Gaya Traveling Baru di Era Corona

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 27 Oktober 2020 22:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 27 406 2300565 gaya-traveling-baru-di-era-corona-0PcInApGKc.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

PANDEMI Covid-19 mengubah segalanya. Termasuk gaya traveling seseorang yang harus menerapkan protokol kesehatan.

Banyak kota wisata di Tanah Air telah membuka pintu wisatawan. Seperti Bali, yang menjadi destinasi andalan para turis dengan gaya traveling baru.

Tak hanya tempat wisata, toko-toko dan pub di kawasan Legian Kuta yang sebelumnya tutup, kini perlahan mulai buka. Menerapkan protokol kesehatan yang begitu ketat, pub di Legian mulai ramai pengunjung dengan jumlah terbatas.

“Makanya kita kumpulkan semua pelaku pariwisata. Kuncinya biar transaksi terjadi,” kata Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelengaraan Kegiatan Kemenparekraf, Rizky Handayani Mustafa, Jumat 16 Oktober 2020.

Bekerja sama dengan MNC Group, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggagas gelaran Indonesia Corporate Travel and Mice (ICTM) sejak Kamis 15 Oktober 2020 hingga Sabtu 17 Oktober 2020.

Di sana transaksi di dunia pariwisata terjadi, buyer (pembeli) merupakan coorporate, perseorangan, maupun wisatawan dihadapkan dengan seller (penjual), pemilik tempat dan agen pariwisata.

Selama seharian, keduanya saling berkomunikasi, seller yang menawarkan sejumlah produk produk mulai dari hotel, paket wisata, hingga lainnya. Mereka kemudian diberi waktu 5 menit untuk mempresentasikan keunggulan tempatnya.

Sales Bali Rural Commune, Pande Widya Rahmadewi mengungkapkan semenjak pandemik dirinya kesulitan mencari sejumlah wisatawan. Ratusan wisatawan asing yang biasanya hadir di sana mulai tak terlihat sejak Maret 2020.

Pandemi Covid-19 juga telah menghancurkan layanan desa wisata yang berada di kawasan Bangli, Bali. Sejak saat itu kunjungan wisata yang biasanya terjadi dua kali seminggu nyaris tak pernah terjadi.

Melalui ICTM, upaya menghidupkan Bali mulai dilakukan melalui gaya traveling baru. Konsep liburan diubah dengan menggunakan protokol kesehatan.

Pendiri Asosiasi Wisata Media Indonesia (AWMI) dr Tony Surgeon menyambut baik gelaran ICTM yang dilakukan Kemenparekraf. Dia melihat upaya ini akan merangsang wisata di Bali, ekonomi masyarakat akan kembali hidup.

Dia melihat tanpa upaya ini, bukan tak mungkin bali akan tenggelam. Terlebih masyarakat disana sangat bergantung dari dunia pariwisata.

“Kalau sampai enam bulan lagi tidak ada langkah. Bukan tak mungkin Bali makin terpuruk, makanya saya menyambut baik kegiatan ini,” katanya di sela-sela acara.

Sebagai peserta, Toni melihat protokol kesehatan yang di jalankan Kemenpar sangat baik, khususnya dalam mengatur rombongan yang ikut ke Bali. Ancaman cluster baru covid bisa terjadi setiap saat.

Karena itu, sebelum memberangkatkan rombongan, upaya pencegahan dilakukan dengan melakukan swab test kepada semua peserta. Mereka yang terbukti negatif Covid-19 bisa berangkat ke Bali.

Selama berlibur, nantinya peserta diawasi dengan ketat. Penggunaan masker tak lepas selama di Bali, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

“Saat sampai di Jakarta, peserta kemudian melakukan tes swab kembali. Sambil menunggu hasil mereka nantinya akan dikarantina dahulu,” kata Toni sambil mengatakan hasil swab bisa dilakukan kurang dari semalam.

Hanya saja untuk menerapkan ini, Toni mengatakan pemerintah harus bekerja sama dengan negara lain. Persamaan tentang swab test bisa dilakukan dengan merujuk standar WHO.

Ciptakan Aplikasi Medis

Dokter spesialis bedah di salah satu rumah sakit swasta ini mengakui, selama pandemik banyak masyarakat ketakutan akan rumah sakit. Rumah sakit tak lagi nyaman karena ancaman virus tertular, industri kesehatan ikut alami penurunan pendapatan selama Covid-19.

“Warga kemudian ketakutan, makanya saya dan teman teman merancang sistem teknologi baru,” ucapnya.

Melalui sistem aplikasi, Toni mengatakan kontrol kesehatan bisa di jaga. Sistem GPS pada ponsel smartphone akan menjadi kunci dalam aplikasi ini.

Selain itu, melalui rekam medis digital. Pihaknya bisa mengetahui tracking masyarakat. Mereka yang positif dan telah di tes covid akan terlihat. Zona merah dan hijau dapat terpantau melalui layar smartphone.

“Dari sini kami akan melihat pembagian zona merah dan hijau. Jadi masyarakat akan menjadi aware dalam setiap liburan,” katanya.

Layanan Dokter Rumah

 

Termasuk ketika terjadi ganguan medis, dengan menggandeng sejumlah tenaga medis berkompeten dan lolos tes Covid-19. Pasien sakit dapat diperiksa.

“Sistem tak jauh beda dengan layanan ojek online. Ketika pasien membutuhkan bantuan, dokter terdekat akan datang ke tempat pasien,” kata Toni.

Di sana mereka akan melakukan pemeriksaan kondisi lalu menganalisis penyakit pasien. Dengan demikian pasien tak perlu ke rumah sakit saat pemeriksaan. Bahkan perawatan bisa dilakukan dari rumah. “Pada dasarnya penyakit seseorang harus dianalisis terlebih dahulu. Nah ini belum banyak dilakukan oleh aplikasi lainya,” tuturnya.

Dengan melalui aplikasi HomyCare, Toni mengatakan masalah itu dapat teratasi. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan pelayanan medis dan wisata kesehatan lainnya. “Jadi bisa dikatakan ini wisata medis yang baik,” kata Founder Homy Care, Toto Dinar Wijaksono.

Selain itu, terhadap gaya traveling baru, Toto mengatakan kompetisi di dunia medis akan terlihat. Para tenaga media kian lebih perhatian terhadap pasiennya, sebab monitoring pasien akan terus dilakukan secara digital.

“Dengan demikian tenaga medis akan sangat berkualitas,” katanya.

Saat ini terhadap aplikasi itu, Toto mengatakan pihaknya bakal melakukan pelatihan bersama sejumlah tenaga medis. Perumusan SOP akan dilakukan kualitas tenaga medis kian baik.

Selain itu, pihaknya juga bakal melakukan pendekatan dengan Kemenkes dan Kemenpar agar aplikasi ini resmi dipergunakan di Indonesia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini