Membuka Asa Wisata Pantai Pening, Kampung Terisolasi Sejak Zaman Belanda

Taufik Budi, Jurnalis · Rabu 28 Oktober 2020 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 27 406 2300472 membuka-asa-wisata-pantai-pening-kampung-terisolasi-sejak-zaman-belanda-J4A6jcrg6v.jpg Pantai di Dusun Pening, Desa Sendang Kulon, Kcematan Kangkung, Kendal, Jawa Tengah (Okezone.com/Taufik Budi)

DUSUN Pening, demikian nama permukiman di pesisir Pantai Utara Laut Jawa, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Entah akibat “kutukan” nama pening yang berarti pusing, sebanyak 120 keluarga di kampung tersebut terisolasi akibat buruknya jalan sejak zaman Hindia Belanda.

Permukiman itu berada di Desa Sendang Kulon, Kecamatan Kangkung, Kendal. Jaraknya dari pusat Kota Kendal juga tak terlalu jauh, hanya berkisar 17 kilometer. Namun akses jalan satu-satunya sangat sulit ditembus meski dengan berjalan kaki.

Baca juga:  Naik Gunung saat Libur Panjang Oktober 2020, Wajib Perhatikan Hal Ini! 

“Warga sejak dulu sampai sekarang di umur saya 52 tahun, jalan ini belum kesentuh pembangunan. Kalau musim rendeng (hujan) enggak bisa lewat. Kalau ada kematian tidak bisa melayat,” kata seorang warga Sendang Kulon, Khomsan, baru-baru ini.

“Apalagi kalau ada yang akan melahirkan, susah sekali. Dulu pernah ketika mau ke rumah sakit atau bidan sampai pecah ketuban saat masih di pertengahan (jalan) sini. Jalannya setengah mati susahnya. Lumpur setinggi lutut,” tambahnya.

Jalan yang berubah menjadi kubangan lumpur ketika dilanda hujan, berdampak langsung pada semua kegiatan warga. Mayoritas petani dan nelayan di kampung tersebut kesulitan ke pasar untuk menjual hasil bumi maupun tangkapan ikan.

Baca juga:  Pulau Rinca Ditutup, Ini 6 Fakta Unik Komodo yang Wajib Diketahui

Demikian pula, kegiatan belajar-mengajar SDN 04 Sendang Kulon kerap kali terhenti, karena guru-guru tidak bisa datang ke sekolah. Selepas lulus SD, banyak anak-anak yang memilih bekerja dan melanjutkan sekolah karena kesulitan menempuh perjalanan ke SMP di luar kampung.

Menurutnya, terdapat mimpi warga yang mengembangkan potensi sumber daya alam yang selama ini dipendam. Pantai di ujung kampung, memiliki pesona keindahan tak kalah dibanding pantai lain yang kerap muncul di layar kaca atau pemberitaan media.

 

Birunya air laut dan hijaunya tumbuhan pandan menghampar di bibir pantai. Tempat ini juga memiliki garis pantai yang panjang dan luas. Apalagi, ombak di pantai ini dikenal memiliki karakteristik landai sehingga aman untuk bermain anak-anak. Dengan pesona tersebut, mestinya Pantai Pening menjadi pilihan wisata.

Namun, selama bertahun-tahun harapan mengelola wisata pantai harus dikubur dalam-dalam. Bukan hanya wisatawan yang bakal kesulitan ke lokasi, warga setempat pun tak bisa berbuat banyak ketika hendak keluar-masuk kampung.

Baca juga:  5 Destinasi Wisata Air Eksotis di Klaten, Mana Kesukaanmu?

“Kalau mau langsir (angkut) dua karung hasil panen saja sudah ongkosnya berapa sampai sana (luar kampung). Paling hanya mampu dua karung, itu pun biayanya besar. Padahal di Pening ada pantai yang bagus,” lugasnya.

Mimpi warga untuk mengelola wisata pantai sekaligus meningkatkan perekonomian menemukan titik terang. Akses jalan yang menghubungkan Dusun Pening dengan Dusun Kacangan, Desa Sendang Kulon didatangi TNI.

Satgas TNI Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-109 Kodim 0715/Kendal diterjunkan untuk membangun jalan. Material bangunan seperti batu dan pasir menjadi gundukan-gundukan kecil di sepanjang jalan.

 ilustrasi

Bersama warga setempat, TNI memulai pekerjaan dengan menguruk badan jalan. Mereka juga kompak membuat komposisi adukan pasir, batu, dan semen untuk bahan cor beton. Langkah ini menjadi perhatian utama, karena akan menjamin kualitas konstruksi hingga beberapa tahun ke depan.

“Antusias sekali warga sini. Ini yang dari Pening setiap hari mengirim 7 orang. Dari kelompok tani 10 orang setiap hari. Terus yang dari warga dari RT itu 20 orang tiap hari. Sendang Kulon ada 26 RT, jadi setiap RT juga mengirim orang,” beber dia.

Meski di bawah terik matahari, tak menyurutkan mereka untuk segera merampungkan pembangunan. Sejak pembukaan TMMD pada 22 September, betonisasi terus dikebut. Targetnya, pembangunan jalan sepanjang 1.200 meter, lebar 3 meter, dan tebal 15 sentimeter selesai sebelum penutupan 23 Oktober.

“Semuanya mendukung. Alhamdulillah ini dapat hidup rukun. Semuanya membantu adanya program TMMD Reguler tahun 2020 ini. Saya mewakili dari kelompok tani mengucapkan beribu-ribu terima kasih terhadap bapak-bapak yang tergabung dalam Satgas TMMD tahun 2020,” tandasnya.

Selain jalur yang kini telah mulus, ruas jalan tersebut juga dilengkapi lampu penerangan. Terdapat 30 titik lampu penerangan menggunakan teknologi tenaga surya, sehingga ramah lingkungan dan tak perlu dibebani tagihan bulanan.

Akses jalan ini tentu bukan mendongkrak perekonomian masyarakat namun menjadi harapan besar meningkatkan layanan pendidikan dan kesehatan. Selain itu, mimpi masyarakat untuk mengelola wisata pantai bakal segera terwujud.

“Terima kasih sekali kepada bapak-bapak tentara yang satu bulan ini membangun jalan. Harapannya memang pantai ini nanti menjadi destinasi wisata. Bukan hanya lokal tapi kalau bisa juga nasional, karena sini pantainya bagus,” ungkap seorang warga, Miswanto.

 

Pria yang akrab disapa Bang Mis itu mengaku akan membuka rumah makan dengan menu-menu khas pesisir Kendal. Sajian kuliner menjadi bagian penting dalam pariwisata sehingga menu dan cita rasa mesti dikelola dengan baik.

“Kemarin warga juga sudah mendapat pembekalan tentang pelatihan kuliner khas pesisir dalam rangkaian TMMD ini. Saya juga menyiapkan menu khas nanti bila wisatanya sudah dibuka, semoga laris,” ujar dia.

Dandim 0715/Kendal Letkol Inf Iman Widhiarto, menyampaikan, pihaknya sengaja melaksanakan TMMD Reguler ke-109 di Sendang Kulon untuk membuka akses warga Dusun Pening. Apalagi, warga setempat sejak dulu kesulitan keluar-masuk kampung.

“Tujuannya adalah untuk membuka keterisoliran dari Dusun Pening yang konon ceritanya, menurut masyarakat sudah sejak Indonesia merdeka sampai dengan sekarang itu belum tersentuh dengan pembangunan, 75 tahun ini,” kata Iman.

Warga Dusun Pening terisolasi selama bertahun-tahun akibat sengketa kewilayahan. Sebab, secara administratif wilayah dusun itu ini tanahnya terdaftar sebagai area Desa Sendang Sikucing Kecamatan Rowosari. Namun secara kependudukan, warga dusun ini adalah terdaftar sebagai penduduk desa Sendang Kulon Kecamatan Kangkung.

“Jadi konflik inilah yang menyebabkan jalan atau akses jalan menuju ke sana itu, dari mengalokasikan dana desanya juga tidak mau. Desa Sendang Kulon juga tidak mau karena akan dibangun di wilayah Sendang Sikucing. Sementara penduduknya kalau pemilihan kepala desa enggak nyoblos ke Sendang Sikucing. Tantangan itu dalam TNI melaksanakan programnya tidak bersekat sekat oleh kewilayahan,” jelas dia.

Dalam penelusuran sejarah, buruknya akses jalan di Dusun Pening bukan hanya terjadi sejak Indonesia merdeka. Bahkan sarana dan prasarana jalan menuju dusun itu juga tak pernah mendapatkan aspal dari pemerintahan Hindia Belanda.

Sebab, Pemerintah kolonial Hindia Belanda lebih memilih membangun jalur kereta pengangkut tebu dibanding menyediakan jalan beraspal bagi penduduk lokal.

Kala itu, Pening menjadi salah satu lokasi perkebunan tebu yang menjadi komoditas utama ekonomi masa kolonial melalui Pabrik Gula Tjepiring yang didirikan mulai 1835. Sejarah itu ditulis Leonie Van Daalen, seorang anak petinggi Pabrik Cepiring yang kini bermukim di Belanda. Artikel berjudul “Military In Tjepiring” itu ditulis pada tahun 1949, terbitan Javascript.

Pening bukan hanya lokasi perkebunan tebu, namun lokasi pantai juga strategis dan memiliki kontur tanah yang bagus untuk sistem pertahanan. Disebutkan, pantai tersebut dulunya merupakan tempat pendaratan pasukan Belanda. Sehingga pembangunan akses jalan tidak hanya untuk menunjang perekonomian dan wisata, tetapi sekaligus untuk pertahanan militer.

“Dari aspek pertahanan kalau kita membuat kontur pantai ini Itu pantainya landai jadi sangat cocok dalam strategi pertahanan militer, untuk daerah pendaratan (kapal). Daerah pertahanan pantai tersebut yang menyebabkan di situ memiliki nilai strategis pertahanan dan keamanan untuk menjaga keutuhan NKRI,” pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini