Kampung Kembangsongo, Pencetak Batik Khas Bantul yang Harganya Selangit

Putri Aliya Syahidah, Jurnalis · Jum'at 02 Oktober 2020 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 02 408 2287532 kampung-kembangsongo-pencetak-batik-khas-bantul-yang-harganya-selangit-c9i295D4Zm.JPG Perajin batik nitik (Foto: Info Batik)

HARI ini, Jumat (2/10/2020) bertepatan dengan hari batik nasional. Batik telah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO sejak 2009 silam. Motif batik dari masing-masing daerah berbeda dan memiliki ciri khasnya tersendiri. Seperti Nitik Kembangsongo yang menjadi kain batik khas Bantul, Yogyakarta.

Mengutip dari channel YouTube iNews TV Semarang, batik ini memiliki ciri khas yang disusun dengan menjiplak motif yang sudah ada dan membentuk kotak-kotak kemudian menjadi satu dan diulangi ke seluruh kain.

Batik Nitik berasal dari Dusun Kembangsongo, Kelurahan Tri Mulyo, Kecamatan Jetis, Bantul. Secara turun temurun, kaum perempuan yang berada di dusun ini mewarisi keahlian membatik yakni nitik yang mengacu pada batik Yogyakarta.

Baca juga: Selamat Hari Batik Nasional! Intip 4 Museum Batik di Indonesia

Sesuai dengan namanya, kain batik ini dibuat dengan menitikkan malam ke dalam kain putih. Jika batik lainnya diproses dengan mengoleskan malam cair menggunakan canting biasa, maka dalam pembuatan batik nitik memakai canting yang sudah dimodifikasi.

Menukil dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, canting khusus ini dibuat sendiri dengan membelah lubang kedua arah yang saling tegak lurus sehingga ketika ditapakkan ke kain akan membentuk kotak dan disebut canting cawang atau kembang.

Proses pembuatan kain batik nitik ini memerlukan kesabaran dan kecermatan yang tinggi, karena rumit maka harga jualnya pun mencapai jutaan rupiah. Jika selembar kain batik umumnya dijual seharga Rp200 ribu, maka kain batik Nitik Kembangsongo ini paling murah dijual seharga Rp1 juta.

Tingginya harga jual kain batik jenis Nitik Kembangsongo ini cukup beralasan, karena proses pembuatannya memerlukan keterampilan khusus dibanding pembatik biasa.

“Memerlukan keahlian yang khusus karena ini membutuhkan keterampilan dan ketelitian tangan. Dari segi alat juga beda, cantingnya pun berbeda dari yang lainnya,” ujar pelestari kain batik Nitik Kembangsongo, Iswanto.

Saat ini, pengrajin batik nitik hanya dilakukan oleh kaum perempuan lansia akibat generasi muda yang lebih tertarik dengan bekerja di pabrik.

Jika terus seperti ini, maka kain batik nitik terancam punah. Untuk melestarikan warisan budaya bernilai tinggi ini, perlu peran serta anak muda dan pemerintah untuk mempromosikannya dengan baik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini