Hari Batik Nasional, Mengenal Kampung Batik Palbatu Jakarta

Ilham Rachmatullah, Jurnalis · Jum'at 02 Oktober 2020 11:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 02 408 2287244 hari-batik-nasional-mengenal-kampung-batik-palbatu-jakarta-3wYMopajdR.jpg Perempuan membatik di Kampung Batik Palbatu, Jakarta (Foto kampoengbatikpalbatu.com)

HARI Batik Nasional diperingati tiap 2 Oktober, sekaligus untuk mengapresiasi ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan Untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada hari ini 11 tahun lalu.

Secara umum batik adalah kain yang dilukis dengan cairan lilin malam menggunakan alat bernama canting sehingga di atas kain tersebut terdapat lukisan bernilai seni tinggi. Meski sekarang ini teknik membatik sudah lebih modern dengan mesin cetak atau printing.

Baca juga: Hari Kopi Internasional, Sensasi Ngopi Buatan Barista Difabel

Namun karena sejarah dari leluhur, teknik membatik dengan cara tradisional masih banyak diminati karena semakin sulit tingkat proses membatik maka semakin mahal harga jualnya.

Nah, di Jakarta ada tempat wisata sekaligus edukasi batik. Namanya Kampung Batik Palbatu. Di sini ada Rumah Batik yang letaknya di Jalan Palbatu IV, Nomor 17, Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Di sini, pengunjung bisa belajar aneka motif batik, sejarah hingga cara membuat batik.

Kampung Batik Palbatu merupakan sebuah kawasan yang dikembangkan untuk melestarikan dan mengembangkan batik.

“Melalui Kampoeng Batik Palbatu, kami ingin mengajak generasi muda Indonesia untuk menyintai batik dengan melestarikan dan mengembangkannya. Melalui program edukasi Belajar Membatik, Sekolah Batik Palbatu yang berada dalam naungan Kampoeng Batik Palbatu, kami menyebarluaskan keunikan proses pembuatan batik yang masih sangat jarang diketahui, khususnya bagi anak-anak dan remaja,” demikian keterengan seperti dikutip dari laman resmi Kampoeng Batik Palbatu, Jumat (2/10/2020).

Sejarah dan alasan berdirinya Kampung Batik Palbatu adalah berawal dari rasa keprihatinan tiga orang pemuda kreatif, Bimo, Iwan dan Hary atas tidak adanya kampung batik di Jakarta.

Baca juga: Pengembangan Wisata Wellness Harus Berdayakan Masyarakat Lokal

Hary kemudian membentuk Forum Komunikasi Pengembangan Kampung Batik Palbatu di Jalan Palbatu. Pada 21-22 Mei 2011, mereka kemudian mengundang 18 pengrajin batik dari Jawa untuk berbagi ilmu membatik kepada warga di Jalan Palbatu dan sekitarnya.

Pada 2 Oktober 2011, Hary mendirikan Rumah Batik Palbatu agar lebih mudah mengedukasi masyarakat tentang batik. Awalnya diakui sulit, tapi seiring berjalan waktu semuanya berubah mengembirakan.

“Dengan kegiatan batik di sini bahwa kami mengenal setiap orang lewat batik,” kata Hary.

Hary bisa menerapkan filosofi-filosofi batik kepada masyarakat Palbatu. “Dunia batik tidak hanya sekedar kain atau motif saja tapi bagaimana kita bisa berbuat sesuatu untuk orang lain lewat batik,” ujarnya.

Menurut Hary, generasi muda Indonesia harus mengenal batik karena ini warisan nusantara yang diakui dunia.

“Melestarikan batik karena memang ini warisan dan menjaga warisan adalah satu hal yang harusnya menjadi satu tanggung jawab kita juga ke generasi penerus.”

“Para pembatik harus tetap hadir, namanya warisan harus kita jaga dan kita pelihara sebaik mungkin agar terus bekelanjutan tidak punah serta diklaim oleh negara lain.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini