Hari Kopi Internasional, Sensasi Ngopi Buatan Barista Difabel

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 02 Oktober 2020 01:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 301 2287019 hari-kopi-internasional-sensasi-ngopi-buatan-barista-difabel-sLWliTCcHV.jpg Kopi. (Foto: Instagram/@sunyi.coffee)

Belajar bahasa isyarat

 sunyi

Sebelum mendirikan Sunyi House of Coffee and Hope, Almas dan teman-temannya turut mempelajari bahasa isyarat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi dengan para karyawannya kelak. Mereka mengambil kursus singkat di Universitas Indonesia selama kurang lebih lima bulan.

"Sambil menunggu kedai selesai dibangun, kami membekali diri dengan belajar isyarat hingga akhir tahun 2018," terangnya.

Barulah pada awal 2019, Almas dan Mario mulai berani membuka lowongan pekerjaan di sejumlah komunitas, serta situs rekrutmen khusus bagi kaum difabel.

Proses rekrutmen memakan waktu selama kurang lebih 1 bulan. Dalam rentang waktu tersebut, Almas menerima 62 lamaran.

"Kala itu, yang interview cuman 17 orang, dan akhirnya 4 orang yang lolos. Terus nambah satu barista lagi," tambahnya.

Toleransi pengunjung sangat tinggi

Tepat pada 3 April 2019, Sunyi House Coffee and Hope resmi beroperasi. Setelah 2 bulan berjalan, Almas mengaku mendapat banyak respons positif dari para pengunjung yang datang ke kedai kopi miliknya.

Tidak hanya itu, sejumlah influencers juga bersedia membantu mempromosikan Sunyi secara cuma-cuma. Akan tetapi, dia juga sempat menemui kendala dan beberapa keluhan konsumen. Contohnya ketika makanan atau minuman yang diantarkan tidak sesuai dengan pesanan, atau masalah waktu penyajian yang terlalu lama.

"Alhamdulillah, orang-orang Indonesia punya toleransi yang sangat tinggi. Jadi sebagai permintaan maaf, biasanya kita kasih cookie. Nah, dari keluhan tersebut, habitnya sudah mulai kebentuk. Lambat laun barista kami pun mulai meningkatkan performanya," papar Almas.

Keunikan lain dari kedai kopi ini adalah konsep full service yang dilakukan oleh para barista.

"Sempat kepikiran pakai konsep self service. Caranya diakali dengan nomor antrian, atau bunyi-bunyian khusus seperti bel. Tapi kami rasa lebih pas full service, karena pengunjung bisa berinteraksi dengan barista kami saat makanan diantar," beber Almas.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini