemakmuran yang didapat berasal dari Sang Hyang Widhi Wasa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini