Monumen Lubang Buaya, Saksi Kekejaman PKI yang Punya Aura Mencekam

Wiji Adinda Putri, Jurnalis · Jum'at 02 Oktober 2020 00:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 408 2286874 monumen-lubang-buaya-saksi-kekejaman-pki-yang-punya-aura-mencekam-xVgc3J6Pbn.jpg Monumen Pancasila Sakti. (Foto: Wiji Adinda/Okezone)

PADA 30 September hingga 1 Oktober 1965, tujuh perwira Angkatan Darat dibunuh secara tragis dalam upaya kudeta berdarah yang diyakini gerakan PKI. Peristiwa ini dikenal dengan Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Kenangan yang sangat membekas untuk sejarah bangsa Indonesia itu, akhirnya dibentuk beberapa museum untuk mengenang perjuangan para pahlawan revolusi. Salah satu tempat yang menjadi saksi bisu pertumpahan darah dan segenap penyiksaan yang dilakukan oleh PKI adalah Monumen Pancasila Sakti.

Monumen yang berada di Jalan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur ini berdiri di atas tanah seluas 14,6 hektar. Guna mengingat perjuangan pahlawan revolusi dalam mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, akhirnya bangunan monumen ini.

Di dalam monumen tersebut, ada berbagai tempat hingga barang yang menjadi saksi bisu atas kejadian G30S/PKI. Terdiri dari Museum Pengkhianatan PKI (Komunis), Sumur Tua (Lubang Buaya), Rumah Penyikasaan, Pos Komando, Dapur Umum, Museum Paseban, hingga mobil-mobil yang menjadi peninggalan Pahlawan Revolusi.

Museum Pengkhianatan (PKI) memajang kisah sejarah pemberontakan PKI yang dilengkapi dengan berbagai koleksi foto-fotonya secara berurutan, hingga tiba pada pemberontakan kedua yaitu G30S/PKI. Selain itu, terdapat koleksi foto lain, seperti saat pengangkatan jenazah ke tujuh Pahlawan Revolusi, serta beberapa diorama pemberontakan PKI di berbagai wilayah di Indonesia.

Baca Juga: 4 Wisata Alam Menakjubkan untuk Liburan Singkat di Malaysia

monumen

Lalu terdapat pula Rumah Penyiksaan, yang mana mulanya tempat ini dijadikan sebagai sekolah. Tetapi saat tragedi tersebut berubah menjadi sebuah ruang penyiksaan kepada 7 Pahlawan Revolusi dalam menandatangi surat pernyataan mendukung komunisme di Indonesia.

Akhirnya saat ini terdapat diorama Pahlawan Revolusi saat disiksa oleh para komunis, serta terdapat pemutaran rekaman suara adegan saat penyiksaan tersebut. Selanjutnya lokasi yang dinamakan Pos Komando, yang merupakan tempat milik warga sekitar dan dijadikan untuk tempat berkumpul dan merencanakan penculikan terhadap pahlawan revolusi.

Saat Okezone mengunjungi monumen ini, masih nampak beberapa barang yang menjadi peninggalan saat itu. Sudah tidak begitu bagus, namun masih terlihat utuh.

Seperti lemari kaca, mesin jahit, dan beberapa kursi. Adapun Dapur Umum yang direbut tanpa izin dari pemiliknya dahulu, kini dijadikan ruang penyimpanan logistik dan pengolahan konsumsi untuk PKI.

Saat ini masih tersisa juga beberapa barang di dalamnya sebagai peninggalan. Salah satunya adalah wajan dengan ukuran besar yang sudah menghitam.

Tak sampai di situ, semakin jelas untuk melihat bekas-bekas peninggalan sejarah dari peristiwa kelam G30S/PKI terdapat di Museum Paseban yang masih satu kompleks dalam Monumen Pancasila Sakti. Resmi pada tanggal 1 Oktober 1981, Museum Paseban terdiri dari beberapa diorama.

Terdapat 9 diorama antara lain saat persiapan pemberontakan, penculikan Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani, pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi dari Sumur Tua (Lubang Buaya), hingga pembentukan Supersemar.

Lanjut ke lokasi paling bersejarah yaitu Sumur Tua atau biasa dikenal dengan Lubang Buaya. Tempat ini yang dijadikan lokasi pembuangan jenazah 7 Pahlawan Revolusi. Diketahui dari keterangan seorang petugas pemandu wisata Monumen Pancasila Sakti, Pak Arifin bahwa mulanya anggota PKI membuat 2 tipuan galian untuk mengecohnya.

“Jadi ada 2 tipuan, yang satu tanah yang dicangkul terus ditaburi daun kering. Nah satunya lagi ada tanah bekas cangkulan ada daunnya. Setelah digali ternyata itu tanah kasar atau tanah waras, hanya ditimpuk cangkul terus ditaburi daun. Dia mengecoh dengan 2 cangkulan, jadi sumur aslinya cuma satu,"ungkap pemandu wisata Arifin kepada Okezone, saat berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti.

Sumur itu, kata Arifin, sekarang tidak berfungsi lagi. Karena umur aslinya adalah tanah yang dilubangi dalamnya 12 meter. Ditambah dengan ditimbun potongan-potongan pohon pisang, peti, daun-daun kering, baru di dalamnya adalah jenazah. Diameternya sekira 75 sentimeter.

"Tapi setelah dipakai membuang jenazah dan walaupun jenazahnya sudah diambil, orang sudah tidak mau menggunakan air sumur itu lagi. Lama-lama sumurnya kering, biasanya kalau sumur kering tanah di atasnya runtuh sedikit demi sedikit,” ucapnya.

Jadi saat ini untuk Sumur Tua itu sendiri sudah tidak seutuhnya asli. Karena diberikan penerang pada pinggiran lubangnya, serta dipasang lampu pada pertengahan sumur agar pengunjung dapat melihat isi dalamnya tanpa harus bersusah payah.

Ada  pula Ruang Relik yang berisikan bekas pakaian yang dikenakan para korban dari saat diculik, hingga saat dibunuh. Terdapat beberapa barang yang sempat terbawa juga saat tragedi pembunuhan. Ada juga alat visum dokter dan alat bantu pernafasan para tim evaluasi jenazah dari dalam sumur.

Setelah lelah bekeliling tak ada salahnya bersantai sembari menyaksikan pemutaran rekaman bersejarah. Rekaman tersebut menunjukkan momen pengangkatan jenazah 7 pahlawan revolusi hingga pemakamannya di Taman Makam Pahlawan, Kalibata.

Lalu nilai apa sih yang bisa didapatkan saat berada di Pancasila Sakti? Menurut Pengunjung, Wahdatul (20), monumen ini cukup menjelaskan bagaimana perjalanan dari G30S/PKI.

"Jadi nilai nasionalisnya lebih dapat, lebih kerasa perjuangannya itu dan patut untuk dihargai,” ujar Wahdatul. (dwk)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini