Viral Mukbang Sesajen, Ini Tumbuhan yang Bisa Dimakan saat Tersesat di Hutan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 09 Oktober 2020 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 549 2290807 viral-mukbang-sesajen-ini-tumbuhan-yang-bisa-dimakan-saat-tersesat-di-hutan-1700v2PAuf.JPG Salah satu tumbuhan liar di hutan bisa dikonsumsi untuk bertahan hidup (Foto: Dok. Pribadi/Cakyo Saver Semeru)

MASYARAKAT Indonesia tengah dihebohkan oleh aksi Dede Inoen, seorang YouTuber yang nekat memakan sesajen pesugihan di sebuah hutan. Berdasarkan penjelasannya, Dede mengatakan bahwa memakan sesajen bisa jadi salah satu cara ampuh untuk bertahan hidup kita tersesat dan kehabisan stok makanan saat berada di alam liar.

"Kenapa sesajennya saya makan? Karena takut mubazir bisa untuk survival juga. Paling-paling yang makan bukan genderuwo atau dedemit, paling yang makan satwa. Semisal bajing, musang dan monyet. Monyet juga nggak bakal makan karena bau menyan dan wewangian" papar pria berrambut gondrong itu, seperti dikutip dari kanal YouTubenya, Dede Inoen, Kamis, 8 Oktober 2020.

Menanggapi hal tersebut, relawan Gunung Semeru, Sukaryo alias Cakyo menjelaskan bahwa kejadian seperti ini sebetulnya sudah lazim di temui di kalangan pencinta alam. Namun memang, sebagian besar hanya mengonsumsi makanan tertentu.

"Contohnya di Ranu Kumbolo itu ada prasasti tempat menyimpan sesajen yang isinya makanan dan ada juga hasil bumi yang dibiarkan lama-lama membusuk. Biasanya, yang dimakan pendaki itu ya hasil bumi seperti kentang. Sisa-sisa makanan kan tidak mungkin dimakan karena mungkin sudah tidak layak konsumsi," kata Cakyo saat dihubungi Okezone via telefon.

Baca juga: Siapa Sangka Indonesia Punya Sungai Terpendek di Dunia

Pada dasarnya, lanjut Cakyo, inti dari memberikan sesajen itu bukan di makanannya. Tetapi pesan atau doa saat meletakkan sesajen. Sehingga sah-sah saja bila ada manusia yang mau memakannya, karena berdasarkan pengalaman Cakyo sesajen lebih sering dimakan hewan-hewan liar.

Namun untuk kasus yang satu ini, Cakyo mengimbau agar setiap pendaki atau pencinta alam selalu menghormati kearifan lokal dan kepercayaan penduduk setempat. Bila stok persediaan makanan masih ada, lebih baik mengonsumsi makanan sendiri daripada mengambil dari sesajen.

"Lagian, yang namanya survival kalau sudah tersesat enggak bakal nemu yang namanya sesajen. Kalau nemu sesajen berarti di dekat situ ada warga dan pemukiman. Tapi sebenarnya juga tidak apa-apa kalau dalam keadaan darurat makan hal semacam itu, asal pastikan dulu makanannya layak atau tidak," terang Cakyo.

Lantas, apa saja makanan yang sekiranya dapat dikonsumsi pendaki gunung dan pencinta alam untuk bertahan hidup ketika tersesat? Ada beberapa rekomendasi tumbuhan yang direkomendasikan Cakyo.

"Pohon aren bisa, terus arbei, ciplukan, daun ranti, dan pakis juga bisa dimakan tapi tidak semua. Intinya sebelum mendaki atau menjelajah hutan, bekali diri dengan informasi yang banyak. Termasuk bagaimana cara bertahan hidup ketika tersesat. Untuk makanan darurat misalnya, bisa dicicipi dulu lewat lidah dan bibir. Kalau gatal berarti tidak bisa dimakan," jelas Cakyo.

Sementara untuk sumber mata air pun bisa didapatkan dengan sejumlah cara. Baik menggali di area tertentu hingga mencari cadangan air pada tumbuhan.

"Untuk masalah air tidak harus mencari mata air, bisa mencari kayak semacam lumut. Lumut itukan sifatnya selalu menghindari matahari, jadi cenderung lembab dan basah. Pasti ada cadangan airnya. Tinggal kita ambil saja lumutnya, peras, saring, dan airnya sudah bisa diminum. Sedangkan di area berpasir tinggal cari area serapan air," tutup Cakyo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini