5 Pantangan Naik Gunung Lawu, Jangan Dilanggar Guys

Senin 12 Oktober 2020 03:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 11 406 2291940 5-pantangan-naik-gunung-lawu-jangan-dilanggar-guys-2f0dC7gIGh.jpg Gunung Lawu. (Foto: Okezone)

Dilarang Mengeluh

Aturan lain yang tidak tertulis saat mendaki Gunung Lawu dilarang sambat. Pendaki tidak boleh mengeluh lelah, dingin, dan lain-lain. Nardi mengingatkan pendaki agar menikmati proses pendakian hingga puncak.

"Enggak boleh sambat kok dingin, kok capai itu enggak boleh. Menahan lisan. Kalau capai ya duduk sebentar tapi jangan sambat. Dingin ya dinikmati," tutur dia.

Setiap pendaki yang hendak naik ke Gunung Lawu melalui jalur pendakian Candi Ceto, akan mendapat pengarahan. Salah satunya tentang estimasi perjalanan.

"Lokasi camping paling aman itu di pos lima. Tapi kalau pendaki sembrana ya dia menghabiskan waktu istirahat lama di pos satu. Santai-santai keasyikan selfie. Tiba-tiba sudah larut malam, kehabisan bekal. Jadi saya sarankan pendaki mengatur waktu agar sehat dan selamat hingga kembali ke pos pendakian," ungkap dia.

Hindari Pakaian Mrutu Sewu

Soal pakaian, Titis menyebut pendaki tidak boleh mengenakan pakaian maupun atribut apa pun dengan motif mrutu sewu. Titis menyebut motif itu akan menjadi terlihat samar saat berada di antara pepohonan.

"Itu menurut filosofi tradisional. Sebenarnya kalau soal percaya tidak percaya, tapi kalau secara logika misalnya tidak boleh pakai motif mrutu sewu. Itu nanti kalau dia agak jauh dari teman-temannya enggak bisa kelihatan. Secara logika masuk akal. Ya ada yang percaya kalau itu enggak bagus untuk naik gunung," ujar dia.

Jangan Pakai Baju Hijau Pupus

 

Terakhir, pendaki tidak boleh mengenakan pakaian maupun atribut berwarna hijau pupus. Warna hijau menyerupai dedaunan. Nardi mengungkapkan mitos itu sudah berkembang sejak dulu.

"Tetapi sebetulnya bisa dinalar kok. Kalau pakai atribut, pakaian warna hijau pupus menyerupai dedaunan maka saat terpisah dari rombongan akan susah ditemukan. Ijo pupus itu kan warna alam," urai dia.

Nardi berharap pendaki menaati aturan pemerintah. Di sisi lain, aturan tidak tertulis warisan nenek moyang juga tidak bisa ditinggalkan.

(dwk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini