Alasan Diskotek dan Tempat Karaoke di Jakarta Tutup Selama PSBB Transisi

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 16 Oktober 2020 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 16 406 2294565 alasan-diskotek-dan-tempat-karaoke-di-jakarta-tutup-selama-psbb-transisi-plkGYTZKux.jpg Aktivitas di diskotek (Foto: Ithaka)

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menetapkan masa transisi PSBB. Itu artinya, sejumlah objek wisata sudah dapat beroperasi kembali. Meski demikian, ada beberapa peraturan baru yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta guna memutus mata rantai penularan.

Kebijakan pertama terkait jumlah kuota wisatawan yang sebelumnya 50 persen dari kapasitas maksimal tempat, dikurangi hingga 25 persen.

"Penetapan kuota 25 persen itu bukan berarti seterusnya. Ibarat kata untuk 'cek ombak dulu'. Nanti akan dievaluasi dalm kurun waktu 2 minggu ke depan. Kalau tidak ada masalah atau tidak terjadi klaster baru, jumlah kuota pasti akan ditingkatkan lagi," ujar Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Gumilar Ekalaya, dalam webinar International MICE Expo, Kamis, 15 Oktober 2020.

Kebijakan ini, lanjut Gumilar, setidaknya dapat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk kembali berwisata. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga sepakat untuk menunda pembukaan beberapa fasilitas dan tempat tertentu yang disinyalir bisa memicu terjadinya penyebaran virus corona.

Baca juga: Indahnya Pantai Ngledakan Ciut, Tersembunyi di Balik Hutan Malang

Contohnya diskotek atau tempat hiburan malam, spa, karaoke, dan kolam renang. Gumilar mengatakan bahwa hal ini berkaitan dengan pelaksanaan protokol kesehatan di tempat tersebut.

"Ada beberapa sektor yang belum berani kami buka seperti diskotek dan karaoke, karena memang agak sulit menemukan formulasi protokol kesehatannya seperti apa," kata Gumilar.

Crowd atau pengunjung diskotik dan karaoke pun cenderung tidak bisa diprediksi. Ditambah lagi dengan kondisi ruangannya yang indoor. Ini tentu berbeda dengan event-event MICE yang relatif masih bisa dimonitor, baik dari segi peserta maupun tempat.

"Kecuali event-event outdoor seperti konser memang belum ada formulasinya," imbuhnya.

Gumilar pun berharap agar kondisi segera membaik. Pasalnya, pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul sejak pandemi Covid-19 melanda. Pemerintah pun telah menyiapkan program khusus, guna menstimulus sektor tersebut.

"Ini seperti buah simalakama bagi kami. Pilihannya antara kesehatan dan ekonomi. Kita mencari titik tengah supaya kesehatan tetap terjaga dan perekonomian tidak ambruk. Dari sektor pariwisata sudah terlihat hampir terjun bebas. Kalau tidak segera dibantu, akan berdampak pada pembangunan-pembangunan di tahun mendatang.

"Saya ingin mengimbau masyarakat agar tetap tegakkan protokol kesehatan di mana pun mereka berada. Karena tidak bisa hanya industri saja yang bekerja, kita harus bersama-sama agar grafiknya (penyebaran kasus Covid-19) melandai," tutup Gumilar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini