Langkawi Promosikan Wisata Budaya Melalui Film Dokumenter

Mustafidhotul Ummah, Jurnalis · Minggu 11 Oktober 2020 11:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 11 406 2291736 langkawi-promosikan-wisata-budaya-melalui-film-dokumenter-zVXfc9T6wU.JPG Langkawi, Malaysia (Foto: The Star)

LANGKAWI Development Authority (Lada) mengambil pendekatan berbeda untuk mempromosikan wisata budayanya. Mereka mempromosikan wisata budayanya melalui video dokumenter mikro.

Melansir dari laman The Star, Chief Executive Officer Lada, Hezri Adnan menjelaskan bahwa produksi film dokumenter mikro didasarkan pada konsep mendongeng oleh individu atau tokoh terkenal yang terlibat langsung dalam pengembangan industri pariwisata Langkawi.

“Ada 10 video dokumenter mikro yang diproduksi, masing-masing berdurasi antara lima hingga enam menit. Misalnya, kami menampilkan jikey yang merupakan bentuk teater tradisional Melayu yang terkenal di negara bagian utara, tetapi yang lebih menarik di Langkawi, jikey memiliki aspek multikulturalisme, menampilkan budaya Melayu, Cina, dan Thailand," kata Adnan.

Baca juga: 5 Tempat Shopping Paling Top di Bangkok

Hal tersebut ia sampaikan kepada awak media usai acara peluncuran video dokumenter Mikro Langkawi di Laman Padi belum lama ini. Acara tersebut diresmikan oleh Menteri Besar Muhammad Sanusi Md Nor.

Lebih lanjut Adnan mengatakan, Lada sadar betul bahwa pulau ini menerima banyak wisatawan namun lebih fokus pada atraksi yang ada, meski di lokasi wisata internasional seperti di Bali, Indonesia atau Phuket, Thailand berkontribusi memberi pemasukan signifikan bagi penduduk setempat.

“Di Langkawi kita belum cukup menonjolkan produk budaya yang bisa menjadi daya tarik wisatawan, sehingga atas dasar itu, kami merasa perlu untuk meninjau kembali DNA budaya Langkawi yang bisa menjadi atraksi masa depan," tuturnya.

“Sebenarnya, kita mungkin tidak menemukan praktik lokal yang sangat menarik tetapi turis asing atau bahkan dari Kuala Lumpur dan kota-kota besar lainnya mungkin tertarik padanya, dan ini akan menjadi tradisi di pulau ini,” sambung Adnan.

Ia menambahkan, sejauh ini tiga dari 10 film mikro dokumenter yaitu 'Pandai Kayu' (menampilkan arsitektur tradisional Melayu di Langkawi), 'Beras Terbakar' (berlatar lokasi bersejarah) dan 'Gua Pinang' telah diunggah di situs jejaring sosial Lada dan telah mendapat respons baik dari warganet.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini