Kembangkan Ekowisata, Pemerintah Wajib Perhatikan 3 Indikator Ini

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 06 Oktober 2020 17:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 06 406 2289228 kembangkan-ekowisata-pemerintah-wajib-perhatikan-3-indikator-ini-1Zpew0146S.JPG Kawasan ekowisata hutan mangrove di Kupang, NTT (Foto: Okezone.com/Adi Rianghepat)

PANDEMI Covid-19 membuat perilaku wisatawan dan tren wisata berubah. Bila sebelumnya, banyak negara yang mengusung konsep mass tourism (pariwisata massal), konsep ini ternyata dinilai tidak relevan lagi untuk diterapkan. Terlebih setelah pandemi Covid-19 melanda.

Wisata berbasis alam digadang-gadang akan menjadi tujuan paling populer untuk perjalanan selama masa adaptasi new normal, hingga saat pandemi corona berakhir. Termasuk di dalamnya adalah ekowisata (ramah lingkungan).

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebetulnya pun telah berencana mengembangkan ekowisata seperti wisata wellness (minat khusus), guna menyiasati perubahan perilaku wisatawan domestik maupun mancanegara.

Guru Besar Bidang Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Prof I Gede Pitana, menyatakan bahwa dirinya sangat mendukung rencana tersebut karena dengan situasi ini, memang yang paling mungkin untuk dikembangkan adalah wisata yang sifatnya outdoor (luar ruangan).

Baca juga: Kemenparekraf Gelar Simulasi Protokol Kesehatan pada Wisata MICE Lombok

"Dari protokol kesehatannya bisa dipastikan pelaksanaannya. Mulai dari jaga jarak, lalu udaranya bebas dan ada paparan sinar mataharinya juga. Bisa dibilang memang menyehatkan," ujar I Gede Pitana, saat berbincang dengan Okezone via sambungan telefon, Selasa (6/10/2020).

Namun, mengingat ekowisata termasuk dalam kategori quality tourism (wisata berkualitas), maka pengembangannya harus dilakukan secara hati-hati. Dalam hal ini, ada 3 indikator besar yang harus diperhatikan pemerintah.

Indikator pertama berkaitan erat dengan segmen pasarnya. I Gede Pitana menjelaskan, volume wisatawan yang tertarik untuk menjajal ekowisata memang tidak terlalu banyak. Itulah sebabnya wisata ini masuk dalam kategori niche tourism, karena pasarnya cenderung 'terceruk'.

"Meski sedikit, length of stay (lama tinggal) dan spending (pengeluaran) mereka itu besar sekali dibandingkan dengan wisatawan yang masuk dalam kategori mass tourism. Untuk menikmati alam itu kan tidak cukup 1 atau dua hari, rata-rata bisa sampai satu minggu," ungkap Pitana.

Indikator kedua, lanjut Pitana, mengenai tingkat kepedulian dan apresiasi para wisatawan dalam menghormati budaya dan kearifan lokal. Wisatawan yang menggandrungi ekowisata dinilai lebih tertarik menggali informasi tentang budaya dan kearifan lokal di destinasi yang mereka kunjungi.

Sementara indikator ketiga terkait dengan pelestarian alam di destinasi itu sendiri. Sehingga harus dipastikan bahwa setiap destinasi benar-benar melakukan perawatan dan pelestarian alam dengan baik. Tidak boleh ada aktivitas-aktivitas yang merusak alam. Contohnya merusak hutan, berburu hewan liar, dan lain sebagainya.

"Untuk pasar-pasar yang berkualitas ini. Otomatis produknya juga harus berkualitas. Bagaimana cara menciptakannya? Ya harus lihat ketiga indikator tadi," kata mantan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Kementerian Pariwisata itu.

"Produk yang berkualitas itu juga terbagi lagi ada yang fisik seperti hotel, tempat makan, dan seterusnya. Lalu ada produk nonfisik seperti pelayanananya ramah atau tidak. Ini sangat penting diperhatikan bila ingin mengembangkan ekowisata," imbuhnya.

Sejauh ini, lanjut Pitana, hanya ada dua daerah yang siap untuk mengembangkan ekowisata yakni, Bali dan Yogyakarta. Kedua daerah tersebut dinilai sudah memenuhi semua indikator.

"Mengapai Bali dan Yogya siap? Mereka itu ada pengalaman berpuluh-puluh tahun menjadi destinasi yang diincar wisatawan mancanegara. Kedua, masyarakatnya juga terbuka. Mereka memiliki hospitality yang tinggi. Mulai dari tukang becak pelayan di toko dan lain sebagainya, mereka sangat ramah dan tahu cara melayani wisatawan," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini