Hati-Hati, Kurang Piknik Memicu Stres dan Gampang Emosi

Ilham Rachmatullah, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 406 2282246 hati-hati-kurang-piknik-memicu-stres-dan-gampang-emosi-Ca6lIBX2OQ.JPG Ilustrasi (Foto: Thewordlinks)

KURANG melakukan aktivitas traveling atau piknik dapat memicu seseorang menjadi stres dan mudah marah atau emosional.

Berdasarkan survei yang dikeluarkan Amex Trendex 2020, sebuah laporan tren dari American Express menyebut bahwa orang-orang sangat merindukan liburan atau traveling untuk mengurangi kepenatan dan beban emosional mereka. Terlebih di tengah pandemi global virus corona atau Covid-19 saat ini.

Pada Agustus lalu, American Express merilis hasil jajak pendapatnya setelah mensurvei 2.000 orang di seluruh negeri yang dianggap 'pelancong populasi umum' dengan pendapatan rumah tangga USD70 ribu setahun atau lebih.

Survei tersebut menemukan bahwa hampir setengah (48 persen) responden merasa bahwa tidak bisa bepergian membuat mereka merasa "cemas dan stres". Tiga dari empat konsumen (78 persen) mencatat bahwa bepergian adalah salah satu 'aktivitas teratas' yang paling mereka rindukan saat ini.

Baca juga: Terinfeksi Covid-19 saat Traveling di Inggris, Biaya Pengobatan Gratis!

Melansir laman Travel and Leisure, Rabu (23/9/2020), sebanyak 67 persen responden mengatakan mereka akan tetap membuat grup perjalanan yang kecil, baik bepergian dalam keluarga atau ke daerah sekitar tempat mereka tinggal.

Saat perjalanan dilanjutkan, beberapa orang juga akan mencari opsi pemesanan akses secara langsung sehingga mereka dapat berbicara dan berkonsultasi tentang pembatasan perjalanan, penutupan, dan apa yang diharapkan saat kedatangan tersebut.

Selain kemampuan untuk berbicara dengan seseorang, wisatawan juga mencantumkan standar fleksibilitas dan kebersihan sebagai prioritas utama mereka. Survei juga menunjukkan bahwa mereka bersedia pergi berlibur jika keuntungan yang didapat sesuai ekspektasi. Sedangkan 50 persen responden menyatakan bersedia pindah ke tempat baru selama satu tahun penuh jika diberi insentif ekonomi dan kesehatan.

Ada sejumlah destinasi yang menawarkan hal tersebut, Barbados misalnya. Sebuah negara yang terletak di perbatasan Laut Karibia dan Samudra Atlantik.

Pada bulan Juli lalu, Perdana Menteri Barbados, Mia Amor Mottley mengumumkan bahwa negaranya sedang memertimbangkan wisata selama 12 bulan, yang artinya memungkinkan wisatawan menghabiskan waktu lebih lama di pulau itu. 

“Covid-19 telah menghadirkan tantangan yang luar biasa bagi negara-negara yang bergantung pada pariwisata dan perjalanan dan kami telah mencapai posisi di mana kami menyadari bahwa bagian dari tantangan tersebut berkaitan dengan perjalanan jangka pendek,” kata Mottley kala itu.

“Jadi, jika kita dapat memiliki mekanisme yang memungkinkan orang yang ingin pergi berlibur, melihat matahari, laut dan pasir yang putih serta masyarakat yang stabil, maka Barbados adalah tempat yang tepat untuk Anda datang," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini