Benarkah Ada Putri Duyung di Danau Sentani?

Edy Siswanto, Jurnalis · Senin 26 Oktober 2020 17:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 26 406 2299816 benarkah-ada-putri-duyung-di-danau-sentani-Ii1bWBLdu5.jpg Danau Sentani, Jayapura, Papua (Foto Indonesia.Travel)

PENELITIAN Balai Arkeologi Papua di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura mengungkapkan makna di balik ukiran motif putri duyung berwarna hitam putih yang ditemukan pada tiang rumah adat Suku Sentani atau Obhee.

Putri duyung digambarkan sebagai sosok perempuan cantik berambut panjang tergerai yang setengah ke bawah tubuhnya seperti ikan bersisik dan berekor.

 ilustrasi

Menurut Corry Ohee, pegiat seni dan budaya leluhur Sentani, nenek moyang Suku Sentani berasal dari Lautan Teduh atau wilayah Pasifik. Mereka berlayar ke Danau Sentani yang dulunya adalah lautan.

"Nenek moyang kami orang Pasifik. Jadi dulu (Danau Sentani) ini adalah laut, dan ukiran putri duyung ini menggambarakan sejarah masa lalu. Dan kemungkinan memang ada putri duyung di sini," kata Corry, Senin (26/10/2020).

Baca juga:  7 Tempat Wisata Belanja Terbaik di Bali, Nomor 6 Lokasi Syuting Film Hollywood

Daud Wally, tokoh masyarakat Kampung Dondai mengungkapkan makna ukiran putri duyung di rumah warga setempat.

"Ukiran putri duyung berfungsi sebagai pengingat bahwa leluhur masyarakat Sentani berasal dari Pasifik di sebelah timur Sentani. Saat ini putri duyung telah menjadi lambang marga di Danau Sentani bagian barat," katanya.

 

Peneliti senior Balai Arkeologo Papua, Hari Suroto mengatakan, ukiran putri duyung memang bukti cerita rakyat soal orang Pasifik adalah leluhur warga Sentani.

"Putri duyung dikenal dalam cerita rakyat digambarkan hidup di lautan. Secara ilmiah duyung disebut dugong dugon. Dugong bukanlah sejenis ikan, tetapi tergolong dalam hewan mamalia laut pemakan tumbuhan lamun. Padang lamun banyak ditemukan di teluk-teluk perairan Pasifik selatan," katanya.

Bukti yang turut menguatkan terkait Danau Sentani yang dulunya laut dan keberadaan orang Pasifik adalah adanya motif hewan laut lain yang juga sangat dipercaya masyarat Sentani pernah ada di Danau Sentani di masa lalu. Proses geologi membuat air laut berubah menjadi danau air tawar.

"Penelitian di Obhee Kampung Dondai juga menemukan ukiran ikan hiu gergaji di tiang rumah. Pada masa lalu, sebelum kehadiran manusia, Danau Sentani adalah laut yang menjadi habitat fauna laut termasuk ikan hiu gergaji,” ujarnya.

“Proses geologi menjadikan Laut Sentani menjadi sebuah danau air tawar, ikan hiu gergaji kemudian beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ikan hiu gergaji terakhir ditangkap di Danau Sentani pada tahun 1970-an."

Diakui Hari, ikan hiu gergaji menjadi sumber inspirasi seni oleh manusia prasejarah hingga seni Sentani masa kini. Beberapa motif ikan hiu ini ditemukan di Situs Tutari dan diabadikan diberbagai bangunan atau rumah warga Sentani.

"Motif ikan hiu gergaji didigoreskan pada bongkahan batu Situs Megalitik Tutari. Motif ikan hiu digoreskan pada tiang rumah Obhee, serta motif ikan hiu gergaji juga digambarkan dalam lukisan kulit kayu Asei,"katanya.

Hari juga memaparkan penemuan arkeologi berupa cangkang moluska laut Verenidae dan Arcidae di situs prasejarah Yomokho, Kampung Dondai. Keberadaan cangkang moluska laut membuktikan bahwa manusia prasejarah yang menghuni Situs Yomokho telah melakukan kontak dengan masyarakat pesisir dalam beraktivitas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini