5 Pantangan Naik Gunung Lawu, Jangan Dilanggar Guys

Senin 12 Oktober 2020 03:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 11 406 2291940 5-pantangan-naik-gunung-lawu-jangan-dilanggar-guys-2f0dC7gIGh.jpg Gunung Lawu. (Foto: Okezone)

ADA pantangan yang harus diperhatikan para pendaki saat naik Gunung Lawu. Pantangan ini perlu dilakukan agar selamat saat mendaki gunung.

Gunung Lawu memiliki pesona berbeda dibandingkan gunung lain di Pulau Jawa. Sejumlah orang menyebut gunung yang berada di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, serta Kabupaten Ngawi dan Magetan, Jawa Timur itu memiliki aura mistis.

Faktanya, sejumlah pendaki pernah mengalami kejadian tertentu saat mendaki di Gunung Lawu. Salah seorang teman mengaku mendaki Lawu dan menyelingi pendakian dengan guyon.

Saat itu, dia merasa perjalanan hingga puncak terasa lama dan berputar-putar di tempat yang sama. Setelah menyadari kesalahannya, dia mengaku perjalanan ke puncak Lawu kembali lancar.

Dibenarkan Kepala Disparpora Karanganyar, Titis Sri Jawoto, dan Koordinator Lapangan Bidang Destinasi Disparpora Karanganyar, Nardi, bahwa banyak mitos saat naik Gunung Lawu bagi para pendaki.

Dilansir Okezone dari Solopos, berikut sejumlah pantangan, seperti pakaian dan perilaku yang tidak boleh dilakukan saat mendaki Lawu. Yuk simak!

Jangan Berniat Tidak Baik

 Gunung

Pendaki tidak boleh memiliki niat kurang baik saat hendak mendaki Gunung Lawu. Nardi menuturkan niat kurang baik tidak hanya dilarang saat mendaki Gunung Lawu. Tetapi, melakukan aktivitas apa pun harus didahului dengan niat baik.

"Mendaki harus ada niat dulu. Pendaki tahunya di medsos kok bagus pemandangan. Lawu itu kan sebetulnya untuk laku spiritual. Sekarang kan menjadi wisata selfie," tutur Nardi.

Dia juga menyebut pendaki tidak boleh fokus pada ambisi sampai ke puncak. Nardi menyebut puncak Gunung Lawu sebagai bonus pendakian.

"Nah puncak itu bonus. Pendaki jangan terfokus pada ambisi sampai puncak. Tetapi dinikmati prosesnya. Paling enggak, jalan itu meluruskan niat," ungkap dia.

Jangan Bercanda

Aturan lain adalah pendaki tidak boleh bercanda selama mendaki Gunung Lawu. Nardi menyebut segala aturan yang diterapkan pemerintah tidak boleh mengesampingkan aturan adat yang telah dilakukan secara turun temurun.

"Makanya kan aturan pendaki yang dikeluarkan pemerintah itu sebagai pelengkap. Pendaki juga harus menaati aturan adat. Enggak boleh guyon keterlaluan. Di bagian mana pun Lawu itu memiliki aura mistis sangat tinggi," tutur dia.

Titis pun sepakat dengan hal itu. Tetapi, dia menganalogikan larangan guyon di Gunung Lawu dengan kemungkinan pendaki menjadi tidak konsentrasi karena terlalu asyik guyon sehingga tersesat.

"Ya kalau itu sebetulnya etika, di manapun enggak boleh guyon. Kan perlu konsentrasi khusus. Kalau celelekan itu kan mengurangi konsentrasi sehingga akan berisiko tersesat lah, ketinggalan dari teman satu rombongan," ungkapnya.

Dilarang Mengeluh

Aturan lain yang tidak tertulis saat mendaki Gunung Lawu dilarang sambat. Pendaki tidak boleh mengeluh lelah, dingin, dan lain-lain. Nardi mengingatkan pendaki agar menikmati proses pendakian hingga puncak.

"Enggak boleh sambat kok dingin, kok capai itu enggak boleh. Menahan lisan. Kalau capai ya duduk sebentar tapi jangan sambat. Dingin ya dinikmati," tutur dia.

Setiap pendaki yang hendak naik ke Gunung Lawu melalui jalur pendakian Candi Ceto, akan mendapat pengarahan. Salah satunya tentang estimasi perjalanan.

"Lokasi camping paling aman itu di pos lima. Tapi kalau pendaki sembrana ya dia menghabiskan waktu istirahat lama di pos satu. Santai-santai keasyikan selfie. Tiba-tiba sudah larut malam, kehabisan bekal. Jadi saya sarankan pendaki mengatur waktu agar sehat dan selamat hingga kembali ke pos pendakian," ungkap dia.

Hindari Pakaian Mrutu Sewu

Soal pakaian, Titis menyebut pendaki tidak boleh mengenakan pakaian maupun atribut apa pun dengan motif mrutu sewu. Titis menyebut motif itu akan menjadi terlihat samar saat berada di antara pepohonan.

"Itu menurut filosofi tradisional. Sebenarnya kalau soal percaya tidak percaya, tapi kalau secara logika misalnya tidak boleh pakai motif mrutu sewu. Itu nanti kalau dia agak jauh dari teman-temannya enggak bisa kelihatan. Secara logika masuk akal. Ya ada yang percaya kalau itu enggak bagus untuk naik gunung," ujar dia.

Jangan Pakai Baju Hijau Pupus

 

Terakhir, pendaki tidak boleh mengenakan pakaian maupun atribut berwarna hijau pupus. Warna hijau menyerupai dedaunan. Nardi mengungkapkan mitos itu sudah berkembang sejak dulu.

"Tetapi sebetulnya bisa dinalar kok. Kalau pakai atribut, pakaian warna hijau pupus menyerupai dedaunan maka saat terpisah dari rombongan akan susah ditemukan. Ijo pupus itu kan warna alam," urai dia.

Nardi berharap pendaki menaati aturan pemerintah. Di sisi lain, aturan tidak tertulis warisan nenek moyang juga tidak bisa ditinggalkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini