Manfaat Wisata Wellness di New Normal Covid-19

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 01 Oktober 2020 19:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 406 2286811 manfaat-wisata-wellness-di-new-normal-covid-19-KdrKXjbtO8.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

INDONESIA memiliki segudang potensi wisata wellness atau minat khusus. Tak heran bila di masa pandemi Covid-19, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif gencar mengembangkan potensi tersebut.

Pada dasarnya konsep wisata wellness mengedepankan kebugaran tubuh dan kesehatan. Contohnya menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang bagi wisatawan untuk melakukan aktivitas olahraga seperti yoga, jogging, bersepeda, hingga hiking pun masuk dalam konsep wisata ini.

Pengembangan wisata wellness sejatinya juga telah dilakukan sejak tahun 2012. Namun kembali digencarkan setelah pandemi Covid-19 melanda yang secara tidak langsung mengubah tren dan perilaku wisatawan.

yoga

Baca Juga: Wisata Kuliner di Sulsel, Traveler Harus Coba 5 Makanan Khas Ini 

Menanggapi rencana tersebut, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi mengungkapkan, setuju bila konsep wisata berbasis minat khusus ini dikembangkan. Kendati demikian ada dua kunci utama yang harus diperhatikan Kemenparekraf guna menyukseskan program pengembangan ini.

"Kuncinya ada dua faktor. Pertama, kita harus bisa mengembalikan kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara untuk kembali berwisata. Bagaimana mungkin wisatawan tertarik untuk berwisata, kalau mereka tidak melihat adanya rasa aman dan nyaman," ujar Dede Yusuf saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Kamis (1/10/2020).

Dia menambahkan, konsep wisata wellness atau minat khusus ini sebetulnya juga merupakan bagian dari promosi wisata. Semua negara di dunia bahkan dilaporkan telah mengeluarkan program yang sama.

Dewan Pariwisata Hong Kong beberapa waktu lalu memprediksi ada perubahan perilaku dan preferensi dari para wisatawan saat berlibur setelah pandemi Covid-19 berakhir. Disebutkan bahwa industri pariwisata akan menemukan formula baru yakni, menempatkan kondisi kesehatan publik di negara tujuan sebagai prioritas utama.

Selain itu, wisatawan memiliki standar tersendiri untuk tingkat kebersihan di hotel, area fasilitas umum, serta transportasi di negara tujuan mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa konsep wisata ke depannya tidak lagi mengedepankan kuantitas (jumlah kunjungan) tetapi lebih kepada kualitasnya. Sehingga tak heran bila wisata berbasis wellness atau minat khusus ini diprediksi akan booming pasca pandemi Covid-19.

"Negara lain itu sudah banyak melakukan program yang sama. Daripada terlambat, terus orang-orang malah berlibur ke negara lain, jadi memang lebih baik kita juga ikut mengembangkan. Ini namanya kejar-kejaran dengan market yang bukan umum," jelas Dede Yusuf.

Poin penting lainnya yang tidak boleh luput dari perhatian pemerintah, lanjut Dede, adalah berkaitan dengan pintu pariwisata negara.

Seluruh pintu pariwisata seperti bandara dan pelabuhan, harus dipastikan telah melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Pasalnya, hal-hal seperti inilah yang nantinya akan menjadi salah satu pertimbangan para wisatawan untuk mengunjungi suatu negara.

"Di sini yang berperan penting adalah Imigrasi dan pihak-pihak yang bertanggung jawab di pintu negara. Mereka harus memastikan protokol kesehatan terlaksana dengan baik, dan jangan sampai terjadi lagi kasus-kasus pelecahan seksual seperti yang kemarin viral," kata Dede Yusuf.

"Intinya jangan ada lagi oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sehingga kepercayaan wisatawan akan meningkat. Semuanya harus digarap dengan serius," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini