Tak Diadakan karena Covid-19, Yuk Kenali Apa Itu Upacara Sekaten

Wiji Adinda Putri, Jurnalis · Rabu 28 Oktober 2020 19:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 28 406 2300893 tak-diadakan-karena-covid-19-yuk-kenali-apa-itu-upacara-sekaten-eBJXxW2Bso.jpg Sekaten. (Foto: Kemenparekraf)

KARENA memicu klaster baru Covid-19, rangkaian perayaan Sakaten di Yogyakarta ditiadakan. Sayang sekali, wisatawan yang liburan ke Yogyakarta pun tidak bisa menikmati acara tahunan ini.

Carik Tepas Museum Kraton Yogyakarta RA. Siti Amieroel N mengatakan, pada perayaan Sekaten di tengah pandemi Covid-19 terpaksa tidak digelar. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko penularan Covid-19.

"Upacara berpotensi mendatangkan massa, maka ditiadakan," katanya dikutip Okezone dari keterangan resminya.

Perlu diketahui, Upacara Sekaten merupakan sebuah tradisi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW oleh Keraton Yogyakarta, jatuh pada 22-29 Oktober 2020 (tanggal 5-12 Rabi’ul Awal). Perayaan Sekaten biasanya berlangsung 7 hari berturut-turut, melalui beberapa tahapan prosesi.

Sebelum memulai semua rangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, para abdi dalem yang akan terlibat atau berperan dalam prosesi ini diwajibkan untuk mempersiapkan diri baik lahir maupun batin. Sebab serangkaian kegiatan yang akan dilakukan dianggap amat sakral.

Baca Juga: 8 Sajian Rujak dari Aceh Hingga Bali, Mantap Betul!

Setelah usai dengan semua persiapan, baik para abdi dalem maupun perlengkapan ritual lainnya, masuklah pada prosesi perayaan. Sebagai tanda dari dimulainya Upacara Sekaten sejak tanggal 5 Rabi’ul Awal adalah dengan membunyikan dua perangkat gamelan sakral yaiu Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga. Pembukaan Upacara Sekaten tersebut berlangsung di Bangsal Ponconiti yang tepatnya berada di tengah halaman Kompleks Kamandhungan Kidul (Keben).

Prosesi awal ini dilakukan pada pukul 16.00 WIB dengan penyusunan posisi gamelan pada dua titik. Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu diletakkan dengan rapih pada Tratag bagian Timur, sedangkan Kanjeng Kyai Nagawilaga pada Tratag bagian Barat. Gamelan dilantunkan hingga malam hari sekitar pukul 23.00 WIB.

Selama prosesi awal ini berlangsung, biasanya disusul dengan tradisi penyebaran udhik-udhik (uang yang disebar) oleh Sri Sultan. Upacara tradisi udhik-udhik ini memiliki makna atau simbolis menyebarkan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Selanjutnya pemindahan gamelan pun dilakukan menuju ke Pagongan yang berada di halaman Masjid Gedhe Kauman. Upacara Sekaten yang telah dimulai tersebut terus mengalunkan gamelan selama 7 hari, terkecuali diwaktu salat, hari Kamis malam hingga usai salat Jum’at. Dua gamelan sakral tersebut pun berbunyi silih bergantian dengan iringan gending (musikal karawitan) yang telah ditentukan.

 

Selama rangkaian perayaan berlangsung, terdapat pula tradisi Grebeg Muludan dan Numplak Wajik. Perlu Okezoners ketahui bahwa Grebeg Muludan merupakan bagian dari acara puncak perayaan Upacara Sekaten. Diadakannya tepat kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu tanggal 12 Rabi’ul Awal, dan dilangsungkan mulai pukul 08.00-10.00 WIB.

Dalam pelaksanaan tradisi Grebeg Muludan, adanya pengawalan dari 10 Prajurit Keraton, yaitu Wirabraja, Dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrijero, Surakarsa, dan juga Bugis. Lalu ada pula syarat dari tradisi ini adalah pembuatan Gunungan. Gunungan merupakan sebuah simbol kesejahteraan yang dibentuk dari beras ketan, beberapa makanan, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Gunungan tersebut dikeluarkan atau dibawa dari titik awal Istana Kamandhungan menuju Masjid Gedhe Kauman (Masjid Agung), dengan melewati Keraton Pagelaran dan juga Sitihinggil.

Selanjutnya ada Tradisi Numplak Wajik, yang dijadikan tanda dimulainya prosesi Gunungan. Tradisi satu ini dilakukan sejak 4 hari sebelum Tradisi Grebeg Muludan dilaksanakan. Rangkaian yang dilakukan pada halaman Istana atau Bangsal Magangan pada pukul 16.00 WIB. Numplak Wajik dilakukan dengan memainkan beberapa lagu dengan iringan kentongan, lumpang (penumbuk padi), dan alat lain yang menjadi bentuk pembuatan dari tradisi Gunungan.

Biasanya momen yang paling khas dari perayaan Sekaten adalah digelarnya pasar malam (Sekatenan) selama 40 hari, dimulai saat masuk bulan Safar atau bulan kedua dari kalender Islam.

Namun yang sangat disayangkan adalah pada perayaan tahun ini diakibatkan dengan maraknya pandemi Covid-19, sehingga beberapa rangkaian termasuk kemeriahan pasar malam (sekatenan) terpaksa untuk ditiadakan. Rangkaian prosesi lainnya yang ditiadakan salah satunya adalah Grebeg Muludan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini