Kenapa Curug di Gunung Gede Pangrango Ini Dinamakan Andamas?

Selasa 29 September 2020 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 29 408 2285527 kenapa-curug-di-gunung-gede-pangrango-ini-dinamakan-andamas-8XOObhTZpE.jpeg Curug Andamas di TN Gunung Gede Pangrango (gedepangrango.org)

TAMAN Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di Sukabumi, Jawa Barat memiliki beberapa air terjun atau curug yang pesonanya memikat pengunjung. Air terjun itu bahkan menjadi objek wisata yang sering dikunjungi masyarakat terutama di akhir pekan atau hari libur

Sebut saja Curug Cibeureum, Cipadaranten, Ciwalen, dan Cikaracak. Tapi, ada satu lagi air terjun yang belum banyak terjamah namanya Curug Andamas. Kenapa Andamas?

Baca juga: Air Terjun Tanggedu, Oasis Cantik di Sumba Timur

Curug Andamas berada di kawasan Resort PTN Goalpara. Kawasan ini luasnya mencapai 1.012 Hektare dan memiliki keanekaragaman flora, fauna yang tak kalah unik dibandingkan resort-resort lain di TNGGP. Curug ini dinamakan Andamas oleh petugas yang menjaga kawasan itu.

“Curug yang terdapat di wilayah Resort PTN Goalpara ini dinamakan “Andamas”, yang merupakan singkatan dari nama-nama petugas yang saat itu bertugas di Resort PTN Goalpara pada tahun 2016 yaitu Andri, Dadang dan Amas. Dinamakan demikian oleh petugas, karena pada saat dilakukan pengecekan ke lokasi curug, belum diketahui nama dari curug tersebut. Jadi para petugas berinisiatif memberikan nama “Andamas” untuk memudahkan mengingat curug tersebut,” demikian keterangan seperti dikutip Okezone dari laman gedepangrango.org, Selasa (29/9/2020).

Curug Andamas berada di zona rimba dan memiliki ketinggian sera 30 meter dengan pelataran atau plaza sekira 200 meter persegi.

ilustrasi

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Okezone.com/Salman Mardira)

“Curug Andamas memancarkan keindahan yang luar biasa bagi penikmat alam sejati. Tak kalah pentingnya juga, di sekitar air terjun ini tumbuh berbagai pohon khas hutan hujan tropis seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), rasamala (Altingia excelsa), bermacam-macam tumbuhan pakis serta yang lainnya, yang utama tentunya menjadi salah satu habitat fauna primata owa Jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), dan berbagai jenis burung,” tulis Agus Deni, Pengendali Ekosistem Hutan TNGGP.

Jarak atau akses menuju curug tersebut dapat ditempuh sekira 30 menit dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak dari batas terakhir kawasan hutan dengan perkebunan, sedangkan dari kantor resort berjarak 1 kilometer atau 20 menit dengan menggunakan kendaraan sepeda motor mengikuti akses jalan perkebunan yang masih berbatu sampai tiba di batas kawasan hutan.

Sekadar informasi, TNGGP hingga kini masih ditutup untuk wisatawan karena pandemi Covid-19.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini