Penyedia Open Trip Labuan Bajo Tetap Bertahan dengan Tarif Lama

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 06 Oktober 2020 23:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 06 406 2289549 penyedia-open-trip-labuan-bajo-tetap-bertahan-dengan-tarif-lama-WPubxlJ0m1.jpg Kapal Wisata di Labuan Bajo (Foto: Utami/Okezone)

Banyak pelaku wisata yang terpaksa memberikan promosi besar-besaran demi bertahan dari gempuran pandemi Covid-19. Seperti yang dilakukan para pengusaha hotel di Bali yang nekat membanting rate harga hingga 70% demi menggaet wisatawan.

Lantas bagaimana dengan nasib para penyedia jasa tur dan open trip? Apakah mereka juga menerapkan strategi yang sama?

Menurut pengakuan Rachmat Julio, Founder Anjani Trip, untuk saat ini pihaknya masih memberlakukan rate atau tarif yang sama seperti sebelum Covid-19 melanda. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut.

Sebagai salah satu penyedia jasa open trip di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Julio mengatakan bahwa biaya maintenance kapal dan gaji para crew menjadi alasan utama mengapa dia tetap menerapkan rate yang sama.

Untuk kapal reguler Julio mematok harga mulai Rp2.4 juta per orang, sedangkan kapal phinisi Rp3.4 juta per orang. Sementara untuk menyewa 1 kapal phinisi secara keseluruhan wisatawan harus merogoh kocek senilai Rp40 juta.

Namun bila wisatawan memesan 3-4 pax, maka akan mendapat diskon Rp200 ribu per pax.

"Ratenya sama, tidak bisa kasih diskon jor-joran karena biaya maintenance kapal itu sangat mahal. Setiap hari harus stand by genset untuk memompa air. Kalau tidak ya kapal bisa tenggelam. Ditambah lagi harus gaji crew, dan kebutuhan saya sehari-hari. Agak sulit kalau mau bener-bener banting harga," ungkap Julio saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Senin 5 September 2020.

Lebih lanjut Julio menjelaskan, dirinya juga masih harus memikirkan kebutuhan tambahan penunjang protokol kesehatan. Mulai dari disinfektan spray, hand sanitizer, dan biaya laundry yang harus rutin dilakukan seusai trip.

Sementara untuk fasilitas yang ditawarkan, setiap kapal sebetulnya memiliki konsep yang sama, baik reguler maupun phinisi. Mulai dari transport dari meeting point ke dermaga, kamar AC, makan selama trip, free flow air putih, local guide, snack dan coffee, hingga perlengkapan snorkeling.

Perbedaannya hanya pada ukuran kapal. Kapal regular memiliki lebar sekira 3.7 meter, sementara kapal phinisi lebarnya 5 meter.

"Kalau kapal phinisi ada kamar mandi di dalam kamar, kalau reguler memang sharing di luar. Lalu, di phinisi karena ruang geraknya lebih luas, ada entertainment seperti karaoke dan rooftop. Kapal regular ada rooftop tapi tidak ada entertainment," jelasnya.

Julio mengatakan, sejak pemerintah melongarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskal Besar (PSBB), wisatawan sudah mulai tertarik untuk kembali berwisata ke Labuan Bajo. Meski grafiknya masih sangat jauh dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama.

"Kalau mau jujur dari bulan Agustus dan September kemarin kita minus besarnya untuk cost maintenance kapal. Oktober sepertinya bisa untung dikit lah. Tapi intinya, di 2020 ini bisa bertahan hidup dan bisa makan udah bersyukur banget," ulasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini