Kembangkan Ekowisata di Tengah Covid-19, Ini Hal Penting Harus Diperhatikan Pemerintah

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 06 Oktober 2020 15:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 06 406 2289172 kembangkan-ekowisata-di-tengah-covid-19-ini-hal-penting-harus-diperhatikan-pemerintah-en5fp9zAq0.jpg ilustrasi (stutterstock)

MANTAN Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mendukung keputusan pemerintah mengembangkan wellness tourism atau wisata minat khusus di masa pandemi Covid-19, yang salah satu katagorinya adalah ekowisata.

Menurut Wamenparekraf periode 2011-2014 ini, ekowisata memang sangat ideal dikembangkan selama masa pandemi Covid-19, karena konsep yang diusung lebih menonjolkan outdoor activities atau kegiatan di luar ruangan, sehingga diklaim dapat meminimalisasi risiko penularan virus corona.

Baca juga:  Mengenal Wisata Wellness yang Sedang Dikembangkan Pemerintah di Tengah Covid-19

Ekowisata juga sejalan dengan protokol kesehatan yang telah direkomendasikan para pakar kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Mengapa ekowisata ini penting? Basisnya kan alam bebas, otomatis aktivitas yang dilakukan lebih banyak di luar ruangan. Wisatawan tidak perlu khawatir lagi dengan sirkulasi udara tertutup yang dipercaya dapat menyebarkan virus. Protokol kesehatan seperti jaga jarak juga lebih mudah dilakukan," kata Sapta Nirwarndar kepada Okezone, Selasa (6/10/2020).

 ilustrasi

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Okezone.com/Salman Mardira)

Namun dalam pengembangannya, lanjut Sapta, ada beberapa poin penting yang tak boleh luput dari perhatian Kemenparekraf. Salah satunya terkait dengan penerapan protokol kesehatan di destinasi itu sendiri.

Baca juga:  Ini Hal yang Harus Diperhatikan Pendaki saat Turun Gunung

Meski lokasinya cenderung terpencil dan tidak memicu terjadinya kerumunan massa, tidak menutup kemungkinan wisatawan tertular ketika menuju destinasi. Bisa jadi mereka tertular dalam perjalanan karena menggunakan transportasi umum, atau ketika berada di hotel yang notabennya disambangi oleh banyak wisatawan dari berbagai daerah.

"Jadi mau tidak mau protokol kesehatan masih tetap harus diberlakukan. Jangan lengah, agar tidak memunculkan klaster baru," kata pria yang kini menjabat Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center dan Forum Pariwisata Indonesia.

 

Poin selanjutnya berkaitan erat dengan kelestarian alam di destinasi tujuan. Sapta menjelaskan bahwa setiap daerah yang memiliki potensi ekowisata, lebih baik memaksimalkan potensi alam yang mereka miliki, daripada membangun atraksi-atraksi buatan karena justru dapat merusak ekosistem, serta esensi dari konsep ekowisata itu sendiri.

Contohnya membangun spot-spot instagramable. Hal-hal seperti ini harus dihindari karena daya tarik utama ekowisata memang lebih kepada suasana dan panoramanya.

"Perlu diingat ciri lain ekowisata itu bukan mass tourism, tapi lebih niche tourism. Jadi targetnya bukan meraup jumlah kunjungan wisatawan sebanyak-banyak. Tetapi lebih ke kualitas produk yang ditawarkan. Jadi, spot-spot instragamble buatan itu tidak diperlukan lagi. Kalau wisatawan mau selfie, ya tinggal bagaimana mereka mencari spot alami yang cantik, lalu mengolahnya," jelas Sapta.

Di samping itu, lanjut Sapta, local guide atau pemandu wisata juga sangat berperan penting dalam meningkatkan kepuasan wisatawan. Selain menikmati keindahan alam, wisatawan juga bisa mendalami kearifan lokal (local wisdom).

Terutama bagi para senior citizen (turis yang sudah lanjut usia). Biasanya mereka akan menggali banyak informasi sebelum mengunjungi suatu tempat, lalu mengonfirmasi informasi itu kepada penduduk lokal.

Hal-hal seperti ini tentu hanya bisa mereka lakukan ketika dilayani oleh pemandu wisata yang memang benar-benar ahli dan berkompeten di bidangnya.

"Local guide itu bisa jadi ujung tombak, karena merekalah yang dapat menjelaskan secara rinci tentang local wisdom atau mitos-mitos yang ada di suatu daerah. Tidak boleh asbun (asal bunyi). Pengalaman saya waktu ke Machu Pichu di Peru, local guidenya itu menjelaskan secara logis, runut, dan menyenangkan," papar Sapta.

"Jadi kalau mau mengembangkan ekowisata, harus disiapkan pula SDM yang berkualitas. Karena kearifan lokal itu tidak bakal cukup ditulis dalam satu buku. Disinilah peran mereka," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini