Share

Napak Tilas Lokasi Berdarah G30S/PKI, Kini Jadi Museum

Ilham Rachmatullah, Jurnalis · Kamis 01 Oktober 2020 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 408 2286689 napak-tilas-lokasi-berdarah-g30s-pki-kini-jadi-museum-6OdFMmwPDl.jpg Lukisan Ahmad Yani di Museum Sasmita Loka. (Foto: Dimas/Okezone)

KEGANASAN PKI pada 30 September 1965 menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia yang jadi renungan. Banyak lokasi bersejarah yang menjadi saksi bisu yang kini menjadi objek wisata.

Ya, di beberapa lokasi bersejarah di Tanah Air, terjadilah Gerakan 30 September, Gestapu, Gestok atau di dalam dokumen pemerintah tertulis gerakan 30 September/PKI yang disingkat G30S/PKI. Peristiwa memilukan ini terjadi semalaman pada 30 September sampai awal bulan, tepatnya 1 Oktober 1965.

Saat itu 7 perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta. Hal ini menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia, karena menjadi salah satu peristiwa yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Setiap tahunnya, pada 30 September diperingati kembali tragedi G30S/PKI. Tentunya peringatan ini dilakukan untuk mengingatkan generasi Indonesia selanjutnya, tentang tragedi berdarah yang menjadi pembelajaran agar sejarah kelam tersebut tidak terulang kembali.

Lebih lanjut, berikut ini Okezone rangkum beberapa tempat yang menjadi saksi dari tragedi G30S/PKI, Kamis (1/10/2020). Yuk simak!

Baca Juga: Pulau Failonga, Surga Snorkeling di Tidore yang Indahnya Kebangetan!

Monumen Pancasila Sakti

pancasila

Monumen ini terletak di Jalan Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Lokasi ini menjadi tempat pembuangan jenazah 7 Jenderal yang gugur pada saat peristiwa G30S/PKI.

Monumen yang berdiri di atas lahan seluas 9 hektare ini juga terdapat beberapa tempat yang bersejarah diantaranya Museum Pengkhianatan PKI (komunis), Sumur Maut, Rumah Penyiksaan, Dapur Umum dan Museum Paseban.

Di dalam Museum Pengkhianatan PKI kita dapat melihat dan menyaksikan 34 diorama yang merekam adegan pada peristiwa pemberontakan G30S/PKI terjadi.

Selain itu, kita juga bisa menyaksikan video dokumenter peristiwa G30S/PKI di sebuah ruangan teater.

Sementara Sumur maut adalah sebuah sumur tua tempat 7 pahlawan revolusi dibuang dan kemudian jasadnya ditemukan.

Museum Sasmita Loka Ahmad Yani

a yani

Museum ini terletak di Jalan Lembang D.58, Menteng, Jakarta Pusat. Museum ini awalnya merupakan kediaman tempat tinggal Jenderal Ahmad Yani.

Rumah ini juga menjadi saksi bisu penembakan sang Jenderal pada malam peristiwa 30 September tahun 65 terjadi.

Putra bungsu Jenderal Ahmad Yani, Irawan Sura Eddy (Eddy Yani) menceritakan sedikit peristiwa berdarah yang dialami sang ayah. Karena kala itu, Eddy memang menyaksikan langsung peristiwa berdarah tersebut.

"Saya bahkan yang membangunkan bapak, saat pasukan datang mengepung rumah ini," ungkap Eddy saat memandu Okezone Travel di Museum Sasmita Loka Ahmad Yani, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 30 September 2020.

Pada area depan museum ini pengunjung dapat melihat dan disambut langsung oleh patung Jenderal Ahmad Yani setinggi 3 meter yang berdiri kokoh. Patung karya seniman Soenarto PR ini diukir dengan postur tubuh yang gagah serta mengenakan seragam Angkatan Darat (AD).

Museum atau dahulu menjadi kediaman Jenderal Ahmad Yani ini mengoleksi beberapa barang peninggalan sang jenderal seperti ratusan piagam dan penghargaan yang didapatkan Jenderal Ahmad Yani semasa hidup.

Di dalam juga terdapat ruang tamu, ruang makan, kamar tidur sang jenderal dan juga bekas tembakan yang masih terpampang jelas di jendela pintu, lemari dan juga mengenai lukisan.

Follow Berita Okezone di Google News

Museum Abdul Haris Nasution

Museum ini dahulu merupakan kediaman Jenderal Abdul Haris Nasution yang terletak di Jalan Teuku Umar No.40 Menteng, Jakarta Pusat. Museum ini diresmikan pada 3 Desember 2008 bertepatan dengan kelahiran sang jenderal A.H Nasution.

Museum seluas 2000 meter persegi ini menjadi saksi dan prasasti hidup dari jenderal besar A.H Nasution dan keluarga.

Di kediaman ini sang jenderal telah menghasilkan banyak karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negaranya.

Di lokasi ini juga pada tanggal 1 oktober tahun 1965 telah terjadi peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang berusaha diculik dan dibunuh.

Namun dalam peristiwa tersebut putri kedua sang jenderal yakni Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur dalam tragedi tersebut.

Museum ini juga menampilkan diorama yang memperlihatkan kronologi penyerangan serta upaya penculikan sang jenderal mulai dari peristiwa yang merenggut nyawa Ade Irma hingga patung yang memperlihatkan Jenderal Nasution kabur dengan melompati tembok.

Terdapat juga lubang bekas tembakan di tembok dan meja yang masih terpampang jelas dengan ditandai lingkaran merah.

Ada pula ruangan khusus yang memamerkan foto-foto, lukisan serta peninggalan Ade Irma Suryani seperti boneka, tas kulit kecil, dan tempat minum plastik.

Monumen Pancasila Jaya, Banyuwangi

Monumen ini juga dikenal dengan nama Monumen Lubang Buaya yang terletak di Jalan Raya Cemetuk, Pesawahan, Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Tempat ini merupakan saksi gerakan PKI di Banyuwangi. Puluhan korban jiwa dikubur secara massal dalam tiga sumur tua. Tragedi berdarah itu juga diabadikan dalam sebuah relief dan bentuk patung garuda pancasila.

Relief tersebut menampilkan dan juga menggambarkan peristiwa pembunuhan keji terhadap 62 Pemuda Ansor dalam peristiwa G30S/PKI.

Monumen tersebut juga terdapat tulisan dengan kalimat “Monumen Pancasila Jaya. Di sini pada tanggal 18-10-1965 telah terjadi pembunuhan massal terhadap 62 orang pemuda pancasila oleh kebiadaban G30S/PKI”.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini