7 Prosesi Hari Raya Galungan, Ritual Sakral Masyarakat Bali

Eka Putri Wahyuni, Jurnalis · Rabu 16 September 2020 17:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 406 2278796 7-prosesi-hari-raya-galungan-ritual-sakral-masyarakat-bali-ZVGhpGfENG.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

PERAYAAN besar Hari Raya Galungan yang dilakukan oleh umat Hindu setiap 210 hari atau 6 bulan dalam kalender Bali. Perayaan ini enjadi peringatan kesejahteraan serta kemenangan atas Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).

Hari Raya Galungan diperingati sebagai bentuk dari rasa syukur kesejahteraan serta kemakmuran yang telah diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Terdapat beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan disertai dengan upacara keagamaan lainnya.

Beberapa kegiatan dilakukan sejak sebelum hingga puncak Hari Raya Galungan menarik disimak. Berikut ini Okezone telah merangkumnya 7 rangkaian yang dilakukan pada perayaan Galungan, dilansir Okezone dari situs resmi Kabupaten Buleleng, Rabu (16/9/2020).

Tumpek Wariga

galungan

Prosesi Tumpek Wariga dilakukan 25 hari sebelum perayaan hari Galungan, tepatnya pada Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Wariga. Tumpek Wariga juga bisa disebut dengan Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, ataupun Tumpek Pengarah. Persembahan ini ditujukan untuk Sang Hyang Sangkara yang merupakan perwujudan Tuhan sebagai Dewa Kemakmuran dan Keselamatan bagi Tumbuh-tumbuhan. Jadi Tumpek Wariga dijadikan sebagai bentuk rasa bersyukur dan wujud kasih cinta manusia kepada tumbuhan.

Dalam prosesi Tumpek Wariga atau Pengatag identik dengan penyajian sesajen dalam bentuk bubur sumsum (bubuh) yang berwarna. Nah adapun makna dibalik penggunaan beberapa warna pada bubuh, yaitu :

- Bubuh putih untuk umbi-umbian

- Bubuh bang untuk padang-padangan

- Bubuh gadang untuk pohon yang berkembangbiak secara generatif

- Bubuh kuning untuk pohon yang berkembangbiak secara vegetatif

Selain bubuh tersebut masih ada beberapa rangkaian lainnya, seperti menyirami pepohonan dengan air suci (tirta wangsuhpada), menaruh sajen bubuh dengan canang pesucian, sesayut tanem tuwuh, dan juga sasat di Pura.

Baca Juga: Bangga! Bali dan Lombok Jadi Pulau Terbaik Dunia 2020

Sugihan Jawa

Selanjutnya ada Sugihan Jawa yang dilaksanakan 6 hari sebelum hari besar Galungan atau setiap Kamis Wage wuku Sungsang. Terdiri dari 2 kata, yaitu Sugi yang berarti suci dan bersih, serta Jawa atau Jaba berarti luar. Jadi maksud dari Sugihan Jawa sendiri adalah sebagai bentuk pembersihan atau penyucian sesuatu yang berada di luar diri manusia. Misalnya saja seperti tempat ibadah, rumah yang ditinggali, dan lain sebagainya. Dalam prosesinya terdiri dari upara yang dinamakan dengan Mererebu atau Mererebon, guna menghilangkan hawa atau apapun yang bersangkutan dengan sifat negatif. Pada beberapa wilayah masyarakat akan memberikan sajen secukupnya atau adapun merayakannya dengan membuat babi guling. Semua yang dikumpulkan nantinya akan dibagi-bagikan kembali kepada masyarakat di sekitarnya.

Sugihan Bali

Kemudian keesokan harinya atau tepat 5 hari atau Jumat Kliwon wuku Sungsang sebelum Galungan dilanjutkan dengan Sugihan Bali. Pada Sugihan Bali terdapat makna dalam membersihkan diri manusia, baik jiwa maupun raganya sebelum melakukan peringatan Galungan tersebut.

Hari Penyekeban

Hari Minggunya atau 3 hari menuju Hari Raya Galungan, memasuki rangkaian Hari Penyekeban. Maksudnya adalah di mana manusia mengekang (nyekeb) dirinya dari nafsu (indriya). Nafsu yang diartikan adalah segala tindakan yang dilarang oleh agama.

Hari Penyajaan

Hari Penyajaan yang berlangsung 2 hari menuju Galungan, di mana umat Hindu diharuskan untuk memantapkan diri akan kesiapannya dalam menyambut Hari Raya Galungan. Seperti arti katanya yaitu Saja yang berarti serius. Menurut sejarah yang ada, pada hari tersebut sudah mulai datangnya Sang Bhuta Dungulan (menundukkan/mengalahkan).

 

Hari Penampahan

Memiliki makna Nampa atau yang berarti menyambut, persis seperti pelaksanaannya yang dilakukan tepat pada Selasa Wage wuku Dungulan (1 hari sebelum). Sembari menyiapkan berbagai perlengkapan guna upacara adat atau keagamaan di esok harinya, seperti membuat penjor dan memotong hewan yaitu babi. Penjor sendiri merupakan simbolik rasa syukur atas kemakmuran yang didapat manusia dalam bentuk batang bambu panjang layaknya janur, lalu dihiasi dengan hasil bumi atau pertanian. Penjor-penjor tersebut akan dipasang di sepanjang jalan, sehingga kesan meriah pun didapatkan dalam perayaan peringatan Galungan.

Sedangkan pada prosesi penyembelihan hewan babi bertujuan untuk simbolik pembunuhan nafsu negatif dalam diri manusia, dan juga dagingnya nanti akan dijadikan sebagai pelengkap upacara keagamaan. Persiapan semacam sajen pada setiap rumah pun diterapkan oleh sebagian masyarakatnya, karena adanya kepercayaan di mana terdapat leluhur yang akan turun ke dunia mengunjungi sanak saudaranya pada saat itu.

Hari Raya Galungan

Pada puncaknya yaitu Hari Raya Galungan, semua persiapan upacara siap dan jiwa raga, serta luar diri manusia juga sudah bersih/suci. Pagi harinya masyarakat akan berbondong-bondong melakukan ibadah atau sembahyangannya dimulai dari rumah masing-masing, lalu beranjak ke Pura terdekat di wilayahnya.

Di momen ini semua keluarga dan sanak saudara akan berkumpul. Perantau akan kembali, dan yang memiliki keluarga masih dalam kondisi dikubur (Mangkisan di Pertiwi) diwajibkan menghantar semacam sajen ke kuburannya atau Mamunjung ka Setra.

Setelah selesai semua rangkaian sebelum hingga menuju puncak hari Galungan, dilanjutkan dengan beberapa prosesi pengembalian. Sehari setelah puncak Galungan akan diadakan yang namanya Manis Galungan, di mana pada hari itu khusus untuk silahturahmi antar sanak saudara.

Dilanjut esoknya dengan Sabtu Hari Pemaridan Guru atau juga sebagai bentuk penyembahan dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa Guru. Minggunya dinamakan dengan Ulihan (pulang), yang berarti kembalinya pada dewa-dewi dan juga leluhur ke kahyangan. Rentang 5 hari ada yang namanya Hari Pemacekan Agung, serta Hari Raya Kuningan pada hari ke sepuluhnya. Hingga akhir dari segala rentetan kegiatan perayaan adalah dengan membakar pejor dan menguburkan abunya di pekarangan rumah masyarakat sebulan sesudah Hari Kuningan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini